Ente semua pasti sudah kenal pembalap yang satu ini sejak tahun 2009, sebab doi memang berlaga bersama Doni Tata di WSS, bedanya, dengan motor yang -mestinya-sama, Crutchlow berhasil merengkuh gelar yang harusnya sejak beberapa tahun terakhir ini layak direbut Yamaha R6, tetapi pembalapnya kebetulan belum ada yang mampu.

Crutchlow muncul menjadi pahlawan supersport Yamaha, doi melengkapi kejayaan Yamaha di MotoGP dan di WSBK tahun 2009. Di 2010 pun doi dianggap tampil impressiv,  jauh dibawah prestasi Spies, tetapi lebih baik dari Toseland.

Doi dikenal sebagai pembalap gigih mengejar targetnya. Doi juga dikenal tidak hanya bagus ketika bermain lepas, tetapi juga tahan tekanan tinggi, ya kaya forged piston lah… Kemunculannya membawa Inggris kembali punya nama di balap motor. Tahun ini, ia bertekad tampil baik. Ketika ditanyakan targetnya, doi merahasiakannya, hanya dia membocorkan targetnya di 2012: lebih baik dari 2011. Doi bertekad, Inggris punya pembalap top lagi di kelas Pararaja, layaknya terakhir kali di zaman Barry Sheene.

Crutchlow menjelaskan, tekanan berat bukan masalah untuk dia. Dirinya tetap bisa berprestasi baik di bawah tekanan tinggi. Sudah banyak kan, pembalap yang terbukti semakin terbelakang akibat tidak tahan tekanan. Tekanan datang bukan hanya dari tim dan sponsor, tetapi dari fans di negeri sendiri, apalagi di Inggris sana…

Menurut Crutchlow, fans memang bagai pisau bermata dua, di satu sisi, mereka bisa memberi semangat lebih, di sisi lain malah menjadi beban. Kalau pembalap gagal dan gagal maning, maka tekanan dan kritik yang datang dari fans dijamin sangat pedas dan bisa menggrogoti mental pembalap. Namun, kalau si pembalap bisa membuktikan kemampuannya dan memberikan yang terbaik, meskipun bukan jadi yang terdepan, fans akan membela pembalap habis-habisan! Crutchlow merasa beruntung dan puas dengan prestasinya, terutama ketika dia bisa membuktikan kemampuannya di kandang. Di Silverstone, dia bisa menjuarai kedua race WSBK di hadapan fansnya.

Omong-omong soal tekanan fans terhadap pembalap, tentunya petualang dunia maya yang mengikuti karier Doni Tata bisa memahami hal ini dengan baik. Fans bisa mendukung habis-habisan, tetapi bisa juga berbalik menjadi penghujat kalau melihat pembalapnya gagal maning… Untuk pembalap Indonesia, fans dan segala fenomenanya bisa menjadi tantangan tersendiri jika mereka nanti go internasional dan tentunya dikenal banyak kalangan. Media personal website seorang pembalap bisa membantu si pembalap “mengendalikan” fansnya. Media Website pribadi pembalap bisa jadi sarana komunikasi antara pembalap dan fans, ingat, tak kenal maka tak sayang.

Kalau Bro masih ingat Alm. Dieter Stappert, orang yang memuat artikel tentang Doni Tata ketika berlaga di GP 250 cc 2008 lalu dan menginspirasi ane untuk menulis blog, berhasil menghadirkan pencitraan yang benar tentang Doni Tata. Di website personal, fans pun tahu, kenapa pembalap tidak tampil maksimal, kenapa ada kegagalan dan progress apa yang dibuat tim dan pembalap. Jadi, bagi calon pembalap yang mau go internasional, pikirkan juga tuh keberadaan website pribadi!

Iklan