Pemerintah DKI Jakarta pada Oktober ini akan menerapkan aturan uji emisi pada kendaraan bermotor. Bagi yang tidak lulus uji emisi ini akan didenda dengan pidana kurungan 6 bulan atau denda Rp 50 juta.Kewajiban berdasarkan Perda No.2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Dalam pasal 19 disebutkan Kendaraan Bermotor Wajib Memenuhi Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor

Tulisan bergaris miring diatas saya ambil dari sebuah artikel di website Motorplus. Kaget euy… Bayangkan, tidak lulus emisi dikurung 6 bulan atau didenda 50 juta rupiah! Sebesar itukah kejahatan pengendara yang kendaraannya tidak lulus emisi, tetapi tetap dibawa beroperasional? Entahlah bagaimana pelaksanaannya di lapangan kelak (atau sudah mulai wajib ya?). Jika aturan ini benar-benar ditegakkan, dan yang melanggar benar-benar kena denda sampai 50 juta rupiah, itu artinya: meletus balon hijau DUAAAAAAAAAARRRRRRRR…….

Yang namanya balon, kan kalau ditiup terus menerus pasti meledak! Sama dengan jumlah populasi motor yang membengkak akibat impotennya aparat-aparat terkait dalam mengendalikan laju pertumbuhan kendaraan. Di satu sisi, pastinya ATPM banyak diuntungkan dalam hal ini! Ya bisnis penjualan motor baru sepertinya bisa tetap bernafas lega. Yang namanya konsumen kan tidak mau repot dan was-was kalau motornya tidak tembus uji emisi, jadi secara tidak langsung, banyak yang lebih menoleh ke motor baru dibandingkan motor bekas, terutama saat menjelang dan awal diberlakukannya aturan yang dendanya ajaib itu. Apa artinya denda sejahat itu???? Artinya, ada niat untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya secara signifikan. Di satu sisi, lingkungan hidup memang sangat butuh perhatian. Di sisi lain, ketahuan kalau kemacetan lalu lintas tidak bisa lagi ditolerir banyak orang (terutama kaum elit-red). Nah, lingkungan hidup yang seharusnya dari dulu diperhatikan pun dijadikan senjata untuk mengurangi jumlah kendaraan!
Para produsen sih senang… dengan adanya aturan uji emisi semacam ini, tidak sebatas penjualan motor baru saja yang mendapat angin, tetapi juga komponen mesin. Memang sudah seharusnya kita selalu menjaga kondisi motor kita, tetapi tentunya akan ada motor-motor tertentu yang akan kesulitan untuk mengikuti aturan ini, yakni yang onderdilnya susah didapat atau harganya lumayan bikin geleng-geleng walaupun tidak ada musik ajep-ajep! Belum lagi masih simpang siurnya batas-batas emisi untuk motor-motor tertentu, terlebih lagi untuk motor-motor 2 tak (silahkan dibaca artikelnya di website Motorplus).
Ada kejadian, tentu akan ada efeknya! Tujuan uji emisi yang ingin menyehatkan lingkungan mudah-mudahan tercapai….. Namun, tujuan terselubung yakni mengurangi jumlah kendaraan belum tentu! Adanya aturan ini bisa dimanfaatkan oleh produsen yang bisa bergerak cepat dan berani ambil risiko investasi. Dan gerakan cepat itu adalah: Meluncurkan motor listrik di Indonesia, terutama di Jakarta yang terkena aturan itu! Masa motor listrik mau diuji emisi????? Enak toh yang nanti punya motor listrik! Kalau harga motor listrik ekonomis dan terbukti banyak menguntungkan konsumen, ujung-ujungnya ya pada beralih ke motor listrik! Kalau persyaratan kreditnya mudah dan harganya terjangkau, ya artinya akan banyak permintaan yang berujung pada semakin membengkaknya populasi motor! Artinya, tujuan untuk mengurangi jumlah kendaraan GAGAL!
Apakah kalau nantinya jumlah motor listrik bisa meningkat hingga 10 % dari jumlah si roda dua lingkungan hidup kita akan jadi sedikit lebih baik? Tidak semudah itu Bro…. Kalau listrik yang jadi sumber tenaga si motor masih dihasilkan PLN dengan generator berbahan bakar solar (sotoy nih-red), ya artinya sama aja bohong! Pencemaran udaranya tetap ada/ tidak berkurang secara signifikan! Kalau memang mau pencemaran udaranya menghilang, jumlah kendaraan yang menggunakan tenaga listrik harus diimbangi dengan sumber-sumber tenaga listrik yang dihasilkan dengan teknologi ramah lingkungan: tenaga air kek, tenaga angin kek, tenaga surya kek, tenaga surya saputra kek, tenaga dalam kek…………
Foto: HP-Klassikku