Dengan keikutsertaan Doni Tata di ajang WSS, tentunya buat kita kelas Supersport jadi memiliki daya tarik tersendiri. Berikut ini saya ingin berbagi cerita tentang test komparasi motor-motor yang berlaga di WSS. Test ini diselenggarakan oleh tim majalah Motorrad, majalah motor dengan omset terbesar di Eropa (itu katanya lho…).
Kita mulai dengan mengenal pesertanya:
1. Honda CBR 600 RR ABS: 120 PS @ 13500 rpm; 66 Nm @ 11250 rpm; bobot full tank 197 Kg (Bobot motor-motor ini diukur sendiri oleh tim majalah Motorrad); harga 11890 Euro.
2. Suzuki GSX-R 600: 125 PS @ 13.500 rpm; 68 Nm @ 11500 rpm; berat full tank 200 Kg; harga 10490 Euro.
3. Kawasaki ZX-6R: 128 PS @ 14000 rpm; 67 Nm @ 11800 rpm; bobot full tank 193 Kg; harga 10890 Euro.
4. Yamaha YZF-R6: 129 PS @ 14500 rpm; 66 Nm @ 11000 rpm; bobot full tank 193 Kg; harga 11750 Euro.
5. Triumph Daytona 675: 3 Silinder segaris; 124 PS @ 12600 rpm; 72 Nm @ 11600 rpm; berat full tank 190 Kg; harga 10990 Euro.

Kondisi:
Setiap motor yang ditest dipasangi transponder untuk menghitung waktu tempuh dengan akurat. Setiap motor supersport standard ini disetel suspensinya semaksimal mungkin dengan kondisi sirkuit. Ban yang digunakan adalah Metzeler Racetec Interact yang tersedia dalam kompon K0 (lunak) hingga K2 (keras). Untuk pemakaian harian, tersedia tipe K3. Untuk test kali ini digunakan tipe K2. Menurut hasil test, ban ini sanggup memberikan daya cengkeram yang sangat baik di aspal sirkuit yang saat itu bersuhu rendah. Daya tahan ban setelah pemakaian kurang lebih 60 lap pun dinyatakan oke.
Tadinya test hendak diselenggarakan di sirkuit yang benar-benar masih gress, yakni sirkuit Parcmotor Castelloli di dekat Barcelona. Namun, setelah ditinjau, ternyata trek masih dianggap kotor dan tidak maksimal untuk melakukan test komparasi. Akhirnya tim bergegas menuju ke sirkuit lainnya yang masih berada di dekat kota Barcelona ( Wow..banyak ya sirkuitnya! Ga heran Spanyol banyak menyimpan talenta balap roda dua). Singkatnya, test diselenggarakan di sirkuit Calafat yang memiliki panjang 3,46 Km. Sirkuit ini dinilai cukup menantang dan lengkap untuk menguras kemampuan jagoan-jagoan Supersport: tikungan cepat, tikungan kombinasi kanan-kiri, tikungan tajam dan titik-titik dimana motor harus direm habis-habisan. Selain itu, sirkuit yang pada awal tahun ini diaspal ulang menawarkan lintasan yang bebas gelombang, jadi bisa rebah seenak dengkul…eh jidat.

Sekilas Fakta
Sejak tahun 2002, Honda selalu jadi rajanya WSS. CBR 600 RR ABS tahun ini pun disiapkan Honda untuk melanjutkan tradisi ini. Dengan modifikasi di kepala silinder dan knalpot, putaran menengah CBR lebih baik dari versi sebelumnya. Selain itu, CBRlah satu-satunya yang diperlengkapi ABS yang dikembangkan untuk balapan. Seperti yang pernah kita bahas, peranti ini membuat CBR naik bobotnya hingga 10 Kg. Akibatnya, doi tidak lagi menjadi yang paling ringan di lapangan. Meskipun demikian, masih ada Suzuki yang lebih berat, bahkan paling berat diantara kontestan kali ini. Gixxer (kita sebut dengan panggilan kesayangannya) tampaknya belum bertobat, sehingga dosanya paling banyak: 200 Kg!
Seperti yang pernah kita bahas juga, Kawasakilah yang paling rajin bikin PR. ZX-6R yang melakukan crash diet hingga 10 Kg dan menggaet garpu BPF Showa menjadi salah satu kontestan yang paling siap tempur. Terbukti saat test WSS, ZX-6R sanggup menyodok podium!
Satu-satunya kontestan asal Eropa, yakni Triumph hadir dengan Daytona 675. Satu-satunya motor kontestan yang bermesin 3 silinder ini sama sekali tidak bisa dianggap enteng! Bobotnya yang paling ringan lho diantara kontestan yang ada. Terlebih lagi, Triumph turut membenahi dapur pacunya. Kini, doi sanggup berkitir 400 rpm lebih tinggi dan bertenaga 2 PS lebih kuat dibandingkan terbitan tahun lalu. Motor yang merknya mengingatkan kita pada benda yang dipakai wanita dan disukai pria ini memang sedang bangkit. Tidak hanya di kelas Supersport, tahun lalu, Triumph Speed Triple dinobatkan sebagai motor naked terbaik lho… Sebagai informasi tambahan, di IDM (balap moge Jerman), Daytona 675 tahun lalu berhasil menobatkan dirinya menjadi motor terbaik!
Bagaimana dengan Suzuki dan Yamaha? Apakah mereka terlalu santai? Atau memang tak sanggup meningkatkan performa gacoannya dengan berbagai alasan? R6 memang tahun lalu paling oke. Performanya setingkat diatas rekan senegaranya, begitupun harganya, paling mahal! Okelah R6 tidak diotak-atik lagi, tetapi bagaimana dengan Suzuki???!!! Tampaknya kelas ini sedang tidak menjadi fokus Suzuki.

