Jupiter MX tidak bisa dilepaskan dari Icon Komeng dan Valentino Rossi. Rasanya, mayoritas masyarakat Indonesia yang mengendarai roda dua mengenali kedua sosok ini, dua-duanya sama-sama jenaka dan punya nilai jual yang bisa diandalkan untuk membuat sebuah iklan melekat di kepala calon konsumen. Untuk sosok Valentino Rossi, rasanya memang doi tidak diragukan lagi daya jualnya. Sampai pelosok desa pun tahu siapa Rossi, nomor 46 berwarna kuning sudah menjadi nomor klassik dan kode universal di kalangan penggemar balap motor maupun sebatas pemerhati motorsport. Daya jual Rossi pun terbukti mendatangkan sponsor ke tim yang dibelanya. Terbukti kehebatan Yamaha di MotoGP seakan masih kalah dibandingkan daya pelet Valentino Rossi dalam hal menggaet sponsor.

Icon Valentino Rossi pun begitu melekat dengan Jupiter MX. Meskipun sangat sulit dibuktikan, seberapa besar pengaruh icon Rossi terhadap penjualan Jupiter MX dan motor Yamaha pada umumnya, saya berani berpendapat: cukup signifikan! Simpelnya: orang tidak akan membeli produk yang dia tidak kenal! Icon Rossilah yang membuat Jupiter MX bisa dikenal luas, bahkan dengan ada videonya di Youtube, penggemar Rossi maupun pencinta motor mancanegara pun bisa kenal Jupiter MX, its very fast lah…

Hengkangnya Rossi tentu membuat YMKI sekarang harus mencari icon baru untuk New Jupiter MX. Masih mau pakai Lorenzo? Atau cari pembalap Yamaha lainnya? Yang paling populer saat ini jelas Lorenzo, tetapi doi sudah membintangi New Jupiter Z, meskipun bukan berarti tidak boleh mengiklankan New MX lho..

Kandidat terkuat berikutnya adalah Ben Spies. Namun, doi badannya terlalu besar! Artinya, kalau masih mau memaksakan Spies naik MX, seperti di iklan Rossi, itu tidak mungkin! Kecuali mau terlihat New MX “kebanting” bodi Spies yang tinggi besar. Artinya, kalau mau memakai Spies, alur ceritanya harus berbeda! Misalnya Spies dengan M1 disalip Komeng dengan New MX-nya di sirkuit!

Bagaimana dengan pembalap lainnya seperti Edwards dan Crutchlow? Atau si ganteng James Toseland? Tampaknya untuk pasar Indonesia mereka tidak punya daya jual yang cukup. Mending pasang Doni Tata sekalian! Bisa Jadi Doni Tata lebih beken di sini! Tentunya dengan risiko, iklannya “kurang nampol!”

Iklan