Bagi kita sebagai bikers, safety riding sudah merupakan kewajiban yang berdasarkan kesadaran yang pada intinya untuk diri kita sendiri. Bagi produsen, safety riding pun punya arti tak kalah penting, bahkan sangat penting bagi ke-safety-an karier mereka sebagai produsen motor.

Kenapa sangat penting? Kok produsen sangat memperhatikan keselamatan bikers? Kok kaya yayasan aja? Begini Bro, produsen motor itu kan perusahaan, tujuannya pada intinya ya mencari keuntungan. Kalau produsen mengkampanyekan safety riding, bukan berarti mereka memiliki “tujuan mulia” layaknya yayasan, tetapi ada tujuan lain yang sebenarnya ada di situ: mencari untung!

1. Sekarang perhatikan saja dibalik media-media yang digunakan untuk mengampanyekan safety riding, apakah nama atau logo si produsen tidak terlampir di media-media yang mereka gunakan untuk mengampanyekan safety riding? Sebagai contohnya, lihat nih artikel dari warung pink:
http://jombloati.wordpress.com/2010/03/01/iseng-iseng-foto-himbauan-safety-riding-surabaya

Nah, enak kan, bisa beriklan sekaligus mewujudkan langkah sumbangsih sosial sebuah perusahaan untuk masyarakat. Dengan banyaknya iklan yang sambil menyelam minum pertamax ini, secara tidak langsung produsen menanamkan image baiknya di masyarakat.

2. Safety riding buat mendukung kebijakan marketing! Oke, kita bicara terbuka saja… Di acara ultah KOBOI lalu, motor apakah yang dikedepankan pihak AHM sebagai sponsor? Jawabnya: bebek injeksi dan matic. Dalam kesempatan kali itu, sudut pandang sesat melihat besarnya niat AHM untuk merajai kelas matic yang memang dibilang mas Tri beberapa kali akan memiliki pasar terbesar. Prasangka saya sangat kuat, mengingat tidak satupun motor batangan AHM dihadirkan di acara itu. Target AHM untuk menjadi juara di kelas matic yang notabene semakin besar bagian kuenya secara keseluruhan semakin jelas terlihat atas jawaban pihak AHM tentang kehadiran motor sport Honda berkapasitas 250 cc. Katanya sih: kita disuruh ngumpulin duit dulu (bisa diinterpretasikan: demandnya terlalu kecil). Adanya gerakan sarfety riding yang dikompori AHM bisa diinterpretasikan sebagai “tameng” mereka atas kebijakan yang ingin mengedepankan safety riding. Begini, secara tidak langsung: motor matic=safety, motor sport cc besar=tidak safety (untuk kondisi Indonesia).
Padahal kalau kita baca dengan sudut pandang sesat: motor sport cc besar=tidak safety untuk keuangan AHM.

Nah dengan adanya “usaha” untuk mengedepankan safety riding, maka AHM punya alasan untuk menggenjot penjualan motornya yang “safety” itu. Niatan AHM untuk menguasai market matic tanah air bisa disimak di tulisan mas Tri berikut ini:
http://triatmono.wordpress.com/2010/03/04/ambisi-honda-meraih-50-market-share-skutik-ancaman-serius-buat-para-kompetitor
Motor bebek yang masih menguasai segmen pasar terbesar pun ikut digiring ke arah yang lebih “safety”. Ini bisa terlihat dengan diciptakannya bebek matic yang menggabungkan kemudahan berkendara ala matic, bentuk lebih konvensional ala bebek dan fitur safety untuk semakin menguatkan “tameng” safety riding itu. Contoh fitur-fitur safety dan penjualan bebek matic yang diperkirakan kedepannya laris manis itu bisa dilihat di tulisan mas Taufik:
http://ninja250r.wordpress.com/2010/03/02/fitur-fitur-safety-pada-bebek-matik-honda

Jelas kan sekarang, kenapa kampanye safety riding bisa dijadikan “tameng” dari kritik pedas terhadap AHM yang enggan turun penuh di segmen motor sport. Kan AHM mengedepankan safety….(mau jualan yang laku keras aja-red).

3. Safety riding pada intinya memang harus dikedepankan agar para bikers bisa hidup senantiasa sehat dan tidak celaka di perjalanan. Bayangkan saja kalau misalnya 30 orang per hari tewas di jalanan tanah air… Nah dalam setahun berapa???? Dan bayangkan, mereka itu adalah bikers, artinya bagi pabrikan: mereka adalah konsumen atau pasar atau calon pembeli potensial. Nah, kalau dalam sehari saja produsen kehilangan (anggap saja) 5 orang calon pembeli potensial, setahun mereka kehilangan berapa? Jangan juga dikesampingkan orang-orang yang saat ini masih menggunakan jasa angkutan umum ataupun naik mobil pribadi. Apakah orang-orang ini akan tertarik naik motor (baca: ikutan beli motor), kalau mereka menyaksikan tindakan bikers yang ugal-ugalan? Melihat bikers kejang-kejang meregang nyawa di jalan? Artinya, semakin banyak jumlah bikers yang tidak mengedepankan gerakan safety riding di jalan, semakin sempit juga pasar para produsen motor!

*Teks tentang safety riding ini dijabarkan dari sudut pandang sesat.

About these ads