Naik ke MotoGP sebagai Juara Dunia GP 250, Melandri dinilai sangat menjanjikan. Penampilannya bersama Yamaha di musim perdananya memang tidak terlalu luar biasa, tetapi bisa dinilang cukup baik. Penampilan puncak Melandri di tahun 2005 sangat menjanjikan dan bisa meraih tempat terbaik di kelas MotoGP, tidak heran, dengan aksi gilanya di atas RC 211 V tim Gresini, doi berhasil menjadi wakil juara dunia alias rangking 2 di bawah Valentino Rossi. Hal ini tentunya menjadi dasar, banyaknya fans Marco yang berharap besar ketika doi pindah ke Ducati pada tahun 2008. Gaya Melandri yang seringkali terlihat brutal dan sering mempertontonkan aksi mengerem dan overtaking gila membuat banyak orang beranggapan, Marco bisa bicara banyak dengan Ducati, bahkan menjadi juara dunia.

Kenyataan berbicara lain. Karier di Ducati menjadi masa extra suram bagi Melandri dan tampaknya dianggap sebagian orang membekas pada psikologi Melandri hingga saat ini. Prestasinya tahun ini di atas Gresini juga dianggap mengecewakan. Apalagi bersama Gresini Honda dia pernah berjaya di tahun 2005 lalu.

Banyak yang beranggapan, masa Melandri di MotoGP sudah berakhir, mentalnya sudah hancur dan tidak lagi kompetitif di MotoGP. Melandri sendiri membantah hal itu. Doi mengatakan, kepindahan ke WSBK adalah pilihannya sendiri. Dan doi merasa senang dan lebih diterima di WSBK dan tidak menyesali keputusannya meninggalkan MotoGP, terlebih sebenarnya doi mendapatkan tempat menggantikan De Puniet di atas Honda Lucio Cechinello. Melandri merasakan keputusannya benar. Dia bilang, dia benar-benar bisa merasakan pembalap papan bawah yang frustasi berkutat dengan setting motor dan sebagainya. Ketika mereka menyadari, bahwa secara teknis dan komponen mereka kalah, motivasi mereka akan hilang. (Ingat Bro, itu kata Melandri, dan tidak semuanya bagus! Juara adalah orang-orang yang tidak menyerah dalam segala keterbatasan, walaupun susah. Tidak heran, juara itu hanya segelintir orang-red)

Melandri pun mengomentari test Rossi di Valencia. Dia langsung terkenang masa-masa lalu ketika pindah ke Ducati. Dia Bilang: “Saya seperti menonton film yang sama.” Maksudnya, dia benar-benar merasakan, apa yang Rossi rasakan. Melandri yang pernah 22 kali juara GP ini  berpendapat, rangking 3 dari bawah yang dicetak Rossi dengan Ducati bukanlah pertanda baik. Memang Rossi bilang, dirinya sedang tidak berburu lap time tercepat, tetapi berusaha mengenal motor dan mengumpulkan feedback untuk para teknisi Ducati.

Melandri berkomentar, bahwa dulunya dia juga begitu. Ketika usai test dan memberikan saran untuk pengubahan di sektor ini-itu, Ducati malah mengatakan: Motor kami Juara 2007 (tahun sebelumnya), kamu saja yang harus menyesuaikan diri! Melandri menambahkan, satu-satunya reaksi jelas Ducati adalah ketika mereka malah mengirim Melandri ke Psikolog! Artinya bisa diartikan, Ducati melihat sumber kekalahan dan kehancuran Melandri adalah psikisnya sendiri.

Bagaimana dengan Rossi kali ini? Melandri berpendapat, Rossi akan bernasib lebih baik, sebab Rossi lebih “kuat” dibandingkan dirinya dan lebih memiliki “kekuatan politik” (Namanya juga Dewa MotoGP-red). Namun, Melandri tetap tidak yakin kalau ROssi bisa benar-benar mengubah keadaan dan berhasil dengan Ducati. Menurut Doi, ini berbeda dengan Casey Stoner yang diakuinya memiliki bakat alam dan sangat jago beradaptasi dengan motor. Kehebatan Stoner beradaptasi ini pernah kita bahas kan Bro… Tidak heran, kalau di sirkuit baru, Stoner bisa hampir dipastikan jadi yang nomer satu, lihat saja Aragon lalu!