Kalau kita bermain ke forum-forum motor modern, ada beberapa orang yang berkoar-koar: gw Anti motor jadul!!! Kalau bermain ke forum motor-motor klassik, tidak kalah juga serapahnya: Motor sekarang, wah plastik!! kesenggol becak di Pondok Cabe, pecah deh…… Saya bukan mau ngompor-ngomporin, tetapi begitulah kenyataannya. Saya sendiri dulunya juga ga mudeng sama sekali, kenapa orang sampai senang bermain motor klassik, kenapa ada yang doyan Vespa, kenapa doyan trail dsb…. Ternyata semua itu butuh proses Bro. Akhirnya setelah melalui pengalaman-pengalaman pribadi dengan segala macam motor itu, saya bisa memahami alasannya. Oleh karena itu, kini saya berani mendeklarasikan diri saya sebagai biker tak beraliran, i love all bikes, dari modern sampai jadul, dari massal sampai prototipe, dari chopper sampai trail, dari street fighter sampai scrambler, pokoknya semuaaaaa..
Memang wajar lah kalau masing-masing dari kita punya model atau merk favorit, tetapi tanpa kehadiran model ataupun merk lainnya, sepi Bro… Kalau dalam gado-gado, apa yang paling Bro suka? Tahunya? Bumbu kacangnya? Kolnya? Togenya? Parenya? Bayemnya? Krupuknya? Lontongnya? Toh setiap penikmat gado-gado punya favoritnya masing-masing. Namun, apa masih enak kalau hanya makan krupuknya doang? Makan tahunya doang? Makan bumbu kacangnya doang? Makan bayemnya doang?
Kembali ke jalur semula. Foto-foto ini saya ambil di ajang Erfurt Oldtema dulu, ya sekalian memperkenalkan bebek-bebek eksotis dari Jerman Timur alias Republik Demokrasi Jerman alias DDR. Saya pribadi tidak terlalu banyak tahu tentang bebek-bebek anti pecah ini. Pastinya, penampilannya lumayan klassik dan nyentrik. Terlebih lagi jika dibangun ulang dan dicat dengan warna-warni yang agak centil, lutuuuuuu…
Buat bikers yang tidak terjun ke dunia motor klassik, pastinya aneh kalau mendengar nama Simson. Kalau dengar merk pabrikan asal DDR ini, pasti teringat kartun The Simpson deh… atau Jessica Simpson waaaaaa….. untung lagi ga puasa. Saya sendiri baru tahu merk ini setelah kuliah di Jena. Sebelumnya, akhir tahun 2004, saat kuliah satu semester di Bochum yang masuk ke Jerman Barat, saya belum mudeng kalau ada merk ini. Maklum, bekas wilayah Jerman Barat bukan habitatnya Simson. Nama Simson sendiri pertama kali saya dengar saat mengantarkan Prof. Rudi Keller jalan-jalan keliling Jakarta. Doi tidak mau diantarkan naik mobil, maunya naik motor! Alhasil, saya deh yang kebagian tugas jadi pemandu wisata dadakan pakai si Tiger Hitam. BTW, Herr Keller melonyos juga kakinya kena knalpot Tiger yang terkenal kejam hihi… (kenang-kenangan seumur hidup dari Indonesia) Kembali ke Simson! Pas saya tanya, di rumah punya motor apa? Dia bilang Honda dan Simson. Saya sih ngangguk-ngangguk saja lah, sok intelek hehe…padahal ga ngerti, apa tuh Simson????
Maaf sebelumnya, saya hanya bisa memberi keterangan dari bebek besi yang kedua fotonya terletak paling atas. Bebek besi ini diproduksi oleh VEB Simson Suhl pada tahun 1969. Nama si bebek besi dicantumkan: Mokick-Sperber. Bebek besi yang masih original ini bermesin 2 tak (sampai saat ini saya belum pernah bertemu Simson 4 tak, atau mungkin tidak ada ya??) dan berkapasitas hanya 50cc. Kapasitas memang kecil, tetapi karena mesinnya 2 tak, tenaganya bisa mencapai 4,6 PS lho. Tenaga segitu cukup untuk membuat doi melaju hingga 75 Km/jam. Bagaimana soal konsumsi bahan bakarnya? Ya setara Honda Tiger standard lah. Si pemilik menerangkan, untuk dapat menempuh jarak 100 Km, si bebek yang anti pecah tetapi tidak anti penyok ini minta jatah 2,5 liter bensin. Sayang tidak ada keterangan soal bobotnya, yang pasti lebih berat dibandingkan bebek-bebek yang beredar di tanah air lah, namanya juga dari besi, tebel pula…….
 Foto: HP-Klassikku