Menutup pembicaraan kita tentang Moto2, kita beralih menuju ke 2 tim balap yang sudah mapan, yakni timnya Fausto Gresini dan Herve Poncharal.
Konstruktor yang beruntung terpilih menjadi klien Gresini adalah konstruktor yang namanya pasti Bro semua sudah kenal, yakni Moriwaki. MD 600 hasil racikan mahaguru korek MAmoru Moriwaki yang sudah lebih dari satu dasawarsa dekat dan sering bekerjasama dengan Honda tentunya menjadi jaminan tersendiri bagi Gresini untuk menggandeng Moriwaki.
Saat pertama kali diperkenalkan di GP Jepang, MD 600 terkesan berat dan terlalu kokoh. Namun, akhir September lalu motor ini berhasil menjuarai balap AJC 250 cc dan meninggalkan pesaing terdekatnya dengan jarak yang cukup meyakinkan, yakni 6 detik. Pengalaman sebagai konstruktor selama 20 tahun dan prestasi ini tentunya semakin meyakinkan Gresini. Gresini berkomentar, ” kami mengamati 6 proyek Moto2 dan menurut kami, Moriwakilah yang paling lengkap dan paling siap tempur serta paling mampu memberikan jaminan untuk kerjasama dan meraih kesuksesan. Buat apa saya mengambil yang lain, yang masih tertera di atas kertas, kalau Moriwaki sudah mampu meraih kemenangan dalam balap?” Tim Gresini adalah tim yang terlibat di balap motor, mereka memiliki kantor dan lapangan parkir untuk truk-truk mereka, tetapi tidak memiliki sentra pengembangan teknologi sendiri. Karena itulah, Gresini tergantung dengan partner semacam Moriwaki.
Berbeda keadaannya dengan tim Monsieur Herve Poncharal, pria asal Prancis yang memanageri tim Tech3 yang tahun depan nanti mempekerjakan 2 orang cowboy Texas di timnya, Edwards dan Spies, so don’t mess with Texas! Tech3 mempunyai sentra pengembangan teknologi balap tersendiri di Prancis, singkatnya tim ini tidak perlu pusing-pusing mencari partner konstruktor! Laboratorium yang isinya mekanik ini dikomandoi oleh Guy Coulon, sang kepala mekanik Edwards di MotoGP. Dengan demikian Poncharal juga sibuk dengan proyek tim Moto2nya. Menurutnya, sangat menyenangkan bisa membangun motor sendiri. Proyek ini pun dianggapnya sebagai laboraorium untuk masa depan nanti, dimana ada kemungkinan Tech 3 bisa membuat motor dan sasis sendiri. Selain itu, tim Moto2 dianggapnya sebagai ladang untuk menggembleng para pembalapnya untuk menggempur MotoGP. Poncharal berpendapat, lebih baik mengembangkan pembalap sendiri dibandingkan membeli talenta mahal-mahal untuk balap di kelas para raja. “Di tim kami, kalau ada pembalap yang mampu masuk 3 besar Moto2, maka dia tahun depannya boleh balap di MotoGP. Namun, itu ide saya lho… tentunya harus disetujui oleh Yamaha!”

Sumber: idem