Bukan… Kali ini bukan mau membahas Ducati Multistrada 1200 yang akhirnya tidak jadi dikasih nama Ducati Cayenne walaupun gosipnya orang dalam Ducati tidak ingin menggunakan nama Multistrada karena imagenya yang kurang oke (di sini lho…bukan di Indonesia), kita akan membahas tentang test ride yang diselenggarakan pabrikan untuk memperkenalkan motor barunya. Saya pakai gambar ini karena produk ini produk gress. Yang namanya produk gress kan selalu di test ride oleh media….
Seperti yang bisa Bro pantau di blog-blog motor terkemuka tanah air, ada satu hal yang kurang saat YMKI mengundang para blogger papan atas tanah air jika dibandingkan dengan yang dilakukan AHM: test ride! Yup, kali ini kita akan membahas secara singkat dan sesat, kenapa sampai YMKI tidak memberikan kesempatan test ride Jupiter Z anyar. Apakah itu alasan waktu? Alasan biaya? Alasan keterbatasan prasarana? Alasan ilmu pirit-pirit? Atau main aman?
Dalam terawang gaibnya, Ki Gede Anue melihat alasan terakhir menjadi alasan yang paling kuat. Di satu sisi, langkah YMKI dan AHM menjalin simbiosis mutualisme dengan blogger di dalam terawang gaib beliau dianggap sebagai langkah jitu! Yang namanya bersahabat, tentunya banyak hasil positif yang bisa diperoleh. Kalaupun ada yang minus, blogger tentu tetap akan “menyentil”, tetapi bukan “menampar”. Tentunya sebuah point besar sudah dikantongi produsen melalui langkah semacam ini.
Kita menuju ke “main aman”. Ada hal yang bisa jadi dipelajari YMKI dari hasilnya AHM memberikan kesempatan test ride kepada blogger. Hasil tulisan blogger yang mungkin saja berupa komentar yang bernada negatif tentunya bisa merugikan sebuah produk baru. Jika produsen hanya menyajikan desain dan fitur seperti yang dilakukan YMKI, tentunya itu pun bisa disaksikan melalui foto dan artikel oleh para pengunjung blog, sedangkan kalau mengenai test ride, pengunjung blog harus menyerahkan tugas ini kepada si blogger, yakni mengukur karakteristik sebuah motor. Nah, disinilah ada kemungkinan, dimana si blogger akan mengkritik salah satu atau beberapa sisi karakter si motor baru. Dalam hal inilah muncul dilema:
Subjektivitas! Bukan…bukan meremehkan kemampuan blogger untuk menilai sebuah produk secara objektif. Namun, kalau saya mengacu pada teori para penganut aliran konstruktivisme, intinya di dunia ini orang tidak bisa mengukur segala sesuatu secara objektif. Semua yang diterima oleh panca indera manusia selalu tergantung dengan panca indera, pengalaman dan faktor individu si penerima input. Hal yang paling menentukan disini adalah yang disebut Lebenswelt atau lingkungan/ tempat hidup. Contohnya begini:

Di dalam artikel majalah PS bulan Desember yang membahas Kawasaki Ninja sejak generasi awal hingga teranyar, Kawasaki Ninja 250 R dianggap sebagai motor yang mengubah image Ninja, karena bertenaga kecil dan murah. Motor yang dibilang memiliki handling top ini dibilang tidak ada peranti aftermarket dan pilihan bannya. Nah, itu kan dari sudut pandang direksi Jerman untuk pembaca Jerman, makanya ada pernyataan murah, bertenaga kecil, peranti aftermarket /ban tidak ada! Kalau di Indonesia, beda lagi dong…. Meskipun berbeda 180°, tidak bisa kan kalau dibilang redaksi Jerman ngaco, sebab Lebenswelt-nya dia memang begitu.

Wah, kalau semua itu subjektif, bisa kacau dong dunia ini! Menurut teori aliran konstruktivisme, dunia itu tidak kacau karena adanya konvensi atau kesepakatan, ya misalnya adanya ukuran satu liter itu berapa, 2×3 itu berapa, akselerasi motor itu berapa detik dan sebagainya (ya, yang namanya teori pasti ada titik lemahnya lah…). Nah, kalau menilai motor itu tarikannya kuat atau tidak, posisi duduk atau tangan enak atau tidak, kan itu sangat tergantung dari Lebenswelt dan pengalaman hidup si pembuat berita!

Tidak semua blogger sehari-harinya mengendarai motor bebek kan… Tentunya ini bisa menjadi faktor yang riskan, sebab motor bebek rata-rata tenaganya tidak sebesar motor batangan. Artinya akan ada risiko munculnya komentar misalnya: Tenaga kurang…tarikan di putaran atas kurang responsif. Dari posisi duduk pun bisa jadi permasalahan. Misalkan ketika saya biasa membawa Tiger dengan setang pendek dan menjajal Suzuki Smash, maka hal pertama yang saya rasa kurang nyaman adalah posisi duduk dan posisi tangan. Kalau bloggernya biasa naik matic atau motor lainnya yang mesinnya extra halus, bisa jadi dia akan tulis: “mesin terasa agak kasar!” Di dalam test ride, bisa saja ada blogger yang menuliskan demikian. Bukannya si blogger tidak berusaha objektif, tetapi Lebenswelt-nya si blogger membuatnya berkomentar demikian (subjektif)–yang dari sudut pandang si blogger objektif! Bingung???? Pegangan…..

Terus apa ada jalan keluarnya? Ada dooong… Berikan saja motor bebek sebagai pembanding! Dari perbandingan, ruang “subjektivitas” ini akan terbatasi. Supaya enak dan etis, silahkan bandingkan dengan Jupiter Z lama misalnya. Dan biar lebih safe lagi, sediakan instruktur atau pemandu yang bisa menjelaskan, ubahan apa saja yang semakin membuat Jupiter Z anyar lebih baik dan sreg di hati dibandingkan versi sebelumnya. Namun, sebagai blogger, tentu saja akan berusaha mencari titik lemah sebuah produk. Kalau si produsen jantan, itu tentunya menjadi masukan bagus dan pengunjung blog sendiri belum tentu selalu sependapat dengan si bloggernya kan…

Terawang gaib by Ki Gede Anue

Foto: