Berhubung saat ini para penggemar MotoGP lagi ketar-ketir menantikan MotoGP Jepang yang terombang-ambing efek meletusnya gunung di belahan utara bumi ini, blog sesat sekalian saja mengikuti musim “gunung meletus” kali ini.

Memang negara kita dan segenap rakyatnya sangat jarang bisa berprestasi di tingkat dunia dan diakui memberikan efek besar terhadap berbagai sendi kehidupan masyarakat internasional, tetapi alam kita sudah terbukti bisa bicara banyak di ajang internasional, bahkan sangat ditakuti. Nah, bagian alam manakah yang sangat ditakuti dunia internasional itu, apalagi kalau bukan gunung berapinya!

Bro tentunya tahu, kalau gunung Krakatau dengan letusannya membuat doi begitu terkenal. Nah ada lagi lho gunung yang lebih terkenal letusannya, yakni gunung Tambora yang nongol di muka bumi Indonesia, tepatnya di pulau Sumbawa. Letusan doi di tahun 1815 bahkan disebut-sebut, dalam periode yang tercatat manusia, sebagai letusan yang paling banyak minta korban jiwa, yakni lebih dari 70 ribu jiwa! Ada bahkan yang bilang lebih dari 90 ribu jiwa! Maklum kalau simpang siur, wong sekarang saja masih suka kesulitan menentukan jumlah korban sebuah bencana alam kan? Kedahsyatan letusan Tambora cukup legendaris, sebab bukan cuma bisa terdengar dari pulau Sumatera, tetapi abunya bisa membuat tahun itu menjadi tahun “bebas musim panas”! Akibat abunya, Eropa dan Amerika mengalami gagal panen, itulah sebabnya korban yang timbul begitu banyak.

Sesuai judul, yup, kita belum selesai. Apakah Bro baru mendengar sekarang adanya Gunung Toba? Kalau Danau Toba tahu dong…nah Gunung Toba itu ya posisinya di Danau Toba yang sekarang. Orang Jerman menjuluki gunung yang satu ini sebagai Supervulkan, atau ada yang bilang Megavulkan! Bagaimana tidak, wong kawahnya itu ya seluas danau Toba saat ini!

Jangan heran juga kalau Bro baru dengar istilah Gunung Toba sekarang, sebab penemuan ini memang masih relatif baru, baru beberapa tahun. Itupun akibat kerjasama tidak sengaja antara ahli geologi, kelautan dan seorang ahli yang meneliti lapisan es di kutub (utara kalau gak salah). Dari penelitian mereka, mereka sama-sama menemukan, bahwa sekitar 74000 tahun yang lalu, permukaan bumi mengalami perubahan suhu drastis, turun mendadak hingga 10 derajat celcius! Akibatnya, banyak makhluk hidup dan vegetasi yang punah.

Para ahli punya 2 dugaan, kalau tidak akibat abu yang timbul dari meteor atau asteroid raksasa yang menghantam bumi, ya dari letusan gunung berapi. Singkatnya, si ahli geologi ini yang berhasil meminta hasil penelitian si ahli yang meneliti tanah di dasar laut dan ahli yang ngubek-ngubek Kutub Utara. Saya lupa bagaimana ceritanya, tetapi sampailah ia di Danau Toba, dan setelah meneliti unsur tanah di sana, ternyata hasilnya cocok dan sama dengan zat yang terkandung di dalam sample tanah dari si ahli kelautan dan ahli kutub. Mereka bertiga tadinya meneliti sendiri-sendiri, tetapi akibta sama-sama menemukan angka 74000 tahun itu, maka bisa disimpulkan, penyebabnya sama: Letusan si Supervulkan Toba. Akibat letusan ini, saat itu diperkirakan populasi manusia tinggal 10 ribu orang saja!

Saat ini, Indonesia pun masih ditakuti dengan berbagai potensi gunung berapinya. Namun, kita masih boleh relatif tenang jika dibandingkan warga Amerika Serikat, sebab, potensi munculnya Supervulkan edisi kedua bukan di Indonesia, tetapi di taman nasional Yellow Stone di Amrik  sana. Btw, semua informasi ini saya tonton di TV Jerman sekitar 1 tahun lalu, eh pas nonton 2012, ternyata yang dipakai sebagai latar belakang permasalahan juga letusan gunung berapi ya… dan lebih tepat lagi si Yellow Stone.

Nyasar sedikit nih, kalau ditanya, kiamat itu akibat terkena tumbukan benda langit layaknya film Armagedon atau malah dari dalam perut bumi itu sendiri, sepertinya saya pilih dari perut bumi sendiri (ya berdasarkan pengetahuan pribadi yang sangat terbatas tentang gambaran kiamat di Al Quran sih…).