Aksi di Lintasan

Suzuki GSX-R 600
Gixxer simpel dan mudah dikendalikan, sayang bukan yang tercepat di lintasan. Wajar, lihat saja bobotnya. Lihat juga tenaga puncaknya yang mudah ditangani oleh Kawasaki dan Yamaha. Meskipun tenaga puncaknya bukan yang terbesar, Gixxer memiliki karakter pengembangan tenaga yang teratur dan halus. Ini memungkinkan rider cepat menggeber gas selepas tikungan. Perpindahan gigi yang halus dan lancar tentunya memudahkan rider memanfaatkan tenaga Gixxer semaksimal mungkin. Sayangnya, stabilitas doi di tikungan cepat dinilai kurang memuaskan, meskipun tim sudah berusaha menyetel suspensi semaksimal mungkin. Meskipun begitu, Gixxer dinilai dapat memberikan feedback yang jelas saat motor menaklukkan tikungan. Hasilnya, rider bisa lebih pede memaksimalkan performa Gixxer di tikungan.
Saat dilakukan pengereman keras di akhir lintasan lurus, Gixxer bisa dibilang anteng. Tidak hanya kinerja rem dan rangka yang berperan penting di sini, tetapi peranti selip koplinglah yang membuat buritan Gixxer tidak liar akibat engine break. Namun, bobot yang berat membuat Gixxer sedikit lebih molor dalam urusan jarak pengereman.


Honda CBR 600 RR ABS
Kesan pertama: dalam posisi berkendara dan karakter mesin, inilah motor yang paling nyaman dipakai harian. Artinya, bertolak belakang dengan konsep R6 yang disetting paling sembalap diantara konsestan yang ikut test komparasi kali ini. Hal ini bukan hal yang menguntungkan CBR, sebab performa mesin yang paling lemah jelas-jelas bukan keunggulan untuk ajang adu cepat. Terlebih bobot yang naik 10 Kg semakin membuat CBR paling lemot di sirkuit.
Meskipun begitu, CBR mengkompensasi kekurangannya dengan keunggulan di sisi lain. CBR mengandalkan handling yang lincah dan presisi plus feed back yang sangat baik. Peranti stabilizer setang elektronik pun dinilai bekerja sempurna, begitu juga dengan peranti Combined ABSnya! Di saat rider pengguna motor lain sudah melepaskan jari-jarinya dari handel rem saat berada di dalam tikungan, rider CBR masih bisa mengerem motornya di dalam tikungan tanpa takut kehilangan daya cengkram ban ke aspal!
Bagaimana catatan waktunya? Payaaaahhh!!!!! Penyebab utamanya bukan karena tenaganya yang paling lemah ataupun bobotnya yang lumayan berat, tetapi akibat tidak adanya peranti selip kopling di motor ini. Saat memasuki tikungan, buritan CBR menjadi liar akibat engine brake. Bahkan CBR sempat masuk ke gravel! Untung peranti ABS bekerja sempurna, kalau tidak berantakan deh tuh motor seharga rumah!
Disamping liarnya buritan saat engine brake, rasio gir CBR, begitu juga Gixxer, dinilai kurang cocok dengan karakter sirkuit Calafat. Gigi 1 CBR paling pendek Bro, hanya sampai 117 Km/jam. Sedangkan gigi duanya dinilai terlalu panjang, yakni hingga 160 Km/jam. Bandingkan dengan Daytona 675 (123/153 km/jam) dan ZX-6R (125/155 Km/jam)! Faktor terakhir yang turut menyumbangkan kekalahan adalah suspensi CBR yang kurang keras (setelannya kayanya dah mentok tuh…).

Bagaimana performa ZX-6R? Seberapa dahsyatkah Daytona 675??? Sanggupkah R6 mempertahankan gelarnya di sirkuit Calafat???? Nantikan kelanjutannya di blog kesayangan Ki Gede Anue ini……..

Sumber:
Motorrad 05/2009