Kita lanjutkan bicara mengenai cara-cara meningkatkan top speed. Cara yang kali ini sebenarnya termasuk gampang-gampang susah untuk kita-kita di Indonesia yang motornya bertenaga relatif kecil. Cara yang saya maksud adalah memakai fairing.
Kenapa gampang-gampang susah? Ya karena pemilihan fairing harus memperhatikan berbagai faktor. Bukan hanya desainnya saja yang (minimal) harus sreg dengan selera kita (males dong pake motor ga sesuai selera…), tetapi juga harus diperhatikan bobot dan aerodinamikanya.
Bobot fairing harus seminimal mungkin agar tidak menahan akselerasi awal dan terlalu membebani saat ingin meraih top speed. Nah, berhubung saat ini fairing yang ringan terbuat dari serat karbon, susah toh… muahaaaaaallnya itu lho…
Faktor kedua adalah aerodinamika. Fairing jangan sampai besarnya berlebihan karena malah akan merugikan sisi aerodinamika motor. Fairing yang kedodoran malah akan menurunkan top speed, bukan menambahnya, sebab bukan cuma tertahan oleh lebar si fairing, tetapi juga oleh turbulensi udara yang tercipta di sela-sela fairing yang kedodoran itu.
Buat motor-motor yang umum beredar di tanah air yang tenaganya terbatas, wajar saja penggunaan fairing sebatas dibilang “buat gaya”, sebab hasil yang diraih dengan penambahan bobotnya dibandingkan dengan keuntungan dari segi aerodinamikanya jelek. Jadi risikonya, akselerasinya melambat, top speed yang ingin dicapai pun sukar diraih. Fairing yang dipasang pun sia-sia! Buat apa pasang fairing, kalau motornya mau tembus 140 Km/h saja tidak sanggup??? Artinya tujuan penggunaan fairing yang dimaksudkan untuk mengurangi daya hambat udara, kurang terpakai! Di motor besar maupun mobil-mobil berkelas, desain yang dari segi aerodinamika baik sangat dikejar, bukan cuma untuk mengejar kestabilan di kecepatan tinggi, tetapi bodi yang aerodinamis juga bisa meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Nah, sekarang terserah pertimbangan masing-masing untuk penggunaan fairing. Sebagai gambaran yang jelas, saya kutip lagi dari pembahasan Kawasaki ER-6 yang naked dan yang berfairing yang pernah kita bahas 2 bulan lalu:
1. Dengan bobot 196 Kg, Kawasaki ER-6n lebih ringan 4 Kg dibandingkan ER-6f (berfairing)
2. Mesin sama, sama-sama bertenaga 72 PS @ 8500 rpm dan bertorsi max 66 Nm @ 7000 rpm.
3.Akselerasi ER-6n dari 0-100 KM/h adalah 3,9 detik, sedangkan saudara kembarnya yang berfairing butuh 4,2 detik.
4. Sebaliknya, tanpa fairing, ER-6n hanya mau digeber hingga 200 Km/h, kalah dari ER-6f yang memiliki top speed 210 Km/h.
Berdasarkan data ini, dapat disimpulkan dong, kalau fairing menambah top speed, tetapi seiring bertambahnya bobot, akselerasinya pun jadi turun….
Foto: HP-Klassikku