Melanjutkan pertempuran di kelas Supersport 600cc, Kawasaki menyempurnakan Ninja ZX-6R supaya lebih kompetitif menghadapi musuh-musuh besar senegaranya. Kawasaki memperkenalkan ZX-6R 2009 di area pengetesan produk mereka di sirkuit Autopolis, di timur laut pulau Kyushu. Sirkuit yang memiliki lintasan lurus hingga 902 meter ini juga merupakan tempat test motor Motogp Kawasaki, tentunya tertutup dari intaian kamera-kamera wartawan. Karakter yang menarik dari sirkuit ini adalah tikungan kanan-kiri yang tajam dan lintasan sirkuit yang naik-turun. Jika diukur, perbedaan ketinggian lintasan dari yang tertinggi hingga bagian sirkuit yang terendah tercatat sekitar 52 meter.

ZX-6R 2009 semakin menyerupai ZX-10R. Bagian tanki dan buntut dibuat mengacu ke ZX-10R yang sudah teruji lebih cocok buat posisi balap. Bentuk cover tanki lebih pas di lutut dan lengan saat motor menikung (nikungnya gaya Rossi Bro…badan pembalap dijatuhkan ke sisi motor untuk memungkinkan teknik yang diperkenalkan Kenny Roberts Sr.: rear wheel steering) kalau sudah begitu kan tangan bakal terganjal tanki, bagian itulah yang dimaksud. Knalpot juga sudah tidak menganut gaya under tail. Knalpot kembali ditempatkan di sisi kanan motor. Mungkin secara estetika banyak yang protes pada kebijakan ini, tetapi ingat, tujuan utama motor balap adalah performa, bukan kontes. Knalpot di samping terbukti lebih ringan dan lebih lancar menyalurkan gas buang. Konstruksi Knalpot pendek juga lebih mendukung terciptanya torsi yang lebih besar, sehingga kelemahan Ninja di putaran bawah dan menengah lebih tertutupi. Lalu, bagaimana cara membedakan ZX-6R dan ZX-10R? Cara paling mudah membedakannya adalah melihat posisi lampu sen depan. Jika ZX-6R memiliki lampu sen di sisi fairing, maka lampu ZX-10R berada di bawah tungkai kaca spion.

ZX-6R lahir kembali di tahun 2009 dengan banyak penyempurnaan lainnya. Tujuan utama adalah mengurangi bobot yang selama ini menjadi biang kekalahan moge-moge Kawasaki di ajang balap maupun test komparasi. Memang dalam hal tenaga sudah menjadi tradisi menahun, bahwa moge-moge Kawasaki menempati posisi paling terhormat dan mencapai top speed paling tinggi. Namun, pada hasil keseluruhan komparasi berbagai mass media dan di ajang balap, Kawasaki kerap kali menghuni posisi paling buncit di bawah 3 pabrikan Jepang lainnya. Biang keroknya ya itu tadi: OVER WEIGHT!!!

Berat yang terlalu berlebihan membuat moge-moge Kawasaki lambat berakselerasi. Tenaga yang berlimpah ruah akhirnya hanya terbuang saat roda belakang spin. Belum lagi beban yang diderita ban saat di tikungan maupun saat pengereman lebih dahsyat dibandingkan moge sekelas yang lebih ringan. Akhirnya, banyak pembalap Kawasaki yang kehabisan daya cengkeram ban di pertengahan balap. Bobot berat juga sangat merugikan dalam hal pengereman, titik pengereman jadi lebih mulur, kalau sudah begini, siap-siap kehilangan posisi lomba saat menjelang tikungan. Faktor lainnya akibat over weight adalah daya tahan rider saat balap. Bobot berlebih membuat pembalap keluar tenaga ekstra untuk menjinakkan serta mengatur pergerakan motor, akibatnya stamina rider Kawasaki terkuras lebih banyak dibandingkan rider pabrikan lain. Jangan-jangan ini salah satu penyebab kemenangan Honda di ajang Supersport! Memang tim Ten Kate Honda sangat professional dan memiliki pembalap yang lebih berpengalaman dibandingkan pembalap pabrikan lain, tetapi CBR 600 RR yang mendominasi bukan hanya dari tim ini saja kan… Dari test komparasi berbagai media disimpulkan, bahwa produk Honda ini yang paling bersahabat dalam soal kenyamanan!!!

Soal kenyamanan ini sepertinya lebih diperhatikan oleh Kawasaki. Terbukti dari perubahan posisi jok yang dirancang lebih rendah 5mm dan lebih kecil dibandingkan versi sebelumnya. Dengan demikian joki mendapat riding position yang lebih rilex, tetapi tetap berkarakter balap. Masalah bobot yang menyebabkan ketidaknyamanan juga sangat diperhatikan. Perubahan knalpot, fairing, garpu depan dan pernak-pernik lainnya membuat ZX-6R susut 7 Kg. Dari segi mesin, doi bisa menghilangkan bobot sekitar 3 Kg. Total hasil diet 10 Kg ini bisa dibilang luar biasa dan menjadi modal besar untuk bersaing dalam ajang balap. Kini ZX-6R yang memiliki kapasitas tanki 17 liter berbobot kosong 191 Kg saja.

