Berdasarkan analisis tahun ini yang menyatakan pasar motor 125 cc di Jerman menembus 21 %, Honda memasang peruntungannya di Jerman dengan mengandalkan Honda CBF 125 F. Di kelas 125 cc memang sudah ada banyak pesaingnya, tetapi mayoritas bermain di atas 3000 Euro, maklum saja, sesuai dengan teknologi yang ditawarkan, sebut saja Yamaha YZF-R125 yang tidak pelit dalam soal pamer teknologi.

CBF 125 F yang sepintas bergaya India ini memang dilahirkan di India. Di India, doi sudah diluncurkan dalam 3 versi: murahe , murahaja, dan muraasekaleee hehe..ngelantur nih.. Soal desain, buat saya pribadi cukup manis. Garis body boleh dibilang simpel dan dinamis, ditambah cat provokativ ala moge Honda, sepertinya cukup untuk menggaet konsumen yang baru naik motor ataupun konsumen yang ingin hidup irit. Di Jerman sendiri, motor ini memang ditujukan untuk konsumen yang tidak ingin terlalu banyak keluar uang untuk membeli motor, membeli bensin dan juga mudah perawatannya. Selain itu, untuk bisa mengemudi CBF 125 F secara legal, Bikers Jerman bisa menggunakan SIM motor kelas bawah, maksudnya dalam soal tenaga. Untuk memperoleh SIM jenis ini, biaya yang dikeluarkan lebih murah dibandingkan SIM untuk mengemudikan motor-motor bertenaga besar.

CBF 125 F menggunakan teknologi sederhana, mudah perawatannya dan dirancang seperlunya saja untuk menjamin mobilitas bikers. Motor yang digunakan berkapasitas 124,7 cc, 4 tak satu silinder berpendingin udara. Doi juga hanya memiliki 2 klep, tidak seperti saudaranya si CBR 125 R. Untuk memenuhi standard Euro 3, injeksi sudah menjadi menu wajib. Tanki bensin yang berkapasitas 13 liter dinilai cukup untuk jalan-jalan di dalam kota dan sekitarnya. Motor yang berbobot full tank 128 Kg ini hanya bisa digeber hingga kurang lebih 104 Km/ jam. Maklum, tenaganya hanya 11 PS pada 8000 rpm dan ditopang torsi 11 Nm pada 6350 rpm. Meskipun kecil, doi diizinkan membawa muatan hingga 180 Kg, cukuplah buat bawa 2 bule berbobot sedang. Di sinilah keunggulan suspensi model stereo: bisa membawa beban yang relatif lebih berat dibandingkan konstruksi suspensi tunggal. Selain itu harga juga lebih ringan dikantong. Ingat, suspensi tunggal membutuhkan dudukan serta lengan ayun yang lebih kuat, tentunya lebih mahal biaya produksinya. Untuk kaki-kakinya, motor ini dilengkapi dengan velg palang 6 ring 17. Ukuran bannya juga lebih montok dibandingkan mega pro, yakni 100/80/17 di belakang dan 80/90/17 di depan. Peranti rem dipercayakan pada rem tromol 130 mm di belakang dan cakram berdiameter 240 mm di depan.

Untuk pasar Jerman, Honda imut ini dipasarkan dengan harga 2100 Euro. Masih terhitung murah dibandingkan Honda Innova alias Supra X 125 injeksi (velg jari-jari plus warna cat yang ala kadarnya) yang dipasarkan dengan harga 1850 Euro. Yang sedikit membuat saya bertanya-tanya, kenapa motor ini tidak dipasarkan di Indonesia ya? Desain cukup menarik dan kompak serta mesin yang tidak rakus bensin serta image Honda bisa jadi jaminan untuk kesuksesannya di pasar tanah air. Terlebih lagi desain indianya tergolong manis dan proporsional, cukuplah untuk mengobati hasrat ingin memiliki Honda asli yang mirip CBR 150.

Kalau CBF 125 F sampai diluncurkan di Indonesia, bisa-bisa Suzuki Thunder 125 kehabisan jatah kue penjualan. Bagaimana mungkin…harga CBF 125 kan mahal!!! Tunggu dulu Bro..,kalau langsung dirupiahkan dari 2100 Euro memang mahal, begitu juga kalau harga Supra injeksi dijadikan pembanding, artinya si CBF 125 F ini jatuh di sekitar harga V-ixion. Susah dong bersaing dengan V-ixion…
Begini Bro, si Honda Innova itu memang dijual sangat murah oleh Honda Jerman. Sebagai pembanding saya contohkan Suzuki Address alias Shogun 125 (bukan 125 SP!!) yang sama dengan yang ada di Indonesia (kecuali sistem pembakarannya yang sudah injeksi) dilego dengan harga 2000 Euro. Nah coba bro hitung sendiri, kalau kondisinya disamakan dengan harga yang bisa diraih si Shogun 125, artinya kalau CBF 125 F dipasarkan di Indonesia akan bermain di level harga yang sama dengan Thunder 125 kan… Betul??? Betul tidak kata AA’?????
Sumber:
Motorrad News 1/2009