Bro penggemar balap motor pasti kenal dengan motor yang satu ini, Yamaha YZF-R7 OW-02, salah satu motor balap exotis di muka bumi. Pertama motor ini muncul, pasti banyak yang langsung jatuh hati dengan kegagahan dan warnanya yang extra sporty. Ditambah lagi dengan spek yang ditawarkan, banyak pencinta balap motor yang langsung susah tidur. Terlebih lagi saat mengetahui motor ini hanya diproduksi 500 unit saja untuk memenuhi homoglasi.
Saat R7 dilahirkan, pabrikan Jepang memang masih berkiblat kepada paham: motor juara, speknya harus pol! Akibatnya banyak dilahirkan motor-motor mahal untuk menggempur arena WSBK. Sebut saja Honda RC 45 yang masih lebih berprestasi dibandingkan Yamaha R7. Ya memang sih R7 hanya beroperasi selama 2 tahun, tetapi yang namanya tanpa gelar juara dunia ya tanpa gelar! Berbeda dengan RC45 yang ditahun 1997 berhasil menikmati sejuknya udara dari podium tertinggi bersama John Kocinski.
Berbeda dengan RC 45 yang terasa kurang sembalap, R7 benar-benar dirancang tidak kenal kompromi. R7 benar-benar dirancang untuk balap. Terlihat dari karakternya yang memiliki gigi satu sangat panjang dan tenaganya yang baru keluar di 8500 rpm. Motor yang lahir tahun 1999 dengan harga 55000 DM inklusif race-kit ini benar-benar letoy di bawah rpm tersebut, bahkan di putaran mesin rendah mesinnya dijuluki fuel-to-noise-converter! Harga yang extra mahal ini akibat penggunaan komponen-komponen yang memang siap turun balap, sebut saja 5 klep titanium per silinder, setang piston titanium dan piston extra ringan yang siap menghasilkan tenaga hingga 132 PS @ 13300 rpm dan 77 Nm @10700 rpm (sudah pakai racing kit). Tanki yang besar (23 liter!) dan dirancang untuk dapat diisi bensin dengan cepat juga menunjukkan totalitasnya untuk balap. Bikers yang berniat menggunakannya sebagai motor harian pun biasanya berpikir ulang, maklum, sangat tidak nyaman untuk harian! Bayangkan, posisi setang hanya 15 mm lebih tinggi dibandingkan tinggi jok! Tanki yang besar dan panjang pun semakin memaksa bikers untuk menggeser posisi duduknya ke belakang yang berakibat tukang urut langganan semakin sumringah kalau si pelanggan menggebet R7.
Karakter tenaganya yang terus menerus meminta putaran mesin tinggi membuat motor ini samaa sekali tidak cocok dipakai di jalan raya ataupun jalan yang penuh tikungan patah-patah. Pembalap pun pada kesulitan menggali potensi R7, hanya Noriyuki Haga saja yang terbukti paling sanggup memacu sang monster ini. Itu pun dengan semboyan: piala atau klinik! R7 bakal keteteran kalau bertemu tikungan patah-patah, disini pembalap harus main selip kopling dan pintar menjaga putaran mesin. Tenaga yang dikeluarkan pun terlalu menggebu-gebu, tetapi lucunya bisa turun juga saat dipacu, misalnya dari 8500 rpm naik terus hingga 11000 rpm, eh turun hingga masuk 12000 rpm, baru selepas 12000 rpm naik lagi hingga meraih tenaga maksimum di 13300 rpm. Sulit memang untuk bisa menang menggunakan R7 yang sama sekali tidak rider friendly.
Meskipun demikian, dengan segala fitur dan kemolekan desainnya, R7 punya tempat tersendiri di hati maniak balap motor. Desain dan warnanya yang khas tidak bisa dilupakan begitu saja. Akibat jumlahnya yang terbatas, motor ini pun bisa dibilang sebagai motor para kolektor (dan tentunya di kemudian hari menjadi motor klassik). Yamaha R1 tidak akan sesempurna ini tanpa kehadiran R7. Banyak jurus-jurus R7 yang diterapkan di R1. Soal harga, R1 jelas lebih ekonomis. Soal performa pun demikian. Tidak heran R7 pada akhirnya hanya menjadi motor yang sering dielus-elus ketimbang digeber habis-habisan. Sebagai perbandingan: Akselerasi 0-100 Km/jam R7: 4,4 detik, sedangkan R1: 3,2 detik. Tampaknya semboyan time is money sangat terlihat disini. Motor yang dulunya extra mahal akan tunduk kepada motor yang jauh lebih murah, waktu lah yang memungkinkannya……..