Kejayaan Kawasaki bersama Kurt Russell bukanlah puncak masa keemasan Kawasaki di ajang balap motor internasional. Kali ini saya ingin bercerita tentang masa paling jaya itu, yaitu saat Kawasaki mempekerjakan Anton Mang atau yang lebih dikenal dengan Toni Mang. Mang adalah pembalap motor terbaik dan legendaris yang dimiliki dan menjadi kebanggaan bikers Jerman, bahkan kalau melihat prestasinya, doi adalah salah satu joki legendaris dunia.
Mang sendiri bisa dibilang anak ajaib. Prestasinya bukan diawali di dunia balap motor, tetapi di bidang olah raga yang tidak pernah berkembang di Indonesia: ski! Pada umur 16 tahun, Mang sudah menjadi juara ski junior Eropa! Karir Mang di dunia roda dua dimulai ketika ia dan temannya, Sepp Schlögl, bergabung pada tahun 1970 dengan tim balap juara dunia 125 cc saat itu, yakni Dieter Braun. Nama Sepp Schlögl tentunya tidak asing kan bagi Bro penggemar balap? Yup, doi adalah kepala mekaniknya Doni Tata tahun lalu di ajang GP 250. Bersama dengan Schlögl dan Alfons Zender, Mang merakit motor balap sendiri, yakni SMZ 250. SMZ adalah singkatan dari nama mereka bertiga, Schlögl-Mang-Zender. Di atas motor ini, Mang meraih juara pertama kalinya di ajang balap yang diselenggarakan di lapangan terbang di Augsburg.
Pada tahun 1975, Mang berhasil menjadi juara nasional Jerman diatas motor 350 cc Yamaha. Di tahun yang sama, doi mulai ikutan GP dunia di kelas 350 cc, tepatnya di GP Austria. Setahun setelah itu, Mang berhasil menjadi juara di GP 125 cc yang diadakan di Jerman, tepatnya di Nürburgring. Saat itu, Mang menggeber Morbidelli 125 cc. Karena kesuksesannya ini, Mang direkrut menjadi pembalap pabrikan Kawasaki pada tahun 1978. Mang dipercaya turun di 2 kelas sekaligus, yakni 250 cc dan 350 cc. Tidak butuh waktu lama untuk menunjukkan nama besarnya, Mang berhasil menjadi juara dunia 250 cc di tahun 1980. Sedangkan di kelas 350 cc, Mang harus puas berada di posisi ke-2 dibelakang pembalap Afrika Selatan, Jon Ekerold.
Tahun 1981 adalah tahun paling jaya bagi Mang. Doi sukses menjadi juara dunia dobel, yakni di kelas 250 ccdan 350 cc!!! Dengan prestasi ini, doi dinobatkan menjadi atlit terbaik tahun 1981 di Jerman. Ini semua tidak lepas dari peran Kawasaki yang saat itu berhasil menciptakan motor berperforma superior di 2 kelas ini. Kawasaki KR250 dan KR350 menjadi motor balap yang paling rajin berdiri di podium teratas.
Kawasaki KR250 dan KR350 memang motor 2 silinder yang khusus diterjunkan di arena balap. Motor yang dibuat dengan hand made ini menang dalam segi aerodinamika. Ini dikarenakan mesin 2 silinder dirancang tidak memalang kanan-kiri seperti di Honda CB 200, tetapi dirancang depan-belakang. Hasilnya, KR singset layaknya motor 125 cc. Setiap silinderpun memiliki roda gila alias fly wheel sendiri-sendiri. Yang saya miliki sekarang adalah data dari KR250. Motor berkapasitas 249 cc ini bertenaga 68 PS. Dengan bobot hanya 104 Kg, doi mampu melesat hingga 241 Km/jam. Velgnya diproduksi Kawasaki dari logam yang ringan. Rem sudah mengandalkan cakram, masing-masing roda dikawal sebuah rem cakram. Tentunya cakram depan berdiameter lebih besar. Berbeda dengan cakram belakang yang masih polos, piringan cakram depan sudah memiliki lubang-lubang yang bermanfaat untuk mengurangi bobot dan menjaga stamina rem saat balap. Sejak lahir ke dunia pada tahun 1976, KR sudah tampil dominan. Kork Barlington berhasil menjadi juara dunia tahun 1978-1979 di kelas 250 cc dan 350 cc dengan menggeber motor seri KR Kawasaki. Sebuah dominasi yang dilanjutkan Mang dari tahun 1980 hingga 1982.
