Senang sekali rasanya kemarin melihat balap WSBK dari Australia. Di depan kamar sayapun mulai banyak motor superbike lalu-lalang, ya namanya juga cuacanya mulai memungkinkan. Memang di tanggalan belum masuk musim semi, tetapi kalau cuacanya sudah seperti musim semi, tunggu apa lagi untuk bisa menggeber moge kesayangan??

Kita kembali ke WSBK… Momen yang paling seru dari balap kelas superbike adalah duel Haga VS. Neukirchner! Tampaknya WSBK tahun ini tetap seru walaupun tanpa keikutsertaan Bayliss. Ducati pun ternyata tidak sedominan yang diperkirakan sebelumnya. Tampak betapa Yamaha dan Suzuki mampu mengimbangi Ducati, ini artinya langkah kedua pabrikan dalam pengembangan motor mereka sudah tepat. Salah satu langkah yang diambil kedua pabrikan ini adalah memperpendek langkah mesin, artinya mereka berniat menaikkan rpm dan tenaga puncak mesin. Singkat kata: mengejar top speed! Tahun lalu, motor Jepang keteteran dalam soal top speed, padahal inilah yang seharusnya menjadi kekuatan motor 4 silinder! Melihat Ducati yang secara top speed semakin susah dikejar, Yamaha dan Suzukipun memperpendek langkah mesinnya. Top speed kedua motor inipun lebih mudah ditingkatkan. Lihat saja statistiknya di website WSBK! GSX-R 1000 menjadi motor dengan kecepatan puncak paling tinggi! Bisa kita lihat sendiri, bagaimana Suzuki mengejar Ducati di straight.. Tidak hanya Suzuki, top speed R1 pun sanggup memupuskan ambisi Nitro Nori untuk menjuarai 2 race sekaligus. Ben Spies yang memang tergolong pembalap sangat berbakat berhasil menunjukkan potensi R1 –yang pengapian dan urutan langkah mesinnya mengkloneng M1– plus tentunya bakat dan skill yang dia miliki. Bahkan sudah santer rumor, Spies akan menggantikan rekan senegaranya di MotoGP, yup, doi diproyeksikan menggantikan Edwards menggeber Yamaha M1.

Bagaimana dengan Honda? Kalau aspek harga tidak diperhatikan (Ducati mahal Bro), dalam komparasi secara keseluruhan, CBR 1000 RR adalah yang terbaik! Kenyataannya kemarin di track..memble! Honda tampaknya butuh pembalap top untuk bisa merebut gelar juara dunia WSBK! Di segi mesin, CBR 1000 RR tidak jauh beda nasibnya dengan RC212V, memble juga! Motor-motor Honda di WSBK memiliki top speed paling rendah, kalah dari para pendatang baru, Aprilia dan BMW. Bagaimana dengan Kawasaki? Tampak jelas kalau ZX-10R harus banyak direvisi sana-sini, catatan waktunya tidak lebih baik dari motor-motor terbaik WSS. Apa akibatnya bagi Kawasaki? Tentu saja, stock ZX-10R numpuk, jadi diobral deh tuh..ayo beli………(ga percaya kalo ZX-10R diobral?? tunggu saja nanti Bro…)
Kita beralih ke pendatang baru, tepatnya ke S 1000 RR. Memang penampilannya tidak menghebohkan seperti saat Aprilia RSV4 Biaggi bertarung untuk merebut podium di race 2, tetapi secara keseluruhan, BMW masih mengumpulkan nilai lebih banyak daripada Aprilia, dan tentunya Kawasaki yang prestasinya memprihatinkan. Menurut saya, menurut saya lho… BMW lebih sukses dibandingkan Aprilia. Kenapa? Bukan hanya klasemen saat ini yang jadi patokannya, tetapi baru kali ini BMW membuat motor Superbike 4 silinder yang tenaganya sekitar 190 PS dengan bobot full tank dibawah 204 Kg! Mereka selama ini terlalu senang memproduksi motor touring. Kalaupun ikut event balap, itu pun one make race. Baru akhir-akhir ini mereka kembali melirik dunia balap motor roda dua yang sudah berpuluh-puluh tahun ditinggalkan. Ada faktor lainnya yang bisa membenarkan, bahwa BMW lebih sukses dibandingkan Aprilia. Aprilia seharusnya bisa lebih baik dibandingkan BMW, kan mereka aktiv di dunia balap. Belum lagi pengalaman mereka di dunia Superbike dan di Motogp dengan RS3nya.
Bagaimana balap dalam segi penjualan? Menurut Ki Gede Anue, BMW bakal lebih sukses daripada Aprilia. Setelah saya tanyakan lebih lanjut, doi membeberkan beberapa faktor: Aprilia RSV4 terlalu canggih, otomatis juga mahal dan tidak untuk boncengan (ini mah analisa Ki, bukannya terawang gaib!!).
Keunggulan S 1000 RR pernah kita bahas sebelumnya, salah satunya lengan ayunnya yang panjang. Lengan ayun panjang ini dimungkinkan dengan konstruksi mesin yang kompak dan kecil, jadi lengan ayunnya panjang bukan karena lengan ayun S 1000 RR pernah dibawa ke Pelabuhan Ratu ke tempatnya Ma’ E################## (jumlah tanda # dikacaukan untuk menyembunyikan jati diri sebenarnya-red).
Oke, lengan ayun panjang itu menawarkan kemudahan, antara lain meminimalisir efek hentakkan gir dengan rantai saat mesin berakselerasi. Artinya, motor jadi tidak terlalu bergetar saat berakselerasi, kan jarak dari gir belakang ke mesin lebih jauh. Keuntungan lainnya ya dalam soal setting jarak sumbu roda. Kalau kita menyetel rantai, kan jarak sumbu roda berubah juga tuh Bro… Nah di BMW, coakan untuk menyetel rantainya ini panjang, jadi sebenarnya doi beralih fungsi, bukan untuk menyetel kerenggangan rantai saja, tetapi juga jarak sumbu roda.
Di segi mesin, BMW tampaknya banyak memperoleh ilmu dari mesin F1 mereka. Versi standardnya tembus 14500 rpm! Bandingkan dengan CBR 1000 RR tahun lalu yang mentok di 13400 rpm, ataupun R1 tahun lalu yang direvisi jadi 4 klep per silinder setelah sebelumnya menganut 5 klep per silinder minta ampun di 13200 rpm (turun dari 13700 rpm dibandingkan versi sebelumnya). Entah deh soal tinggi-tinggian putaran mesin tahun ini, kan Yamaha dan Suzuki memoles ulang mesinnya..
Piston S 1000 RR datang dari produsen berbeda, maksudnya beda dengan produsen yang memasok piston untuk seri K 1300. Supaya bisa bersaing di kelas superbike, pistonnya 35 gram lebih ringan, yakni 289 gram per buah, termasuk pen dan ring pistonnya. Di segi rem, tidak perlu ragu, sudah ada Brembo di sana, ya memenuhi standard motor-motor superbike lah. Di sisi suspensi, BMW mempercayakan firma Sachs, tentunya suspensi depan belakang masih bisa disetting sesuai kehendak pengguna.
S 1000 RR standard sudah bisa digebet dengan 15150 Euro, ya cuma lebih mahal dikitlah daripada R1 yang tahun ini tambah mahal aja. BMW masih menawarkan peranti tambahan, seperti gear shift assistant dan ABS yang bisa disetel dalam 4 mode plus traction control, tentunya nambah dong harganya….
Dalam wawancara dengan Hendrik von Kuenheim, bosnya BMW bagian sepeda motor, terungkap, bahwa superbike BMW yang masih bayi ini memang tidak dirancang setengah-setengah. Doi menambahkan, buat apa produksi motor superbike yang tenaganya 10 PS lebih lemah dan 10 Kg lebih berat?!!! Itu semua tidak akan membawa kesuksesan! Pemula itu justru tidak boleh lemah! Doi juga menerangkan, putaran mesin BMW S 1000 RR yang sudah superiorpun masih bisa ditambahkan. Hendrik juga membocorkan, bahwa kini BMW sedang mengembangkan mesin baru yang sanggup berputar lebih tinggi lagi!!! (Waduh….. Tiger Hitam saya muter 12000 rpm lebih dikit aja rasanya dah mau modiaarrr…maklum, cuma 1 silinder, dah gitu teknologi tahun 70an) Namun, memang begitulah karakter mesin 4 silinder, kalau tidak main rpm atas tidak ada tenaganya.
Si Bos menjelaskan, BMW ingin ambil bagian dari jatah penjualan motorsport dunia yang terus meningkat. Data tahun-tahun sebelumnya menunjukkan, di seluruh dunia, para produsen menjual hingga 220.000 motor berkapasitas 500 cc keatas. Kira-kira ada sekitar 100.000 motor kelas 1000 cc yang diserap pasar, nah bagian inilah yang diincar BMW.
Saat ditanyakan, apakah BMW akan menempuh langkah seperti Yamaha yang laris manis menjual YZF-R125, sang Bos BMW menyatakan ketidaktertarikan BMW terjun di kelas ini, meskipun mereka telah bekerjasama dengan produsen motor Cina, Loncin, dan sangat memungkinkan BMW mengikuti jejak Yamaha (pantesan Loncin pede ikut GP 125, partnernya kelas kakap toh). So, S 1000 RR tidak akan hadir dalam versi mini…..
BTW, S 1000 RR sudah hadir dalam 3 pilihan warna, abu-abu metalik, hijau metalik, dan kombinasi merah-putih-biru khas BMW. Ayo, siapakah pemilik S 1000 RR pertama di Indonesia???????? Dalam terawang gaibnya, Ki Gede Anue menjamin 100%: bukan Arie Slight hikshikshiks…….

Sumber:
Motorrad 05/2009
Terawang Gaib by: Ki Gede Anue