Pada tahun 1923, BMW memperkenalkan produk barunya, BMW R32, dalam sebuah pameran motor di Paris. Saat itu, motor belum dianggap sebagai kendaraan yang praktis (mungkin belum ada bengkel umum atau tambal ban Bro…belum lagi jumlah pom bensin yang sangat minim, atau jangan-jangan belum ada pom bensin ya???).

Apa yang istimewa di motor ini? Entahlah, hatiku pun tak tahu jawabnya…Begini, R32 ini dinilai tampil memukau pada pameran saat itu. Rancangan mesin boxer yang setia dipakai BMW dan bisa kita lihat di salah satu motor canggihnya, BMW HP2 Sport, dianggap konstruksi gabungan antara mesin dan gearbox yang sangat kompak. Konstruksi boxer memiliki keuntungan antara lain dalam hal pendinginan. Mesin boxer banyak menangkap udara yang dibutuhkan untuk menjaga suhu mesin tetap stabil, selain itu, gaya kan… Meskipun demikian, konstruksi ini tidak menguntungkan dalam soal aerodinamika (tidak masalah dalam hal ini, toh R32 bukan motor balap). Konstruksi boxer juga dinilai sangat merugikan ketika motor terjatuh, karena kepala silinder terancam rusak. Untuk mengatasi atau mengurangi risiko rusak saat terjatuh, BMW memasang pelindung dari besi baja di kepala silinder, kalau di foto, yang berwarna terang itu Bro, bentuknya kira-kira seperti jamur.

R32 memiliki mesin berkapasitas 494 cc yang menghasilkan 8,5 PS pada 3200 rpm. Mesin yang berkompresi 5:1 ini sanggup membawa motor berbobot full tank 122 Kg ini hingga 95-100 Km/jam. Bikers R32 bisa menempuh jarak lumayan jauh, sebab R32 diperlengkapi dengan tanki bensin berkapasitas 14 liter. Untuk menempuh jarak 100 Km, doi cuma minta jatah bensin 3 liter. Konsumsi bensin terbilang irit, wajar, sebab doi hanya memiliki 1 karburator BMW Spezial berventuri 22 mm. Pengapiannya pun mengandalkan produk Bosch. Seperti kita ketahui bersama, Bosch memang punya nama besar di dunia peranti pengapian dan alat-alat elektronik. Bosch sendiri berkarakter aji mumpung sehingga saat ini mengembangkan usaha ke bidang pakaian dan kosmetik pria (Hugo Bosch), restoran steak (abu Bosch) dan film action yang identik dengan Sylvester Stallone (ram Bosch 1-3)—(Blog yang menyesatkan, waspadalah…waspadalah!!!)

Kita kembali ke jalan yang benar… R32 termasuk motor berteknologi maju di saat itu. Sistem penyaluran tenaga dengan gardan bahkan sudah diadopsinya! Sepertinya sistem gardan sudah menjadi salah satu identitas penting motor-motor BMW disamping konstruksi mesin boxer dan suspensi telelever. Konstruksi gearbox 3 tingkat percepatan yang kompak dengan gardan memberikan keuntungan dalam hal perawatan dan keawetan gardan, karena gardan senantiasa terlumasi oleh oli dari bak mesin. Soal kualitas gardan juga tidak perlu diragukan. Tidak heran hingga saat ini masih banyak BMW old timer di Indonesia seperti R25, R26, R27, R51 dan sebagainya yang masih keluyuran dengan gardan asli bawaan lahir. Dalam segi kenyamanan, baru suspensi depan saja yang bisa dijumpai, yakni model daun (benar tidak Bro? Itu lho, seperti yang digunakan mobil dan truk…kalau tidak pakai per keong, pakainya per daun kan? Silakan dilihat sendiri gambarnya, maaf, baru belajar…). Untuk peredaman di sektor belakang yang masih rigid, hanya mengandalkan redaman dari ban dan per di bawah jok.

R32 tergolong mahal dibandingkan produk sekelasnya. Hanya saja, kualitas dan konstruksi yang memang lebih baik tidak menghalangi bikers, yang saat itu mayoritas dipastikan tajir, meminang R32 (jaman dulu Bro… hanya segelintir orang yang sanggup menebus benda ajaib masa itu yang namanya sepeda motor). R32 yang sukses di pasar hanya diproduksi dalam rentang waktu 1923-1926. Motor klassik ini hanya diproduksi sejumlah 3090 unit saja. Belum tentu semuanya masih eksis atau dalam keadaaan terawat dan layak jalan.. Ingatlah kehancuran yang disebabkan Perang Dunia II! Adakah bikers tanah air yang memilikinya?? Kalau ada, saya cuma bisa bilang: congratulations! Menyimpan motor ini lebih menguntungkan dibandingkan menyimpan emas…

Sumber:
Hugo Wilson: Motorräder, über 300 Klassiker. München 2007.
http://www.wolfbmw.com/
http://www.bmbikes.co.uk/