Mendengar bangkit kembalinya Kymco dengan nama Benson, saya merasa cukup senang sebab ada tambahan pilihan di pasar dan ada produk yang bisa menaikkan kualitas barang di pasaran secara tidak langsung. Mengapa kualitas bisa naik? Ya simpel saja, bukankah hadirnya sebuah produk bisa membawa dampak bagi produk kompetitornya?

Saya punya seorang Om yang dulunya bekerja di Kymco. Memang saya tidak terlalu dekat dengan Om yang satu ini. Waktu Lebaran 4 atau 5 tahun lalu dia bercerita dengan semangat, bahwa Kymco dan teknologi di pabriknya canggih! Si Om saya cerita dengan semangat. Saya sih dengerin aja, namanya juga dia bekerja di situ, ya kemungkinan besar omongan positif itu dikarenakan faktor dia senang bekerja di Kymco, bukan karena memang dia sudah membandingkan pabrik Kymco dengan pabrikan lain. Namun, kalau dilihat, memang produk Kymco saat itu cukup tampil beda, bahkan bebek Spyke saat itu menjadi bebek 4 tak pertama  dengan suspensi Monoshock bukan? Sayang bentuknya yang nyeleneh dan nama Kymco yang belum sedahsyat pabrikan Jepang membuat motor ini tidak laris manis. Produk motor maticnya pun saat itu belum bisa menggoyang keperkasaan motor bebek, sayang….

Untuk pertama kalinya saya mengendarai Kymco sekitar akhir Desember lalu. Saat itu saya menemani teman saya yang mau menggebet mercy Tiger. Karena si Tiger Hitam terlalu boros, kami pakai saja motor yang sebenarnya dititipkan di rumah teman saya itu. Si pemilik yang bekerja di Australia memang sedang menaruh motor Kymconya di rumah teman saya. Kalau tidak salah motor exotis ini bernama Kymco Trend 125 SR  Metica GLX (*thx to Bro Treeweeluu) . Sekitar jam 2 siang, kami pun berboncengan (total berat kami berdua=sekitar 160 Kg hehehe…) dari Pondok Cabe ke Daan Mogot, lumayan jauh lah, dan lewat trek Permata Hijau yang lumayan lengang dan bumpy. Sebelum naik motor, jujur saya meremehkan si silver:

-Bodi gambot, pasti tidak lincah..

-Motor non Jepang, powernya pasti alakadar, ngerung tinggi dan jalan di tempat..

-Velg ring kecil, pasti kerasa banget kalau lewat jalan rusak, pasti kurang sip meredam rusaknya permukaan jalan… Motor bakal sering mentok di polisi tidur..

Ternyata, setelah saya coba, ada beberapa hal yang saya temukan:

-soal power, ni motor asli asoy… digeber hingga 90 Km/jam, masih mau banget nambah, cuma teman saya yang tidak mau ngebut-ngebut, lagian, ni motor orang Bro… Soal akselerasi pun termasuk spontan, padahal saya dan teman saya termasuk gerombolan siberat! Tidak terpikir sebelumnya kalau Kymco punya tenaga yahud!

-Soal peredaman: ternyata ban ring kecil benar-benar bukan kelemahan! Entah bagaimana, sempat motor terpaksa menerabas lubang di kecepatan tinggi maupun rendah: rasanya kaya naik Mercedes! Asli saya bingung sendiri merasakan ampuhnya redaman si Kymco. Mungkin ban gendutnya sanggup meredam permukaan jalan yang sedikit rusak, tetapi untuk lubang yang sebesar tampah,  ini pasti karena kelihaian suspensi dan rangkanya!

-Meskipun ini motor sudah berumur, tidak terdengar bunyi bodi plastik bergetar layaknya yang timbul di motor-motor bebek negara matahari terbit! Singkatnya, soal kenyamanan okeh! Jok, suspensi dan rangka menawarkan kenyamanan berkendara yang prima.

-Soal tampang: kurang oke sih menurut selera saya, tapi exotis! Serasa naik motor CBU!

Kekurangannya:

-lampu depan cukup terang, tetapi terlalu fokus ke tengah, pinggiran jalan kurang dapat penyinaran.

-Bodi terlalu gambot. Sebenarnya di bagian depan dan buritan tidak terlalu bermasalah, tetapi di dek bawah sebaiknya sedikit dibuat lebih ramping agar lebih mudah saat harus menurunkan kaki di tengah padatnya lalu lintas.

-Kurang cocok berkendara di kemacetan, ya karena bodinya yang terlalu besar itu… padahal secara handling cukup lincah!

Petuah Gaib untuk Benson:

1. Jaring sebanyak mungkin calon korban untuk test ride! Masih banyak orang yang skeptis dan memandang remeh Kymco a.k.a Benson! Persilahkan mereka melewati jalan yang justru agak hancur!

2. Lebih perhatikan selera konsumen! Kalau sulit mengubah-ubah desain, minimal dikejar dari pengecatannya! Soal harga tinggi tidak perlu khawatir, justru tunjukkan, kalau harga mahal itu setimpal dengan kualitas dan kepuasan berkendara. Jadikan harga tinggi sebagai senjata, gunakan istilah “berkelas” atau “ekslusif”  untuk meracuni calon korban. Bukankah mereka akan sangat tertarik jika dengan dana 20 jutaan bisa dianggap membeli motor dengan alasan “prestise”?

3. Perkuat hubungan dengan konsumen! Asuh komunitas! Merekalah yang nantinya secara tidak langsung menjadi jajaran “Public Relations” yang paling “beracun”. “Racuni” calon korban dengan kata “lifestyle”. Tahukah Bro, bagaimana VW kodok bisa merangsek ke pasar Amerika Serikat padahal mereka menawarkan mobil dengan teknologi biasa saja dan tenaga yang jauh di bawah mobil-mobil AS sendiri? Yup, “lifestyle” lah yang dijadikan slogan tim marketing VW  Amerika Serikat saat itu!

 

Petuah Gaib by Ki Gede Anue

Foto: HP-Klassikku