Melihat motor Dwi Satria milik Tim ASH Motorsport di JMS lalu, saya cukup terpikat dengan pemilihan warnanya. Dalam hati terpikir juga, banyaknya biaya yang diperlukan untuk mengecat motor full fairing. Minimal 1 jutaan lah di tukang cat profesional, apalagi kalau modelnya tidak polos alias ramai, baik dari segi warna, grafis, maupun tulisan produk yang digunakan dan sponsor. Kira-kira, angka 2 juta rupiah hampir bisa dipastikan tembus.

Di ajang balap motor, livery yang menarik sudah menjadi suatu kewajiban, ingat dulu kita pernah bahas, bodi motor adalah papan iklan terkeren buat para bikers. Untuk si pembalap, livery keren dan bentuk motor yang kece pun bisa memberikan motivasi tersendiri, bahkan bisa jadi motivasi ini yang membuat mereka lebih cepat sepersekian detik di lintasan. Namun, bagaimana dengan dunia balap di tanah air????? Sepertinya sama saja, hanya faktor finansial lah yang tampaknya membuat kita lebih di belakang.

Bayangkan, kalau sekali jatuh, artinya si pembalap bisa merusak cat motor yang bisa jadi jutaan. Belum lagi komponen lainnya yang ikut minta ganti. Motor di atas adalah Yamaha R 6, dan fairing orsinya di Jerman dihargai 650 Euro! Kebayang dong kalau fairing rusak plus minta cat baru…. Mungkin mahalnya “papan iklan” ini yang membuat pembalap kita takut jatuh sehingga lap time di Sentul jauh dari catatan waktu WSBK 1997 lalu yang bermain di 1 menit 27 detikan ya? Atau gara-gara aspal yang ancur? Kalau melihat lap time Supersport nasional yang bermain di 1 menit 33 keatas, tertinggal jauh kan…. Ingat, sudah 13 tahun lalu tuh, dan saat itu motor Superbike 4 silinder baru 750 cc.

Kembali ke racing line… Mahalnya cat ternyata bisa diakali juga dengan cutting sticker. Ketika saya perhatikan lebih detail, ternyata ada bagian yang membocorkan itu, yakni di bagian tanki.

Tampak jelas bagian ini ditempeli cutting sticker yang menutupi warna asli R 6, yakni biru. Wah, yang main moge saja pakai cutting sticker untuk menghemat pengeluaran…

Kita sebagai bikers biasa bisa meniru hal ini, dan memang sebenarnya sudah umum. cat memang memiliki keunggulan di soal daya tahan, dan kalau dikerjakan oleh ahlinya, warnanya relatif lebih keluar dan lebih rapih. Namun, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Artinya, kalau memang mengincar daya tahan dan kerapihan, silahkan pilih media cat. Cat juga menjadi pilihan tepat, bagi mereka yang tidak hobi gonta-ganti corak maupun warna.

Bagaimana dengan cutting sticker? Saat ini tentunya menjadi solusi bagi mereka yang ingin merubah tampilan dengan budget relatif sedikit. Keuntungannya sebagai berikut:

1. Murah….(paling penting nih buat ane…)

2. Tidak merusak cat asli motor. Penting bagi yang ingin motornya tetap orsi ataupun yang cepat bosan dan sering ganti cat, atau bahkan menjual motornya.

3. Pengerjaan relatif singkat. Hanya hitungan jam, bahkan bisa lebih singkat, berbeda dengan cat yang bisa makan waktu seminggu, bahkan lebih (tergantung tingkat kerumitan dan cuaca).

4. Risiko gagal jauh lebih kecil… Apalagi untuk mereka yang doyan corak yang ribet, misalkan ingin tampilan ala tim Repsol Honda. Di tukang cat yang kurang pengalaman, hasilnya bisa jadi tidak sesuai keinginan. Lebih parah lagi kalau mengorder airbrush yang realis. Maksud hati ingin motornya di airbrush Mischa Barton, tetapi karena kurang piawainya si seniman air brush kok malah terlihat seperti Mischa Candrawinata! Faktor ini bisa dihilangkan di cutting sticker, sebab gambar dicetak dan diolah dengan komputer, jadi pasti sesuai yang di layar monitor dan tinggal tempel!

Terlepas dari kelebihannya, silahkan dipikirkan kembali kekurangannya: Tidak seawet cat. Bahkan kalau bahan yang digunakan kurang oke dan pemasangan slebor, dalam waktu sebulan bisa jadi mulai melendung-melendung dan terkelupas. Selain itu, sepertinyla ada perasaan, cutting sticker itu “murahan”. Perasaan semacam ini tentunya semakin menjadi-jadi kalau teman nongkrong Ente punya bakat alam sebagai “tukang cela”….

Foto: HP-Klassikku

Iklan