Nah itu dia yang jadi cikal bakal kenapa benda yang kita gandrungi disebut sepeda motor. Karena antara motor dan sepeda, sepeda duluan yang mengantar orang zaman dulu kemana-mana. Berhubung saya baru menyukai motor-motor klassik, maka saya belum bisa banyak komentar tentang asal usul maupun spek sepeda-sepeda motor ini. Yang pasti, saat melihat penampakan mereka di Oldtema Erfurt, timbul langsung rasa suka dan ketertarikan pada motor yang masih kental unsur sepedanya ini. Justru motor seperti inilah yang bisa disebut motor kuat! Memang tenaganya kecil, paling hanya 1-3 PS. Namun, kuat itu saya artikan: tidak tergantung!
Ketidaktergantungan inilah yang saya lihat sebagai sebuah kekuatan. Sepeda motor yang masih dilengkapi pedal dan tampaknya menjadi konsep yang mengawali kiprah si roda dua di jagad alat transportasi adalah alat transportasi yang sangat praktis. Ketika bahan bakarnya habis, tujuan masih bisa diraih. Bahkan kalau memang hobi olah raga, si sepeda motor ini tak perlu lah diisi-isi bensinnya, kan makin banyak digenjot, makin sehat tuh betis, paling juga pegel-pegel atau varises. Kalaupun onderdil ada yang rusak, bukan berarti si sepeda motor tidak bisa digunakan lagi. Sepeda motor semacam ini cocok juga buat safety riding lho…Buat pacaran juga cocok, kan tambah lama sampai tujuan..bukankah kalau berdua pacar yang penting perjalanannya??
Sayangnya, kelas atau jenis sepeda motor seperti ini dilupakan. Pabrikan meninggalkan ruang kosong..tapi, itu sebenarnya kesempatan emas! Lihat saja Kawasaki Ninja 250…berhasil kan menggunakan ruang kosong! Nah, di saat pabrikan motor di Indonesia sibuk menaikkan tenaga dan kapasitas bebeknya, dan tentunya menambah sengitnya perang, ruang kosong ini semakin terlupakan. Emas itu semakin tertimbun debu-debu kompetisi! Tentunya untuk meraih kesempatan emas ini dibutuhkan pabrikan yang mempunyai goodwill yang baik.
Apa untungnya produksi sepeda motor yang masih berasa banget unsur sepedanya ini?
1. Ya ruang kosong itu! Tidak ada saingan! Produk yang pertama keluar akan menentukan standard dan jadi maskot di kelas ini. Produknya tidak perlu lah bagus-bagus amat. Incer saja dulu harga yang extra murah, misalnya di bawah 7 juta rupiah. Toh yang akan beli pada awal-awalnya mereka yang kepincut dengan kelebihannya yang tidak terlalu tergantung bensin. Harga di bawah 7 juta saya rasa wajar. Motor jenis ini tidak perlulah pakai shockbreaker (tentunya bakal berubah kalau persaingan sudah sengit). Untuk bahan baku juga lebih murah kan..kan tidak perlu buat body, tidak perlu spidometer dan lebih sedikit menggunakan bahan baku logam. Selain itu, bahan baku untuk membangun mesin bertenaga kecil tentunya lebih irit dong..misalnya ga perlu klep titanium, ga perlu pengapian racing, ga perlu busi racing, oli juga yang standard aja cukup lah hehe…
2. Memang motor ini tidak cocok untuk perjalanan jarak jauh, tetapi buat mereka yang tempat kerjanya dekat, boleh jadi jenis motor ini yang bakal dilirik pertama kali. Atau kalau produsen bisa menawarkan bentuk yang manis, bisa jadi penggemar sepeda seperti low rider menambah koleksinya!
3. Konsumen yang tidak doyan ngebut, ataupun yang sudah tobat ngebut, akan melihat motor ini menjadi alternativ yang sangat menggoda. Selain itu, hinaan yang mengatakan: Ah..pelan tuh bebek…Ah bodinya gampang pecah..Ah ga canggih dsb., bisa dieliminir. Kenapa? Ya namanya juga sepeda..ga perlu canggih-canggih amat, ga perlu bodi fiber, ga perlu rem cakram, perawatan extra ringan dan orang ga bakal ngompor-ngomporin ngajak ngebut kan…(kecuali sableng).
4.Soal pajak..Karena kapasitasnya kecil, harusnya lebih murah pajaknya. Di Jerman, motor dengan kapasitas kurang dari 50 cc ataupun top speednya tidak lebih dari 45 Km/jam tidak pakai plat nomor, dan tentunya tidak pakai pajak…wah adem di kantong nih..
5.Masih banyak lho orang yang doyan motor klassik, tetapi dananya pas-pasan. Saat ini, pabrikan yang bermain di Indonesia tidak ada yang mengincar segmen ini.
Hayooo, siapa yang mau duluan mengisi ruang kosong??????

Foto: HP-Klassikku

Iklan