Hari Sabtu lalu, saya sempatkan diri jalan-jalan ke Erfurt. Sebenarnya bukan disempat-sempatkan, tetapi memang acara Oldtema Erfurt ini sudah saya tunggu-tunggu sejak akhir tahun lalu. Pameran otomotif di Jerman tergolong sering, setiap kota besar menyelenggarakan tiap tahun pameran ataupun acara-acara otomotif lainnya. Namun, di daerah-daerah yang dulunya termasuk ke DDR alias Jerman Timur, acara semacam ini termasuk jarang. Belum lagi jarak antar kota di wilayah ini cukup jauh. Intinya sih, untuk mengunjungi acara yang satu ini, saya tidak perlu keluar duit banyak (buat beli tiket kereta).

Untuk sampai ke Erfurt yang letaknya 30 menit , saya hanya mengandalkan KTM. Bukan KTM itu Bro, tapi Kartu Tanda Mahasiswa. Dengan KTM saya tidak perlu keluar uang untuk membeli tiket kereta yang kalau dihitung pulang-pergi nyaris 30 Euro. KTM sendiri sudah mengandung abodemen kereta.Saat awal semester, total saya harus bayar hampir 150 Euro. Sekitar 50 Euro dari iuran itu digunakan untuk membayar abodemen kereta. Jadi, saya bebas keluyuran naik kereta non express selama satu semester di wilayah Gera-Jena-Weimar-hingga Erfurt.

Sesampai di loket tempat penjualan karcis pameran, saya keluarkan lagi si KTM, langsung deh dapat potongan harga, duh enaknya jadi mahasiswa dan pelajar di Jerman. Lumayan, hanya keluar 4 Euro, tidak seperti masyarakat umum yang harus keluar duit 7 euro. Ternyata acara yang menampilkan mobil dan motor-motor old timer ini tidak seperti bayangan saya sebelumnya. Lebih mirip dengan acara Tumplek Blek di Jakarta, sebab banyak orang dagangnya. Pada awalnya saya sempat sedikit kecewa juga, bukan kenapa-kenapa sih, cuma saya tidak ketemu dengan incaran saya: Norton Manx! Kekecewan itu langsung terobati setelah saya sadari, ternyata banyak juga motor-motor aneh yang belum saya pernah kenal. Mayoritas motor yang dipamerkan adalah produksi Jerman. Tidak hanya BMW, ada DKW, NSU, Zundapp, AWO, Simson, MuZ, Victoria dan sebagainya. Pencinta Old timer Jepang pasti kecewa berat di sini, hanya ada 2 motor Yamaha: RD 250 dan saudara tuanya motor Doni Tata, TZ 250. Lumayan lah hasil berburu foto motor klassik kali ini, cukup lah buat bikin artikel blog selama 2 bulan hehe…Tenang saja Bro, bakal dipirit-pirit dan diselang-seling dengan artikel lain kok…




Flohmarkt

Kalau bahasa Jermannya pasar: der Markt, kira-kira, apa artinya Flohmarkt? Mudah saja, masih ada hubungannya dengan pasar: pasar loak. Itulah yang muncul dalam benak saya saat mengunjungi Oldtema Erfurt. Saat itu saya langsung teringat hobi saya ngubek-ngubek loakan di Poncol, dekat Pasar Senen. Bro yang doyan motor dan mobil tua saya jamin matanya berbinar-binar kalau melihat barang loakan di sini..wajar, di Jakarta susah didapat dan harganya itu lo yang suka bikin mules-mules. Mau apa-apa aja ada! Layaknya di pasar loak, bisa ditawar tentunya…hanya harganya tidak jatuh layaknya kalau tawar-menawar di Poncol.

Untung saya berangkat dari rumah jam 8 kurang (di sini masih bisa sholat Subuh lho…namanya juga masih Winter), sebab menjelang tengah hari jumlah pengunjung membludak. Ga masalah buat saya, toh barang yang saya buru sudah saya dapatkan: sepasang lampu sen Hella untuk BMW old timer dan sebuah handel kopling Magura. Kalau di Jakarta sih 1,5 juta mah kena untuk menebus 2 item ini. Di sini, tidak sampai 50 Euro! (mahal ya?? begitulah kira-kira sebagian penderitaan yang harus rela dialami bikers BMW klassik setanah air).

Sebenarnya konsep Flohmarkt inilah yang saya sukai! Di Jerman, Flohmarkt diadakan rutin, ada yang bulanan, ada juga yang setiap akhir pekan, ya tergantung kesepakatan warga saja. Yang membedakan konsep pasar loak Indonesia dengan Flohmarkt adalah: Flohmarkt itu sistemnya ya kaya acara Tumplek Blek, hanya saja biasanya minus organisator. Warga berkumpul di satu areal luas, disana mereka menjajakan apa saja yang ada di rumah, ya untuk menambah duit belanja lah. Malah tak jarang kita bertemu dengan anak-anak yang menjual koleksi mainannya. Jadi tidak hanya pedagang yang menjajakan barang di Flohmarkt, tetapi lebih didominasi masyarakat umum. Yang lucu sih kalau melihat mobil pribadi yang mereka gunakan. Di Indonesia termasuk mobil mewah lho. Sebut saja VW Caravelle dan Mercedes Benz Vito!

Jadi, Kalau akhir bulan bule-bule Jerman kehabisan duit, ya tinggal lirik-lirik barang yang ada di rumah untuk dijajakan. Seru kali ya kalau konsep pasar loak di Indonesia layaknya Flohmarkt Jerman.

Foto: HP-Klassikku