Kita beralih ke area dapur pacu… Mesin 4 silinder segaris berkapasitas 599 cc dan meiliki 4 klep per silindernya menawarkan tenaga puncak sedikit lebih besar dibandingkan versi sebelumnya, yakni 128 PS pada 14000 rpm dan torsi 66,7 Nm pada 11800 rpm. Beberapa barang baru yang didapatkan di sekto ini antara lain piston, koil, dan kem baru dari bahan molybdenum. Blok mesin pun ikut diet, kali ini doi diproduksi dari bahan magnesium. Tidak sampai di situ, saluran intake dan injeksi juga diperbarui. Dengan modifikasi ini, akselerasi ZX-6R terasa lebih bertenaga di putaran rendah dan bersih. Mesin dikatakan 1 derajat lebih tegak dibandingkan produk tahun lalu (entah menjadi lebih tegak karena konstruki yang berubah atau penerapan engine mounting baru).

Segi handling turut mengalami penyempurnaan. Sudut kemudi dibuat lebih lebar (kalau tidak salah dari 63 derajat diubah jadi 66 derajat…maaf Bro, kali ini majalahnya tidak saya beli, ngapalin aja..krisis euy…). Untuk meredam getaran setang saat mengerem keras dan berakselerasi, ZX-6R sudah dipersenjatai stabilizer setang Öhlins. Peranti Öhlins ini dinilai bekerja sangat baik saat si Ninja digeber dilintasan. Namun, dibandingkan Honda dan Suzuki, peranti ini masih manual alias butuh ketelatenan bikers dalam menyetel tingkat kekerasan redamannya. Tidak banyak lah Bro, 20 klik aja!!

Eiittss…masih ada Bro peranti baru lainnya: BPF (Bukan Pelem Forno). Maaf, bukan itu, tetapi Big Piston Fork. Apa itu?? Itu adalah garpu baru dari pabrikan Showa. BPF yang lebih ringan dari suspensi ZX-6R tahun ini menjagokan piston dalam pipa suspensi yang lebih besar. Jika sebelumnya diameter permukaan piston yang mendapat tekanan oli sebesar 20 mm, kini nyaris 2 kali lebih besar, tepatnya 37 mm. Efeknya, suspensi ini memberikan feed back lebih baik dan lebih tenang saat pengereman keras, istilahnya lebih anti-dive dibandingkan versi sebelumnya. Tentunya ini memberikan kenyamanan bagi pengendara…tau sendiri dong rasanya kalau setiap mengerem motor melakukan aksi diving, membuat tenaga yang keluar untuk menahan beban tubuh kita lebih banyak, belum lagi risiko pengereman yang terlalu bertumpu pada ban depan, wah bisa celaka kita Bro… Karakter suspensi BPF yang anti-dive diimbangi dengan pembesaran diameter rem cakram belakang sebesar 10mm, sehingga kini menjadi 220 mm, sedangkan untuk rem depan tetap dipercayakan pada rem depan versi sebelumnya yang berdiameter 300mm. Menurut hasil test di sirkuit, BPF menawarkan karakter seperti suspensi Telelever BMW, tetapi memberikan Feed Back jauh lebih baik. Ayo, siapa yang mau coba BPF??? Barangkali ada yang mau modif berfilosofi harakiri alias tidak takut miskin… Tahun depan baru digunakan untuk ZX-6R dan Suzuki GSX-R 1000 saja lho..

Untuk Suspensi belakang, sepertinya tidak ada perubahan. Hal ini bisa menjadi nilai minus si Ninja. Maklum, suspensi belakangnya dianggap kurang memberikan feed back. Saran sang tester adalah dengan menyetel suspensi belakang menjadi lebih keras. Sebagai petunjuk tambahan, bobot tester 90 KG. Jadi, kalau kita lebih ringan (kapan saya punya ZX-6R????), mungkin setelan standard sudah benar.

Kesimpulan: Ninja kali ini memang siap tempur. Tidak lagi mengandalkan tenaga semata, tetapi bobot yang ringan menjamin tenaga tidak terbuang percuma. Penggunaan peranti selip kopling, BPF dan rem cakram di buritan yang lebih besar memberikan nilai lebih saat pengereman keras sebelum memasuki tikungan (atau gravel hihi…emang Randy de Puniet aja yang jago masuk gravel). Soal harga, Kawasaki belum menentukan. Kalau mau laris semestinya tidak jauh dengan harga tahun ini. Tahun ini, ZX-6R dilego dengan harga 10845 Euro. Sebagai pembanding: 10990 Euro (CBR 600 RR), 10425 Euro (GSX-R 600) dan 11500 Euro (R6).

Bagaimana peluangnya di ajang Supersport? Sebagai bahan acuan dasar, saya beri sedikit data R6 standard yang tahun ini mendapat tempat paling terhormat di kelas 600cc:

tenaga: 129 PS pada 14500 rpm/ 66Nm pada 11000 rpm
berat fulltank: 194 Kg
rem: 310mm depan, 220 mm belakang
top speed: 270 Km/jam (keterangan pabrikan)

Selamat memprediksi…..

Sumber:

2 Räder. Katalog: Alle Motorräder in Deutschland. 1/2008.
Motorrad News 12/ 2008
Motorrad News 1/ 2009