Ini dia nih Honda Hornet 600… Motor naked bike kelas menengah yang hadir sejak tahun 1998 ini merupakan salah satu motor paling berjasa bagi kesejahteraan karyawan Honda. Wajar, doi punya predikat Motor paling laras alias laku keras seeropa. Sejak awal kiprahnya, Hornet menawarkan konsep performance naked bike, gabungan dari sport bike dengan handling lincah bin mudah, bobot ringan dan mesin ganas, tetapi handal dan nyaman dipakai harian. Tradisi ini ingin dilanjutkan Hornet, untuk itu perlu banyak pembaruan, yakni di sektor mesin, suspensi, sisi keamanan dan ramah lingkungan. Tidak sebatas itu, Honda punya prinsip: Melebihi ekspektasi konsumen! Jadi bukan sebatas memenuhi harapan konsumen! (Bagaimana dengan AHM??)

Hornet 600 dipersenjatai mesin CBR 600 RR edisi 2007, jadi soal tenaga tidak perlu diragukan, sanggup menjawab tantangan motor-motor supersports. Mesin CBR yang terkenal paling mungil dan kompak dikelasnya membuat insinyur Hornet lebih leluasa menentukan letak mesin di dalam rangka. Penempatan mesin di dalam rangka yang tepat memungkinkan terciptanya titik berat yang optimal plus balance yang baik, pada akhirnya menjanjikan handling yang presisi. Mesin yang tergolong ringan ini disuplai sistem PGM-FI, hasilnya, akselerasi bertenaga dengan kurva perkembangan tenaga yang teratur, ya sama lah sama dengan karakter si CBR 600 RR yang putaran menengahnya dahsyat. Supaya ramah lingkungan, Honda mengkombinasikan sistem injeksi itu dengan sistem katalisator HECS-3 yang memungkinkan Hornet tembus Euro 3 tanpa harus kehilangan tenaga.
Mesin dahsyat harus diimbangi knalpot yang oke. Knalpot Hornet berbeda dengan CBR 600 RR yang masih menganut gaya knalpot under tail yang sekarang dibilang old skul. Knalpotnya lebih mirip CBR 1000 RR. Knalpot bergaya low slung ini memungkinkan akselerasi bawah yang lebih binal dan lebih irit bobot tentunya. Knalpot yang hemat bahan baku ini juga menguntungkan segi handling, sebab titik berat motor lebih terpusat.
Mesin oke, knalpot oke, tentunya harus didukung dengan rangka yang oke. Hornet mengedepankan rangka yang sederhana dan solid. Blok mesin pun dieksploitasi sebagai elemen sentral yang turut mendukung peran rangka, ujung-ujungnya bisa menghemat bobot juga tuh… Rangka Hornet yang sebelumnya menganut mono backbone dari pipa baja sudah ditinggalkan. Hornet 600 kini mengandalkan rangka mono backbone dari alumunium yang lebih ringan, tetapi tetap kuat dan kaku. Rangka yang terdiri dari 3 bagian ini ini diproduksi dengan proses modern GDC (Gravity Die Cast). Sayang yang digunakan mono backbone, padahal sebelumnya Honda hendak menggunakan jasa andra and the backbone!! Rangka baru ini sangat mendukung konsep Hornet yang kompak, lihat saja hidungnya yang pesek plus buntut yang kecil dan ringan, semua itu ditujukan untuk menjaga titik berat tetap sentral.
Untuk menjamin stabilitas, Honda mempercayakan suspensi monoshock dan garpu USD 41 mm yang bisa disetel-setel tingkat kekerasan dan reboundnya. Lengan ayun juga tidak luput dari perhatian. Honda mempercayakan lengan ayun alumunium yang juga diproses secara GDC, lengan ayun ini lebih panjang 5 cm dibandingkan versi sebelumnya. Lengan ayun lebih panjang semakin menjamin traksi roda belakang saat berakselerasi. Di sektor roda, ya standard lah, velg alumunium bintang palang 5 berdiameter 17 inci dibalut dengan ban 120/70 di depan dan 180/55 di belakang. Motor cepat tentunya harus didukung rem yang handal. Rem cakram dobel berdiameter 296 mm di depan plus 2xkaliper Nissin 3 piston full floating siap menghentikan aksi roda depan, sedangkan roda belakang cukup dihentikan sebuah cakram berdiameter 240 mm. Layaknya jagoan Honda lainnya, Hornet ditawarkan juga dalam versi ABS. Combined ABS Honda memang top, dengan peranti ini, pengendara biasa pun dapat menghentikan laju motor dengan jarak yang sama yang diperoleh seorang pembalap profesional!
Supaya lebih aman dari maling, Honda melengkapi Hornet 600 dengan HISS (Honda Ignition Security System), intinya, motor cuma mau hidup jika yang masuk ke lubang kunci adalah 2 kunci originalnya. Maling tidak bisa menggunakan kunci palsu ataupun merusak rumah kunci. Menghidupkan mesin dengan cara langsung tanpa melalui sistem rumah kunci pun tidak akan berhasil! Well, para maling yang belum bertobat, you need to learn again, how to defeat this HISS.
Ouuppss.. hampir lupa, sebuah motor, secanggih apapun dia bakal sulit laku kalau desainnya kamse.. Untuk itu, Honda mempercayakan desainer Honda Italia untuk membentuk penampilan dan karakter si Hornet. Hasilnya, ya lumayan lah… Garis-garis hornet yang simple sepintas memang terlihat S.T.D., tetapi bukankah kita butuh waktu untuk memahami sebuah karya seni. Lagipula, biasanya desain yang sederhanalah yang bertahan lama alias bisa disebut klassik! Tidak percaya si Hornet di desain oleh orang-orang Italia? Lihat saja fotonya, perhatikan baik-baik, ada garis besar desain yang sama yang juga dianut motor-motor Italia lainnya. Perhatikan lampu depannya… perhatikan juga spidometernya.. mirip apa ya?????? BTW, hanya mesinnya yang komplet diproduksi di Jepang, komponen lainnya diselesaikan dan di rakit di Bella Italia, tepatnya di pabrik Honda di Atessa (ga pake Kaunang).
Berbeda dengan nasib kita di tanah air, Honda disana memperhatikan kebutuhan konsumen terhadap aksesoris orsi pabrikan, misalnya spatbor kolong, cover jok belakang, ring protektor blok mesin, wind shield, stand, tankpads HRC, logo Honda plus tulisan Hornet dari chrom, ring pelindung bibir velg, alarm, cover spidometer berlapis warna emas dll (sebagian aksesoris bisa dilihat di Hornet biru). Intinya, konsumen terpenuhi hasrat modifnya, konsumen pun enggan berpindah ke lain hati….

Sumber: Motorradmarkt 1/2009

Foto: HP-Klassikku