Pada tahun 1982, Mang gagal mempertahankan gelarnya di kelas 250 cc, doi tertinggal 1 poin saja untuk kembali mengukuhkan dirinya sebagai yang terbaik di kelas ini. Meskipun gagal di kelas 1/4 liter, Mang tetap berjaya di kelas 350 cc. Ia pun dianugerahi titel Juara Dunia Abadi 350 cc, maklum, inilah tahun terakhir 350 cc dipertandingkan. Dengan demikian, berakhirlah dominasi Kawasaki di ajang balap GP.
Mang sendiri naik ke kelas para raja di tahun selanjutnya, yakni 500 cc. Namun, sebelum musim balap dimulai, Mang mengalami kecelakaan saat bermain ski. Kecelakaan ini cukup fatal, cukup untuk menahan Mang tidak bisa ikut balap GP. Baru pada pertengahan Agustus 1983, Mang bisa kembali turun balap. Akibatnya, di akhir tahun ia hanya sanggup memperbaiki posisinya hingga bertengger di urutan ke-10.
Pada tahun 1984, Mang turun kelas ke 250 cc. Ia membalap dengan tim privat yang mengandalkan jasa Yamaha. Hasilnya cukup memuaskan untuk ukuran tim privat, sebab Mang mampu meraih posisi ke-5 di akhir musim. Berbekal kesuksesan ini, Mang bergabung di tahun selanjutnya dengan Honda. Dengan segudang prestasinya, Mang tetap menjadi pembalap ke-2 di Honda, karena saat itu ada Freddie Spencer, pembalap muda sala USA yang sangat cemerlang di GP. Meskipun jadi yang ke-2, Mang berhasil menjadi runner up di akhir musim.
Persaingan tahun 1986 dinilai sangat berat. Mang harus bersaing juga dengan pembalap lainnya macam Carlos Lavardo, Sito Pons dan Dominique Arron. Akhirnya ia harus puas menduduki posisi ke-4 di akhir musim. Hal yang sangat membebani Mang adalah perpisahannya dengan sang kepala mekanik sekaligus sahabat karibnya, Sepp Schlögl. Entahlah Bro, saya tidak pernah membaca teks yang menerangkan sebab mereka memutuskan menempuh jalan yang berbeda. (mungkin saja Mang dengan Sepp terlibat cinta segitiga dan bertengkar gara-gara rebutan Teteh, ni di Jerman apa di tanah Sunda ya??? hehe…). Perpisahan ini diramalkan media dan pengamat balap sebagai akhir era Mang, orang itali bilang: Tutto Finito!
Ternyata ramalan para ahli balap tidak sesakti Ki Gede Anue. Tahun 1987, Mang yang turun di kelas 250 cc dengan tim legendaris, Rothmans-Honda berhasil menggeber NSR 250 R menjadi motor juara dunia. Ia bahkan sangat dominan, Mang berhasil menjuarai race 8 kali berturut-turut!!! Dengan digapainya prestasi ini di umur Mang yang sudah 38 tahun, hingga saat ini dia masih memegang gelar pembalap paling tua yang menjadi juara dunia.
Tahun 1988, Mang siap untuk melanjutkan kariernya di ajang GP. Tetapi Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Meskipun musim GP kali ini diawali dengan kemenangan, Mang harus mengakhiri kiprahnya pada tahun ini. Mirip dengan yang dialami Mick Doohan dan Wayne Rainey, Mang mengalami kecelakaan fatal di Rijeka, yakni GP Jugoslawia. Dengan kecelakaan ini, Mang mengakhiri kariernya di GP dengan 42 kali kemenangan di GP motor.
Saat ini, Mang sudah kembali akur dengan Sepp Schlögl. Mereka berdua kembali bekerjasama mengembangkan bakat-bakat pembalap muda Jerman. Mang juga sering menjadi instruktor di sirkuit, bukan hanya membina pembalap, tetapi juga bikers umum. Aktivitas lainnya tentunya menjadi bintang-bintang tamu di berbagai event roda dua Jerman. Saat bertemu beliau di Chemnitz tahun lalu, Mang yang ukurannya mini buat standard Jerman berbagi cerita dengan pengunjung. Penampilannya sangat bersahabat dan down to earth. Sungguh luar biasa mengingat prestasi yang sudah diraihnya. Dan sungguh ironis jika membandingkannya dengan tingkah laku beberapa pembalap Indonesia, terutama dari roda empat, yang gayanya seakan-akan sudah pernah menjadi juara dunia F-1 ataupun GP.
Pada tahun 2001, Mang mendapat penghargaan dengan masuk ke Hall of Fame. Mang bersanding dengan legenda balap lainnya seperti Mick Doohan, Angel Nieto, Giacomo Agostini, Wayne Rainey dan sebagainya. Meskipun terakhir kali Mang juara dunia diatas Honda, hingga saat ini doi tetap identik dengan Kawasaki.
Sumber:
Hugo Wilson: Motorräder: über 300 Klassiker. München 2007.
Iklan