Minggu sore lalu, Yamaha Tech 3 mengumumkan perpanjangan kontrak sang Texas Tornado, Colin Edwards, di tim satelit Yamaha MotoGP. Edwards dianggap sebagai pribadi pekerja keras, menyenangkan dan antusias dalam dunia balap motor, Tech 3 pun puas dengan performa Edwards yang masih lumayan tajam dan kadang bisa membuat kejutan. Meskipun akhir-akhir ini performa Edwards terlihat menurun dan usianya tidak muda lagi, Tech 3 tetap mempercayakan jok M1 mereka dikangkangi pembalap yang pernah race di Sentul dalam ajang WSBK 1997 lalu. Pembalap yang menggeber YZF-750 di WSBK Sentul ini rasanya bukan dipertahankan di MotoGP oleh Tech 3 semata, tetapi ada kepentingan besar Yamaha di sini.

Semua tahu, Edwards bisa diandalkan sebagai seorang guru alias mentor untuk pembalap muda. James Toseland dan Ben Spies sudah dibantunya untuk bisa lekas beradaptasi dan berprestasi di MotoGP. Tak ayal Yamaha pun memberikan kepercayaan kepada Edwards untuk memoles rekan setimnya tahun depan, yakni Cal Crutchlow. Darah muda, ambisi dan kemampuan Crutchlow diharapkan bisa dipoles Edwards sehingga bisa menjadi senjata Yamaha untuk meneruskan dominasinya.

Apakah sebatas itu alasannya? Tidak…. itu katanya Ki Gede Anue. Melalui Terawang Gaib, doi melihat Yamaha tidak sudi melepaskan Edwards dari skuad MotoGPnya. Edwards adalah satu-satunya builder M1 yang sudah terbukti performanya, dan kehadirannya semakin berarti karena hengkangnya Rossi tahun depan. Jelas, Yamaha masih meragukan kemampuan Spies dan Lorenzo dalam membangun motor. Spies memang sudah terbukti dahsyat dalam berduel menggunakan motor apapun, bahkan kemarin berhasil membuat Dovi yang kelihatan seperti Rookie yang kemakan nafsu sendiri. Namun, untuk soal membangun motor yang kompetitif, itu masih perlu pembuktian! Nanti kalau motornya kurang kompetitif, bisa-bisa hanya Spies yang maju sendirian layaknya Stoner tahun 2007.

Bagaimana dengan Lorenzo? Ya makin hari makin jelas, pembalap yang satu ini belum memiliki karakter sebagai builder, ia baru membuktikan kepiawaiannya sebagai pemakai. Dan seperti disinggung sebelumnya, doi sendiri tidak mau ambil pusing soal teknis mesin, suspensi dan berbagai aspek motor lainnya. Pokoknya cuma bisa bilang kurang apa, mekaniknyalah yang putar otak. Dengan kelemahan di sektor ini, Yamaha memang mengambil keputusan tepat dengan menahan Edwards di kelas pararaja. Terlebih dia masih kompetitif dan bisa mengikuti semua seri, sehingga pengembangan motor M1 bisa berjalan cepat dan efektif.

Sekarang kita beralih ke sang pemimpin klasemen… Finish ke-4 yang merupakan finish terburuk, dan juga bagi Yamaha secara keseluruhan membuat pabrikan rni lumayan terpukul. Mereka harus mengakui Aragon bukan sirkuit favoritnya. Lorenzo yang disalip Hayden menjelang akhir race (ngakak liatnya-red) tampak cukup terpukul. Doi buruan menghilang dari kamera sesampainya di paddock. Bagaimana tidak malu, wong disalip di tikungan, tempat dimana M1 paling sulit ditundukkan!

Di akhir race disinyalir Yamaha Lorenzo bermasalah gripnya, terutama di roda depan. Di sisi lain, doi memang tinggal bermain aman saja. Lorenzo sendiri menyatakan, doi masih tenang dalam mempertahankan 56 poin keunggulannya. Rekan setimnya, Rossi mengiyakan pendapat Lorenzo. Yamaha mengalami kesulitan dengan Aragon. Sebenarnya performa Yamaha normal-normal saja, hanya saja, kompetitornya Honda dan Ducati sudah bisa mengatasi problema front end mereka. Semenjak set-up kedua kompetitor ini ketemu, kocar-kacirlah Yamaha yang secara power mesin di bawah keduanya.

Menanggapi soal power, Burgess mengatakan, dia sudah punya beberapa ide baru di kepalanya (masalahnya diterapkan tidak ya???). Di Motegi nanti, Lorenzo bertekad kembali meraih podium tertinggi, tanpa mengurangi faktor “main aman”. Lorenzo sendiri akan mendapatkan mesin baru di seri motegi mendatang. Kita lihat saja hasilnya nanti, toh Motegi bukan sirkuit yang meminta power yang extra besar…