Jumat minggu lalu, saya menunaikan ibadah Sholat Jumat di Mesjid dekat rumah. Saat itu masih pukul 11.45an, meskipun begitu, sudah lebih dari separuh mesjid terisi. Ketika melangkah ke dalam, tampak pria berbadan besar mengenakan pakaian Muslim putih-putih sudah duduk di bagian tengah mesjid. Tak salah lagi, pria bule Belanda ini babenya artis Asmirandah yang sinetronnya saya tidak suka karena sebentar-sebentar nangis, masuk RS, kecelakaan, diculik terus masuk RS lagi, terus kena pemerasan waaaaaahhhhh..cabe deeeh…

Kemudian saya mulai menyapa Beliau dan terjadilah dialog* singkat ini:

Arie: Assalamualaikum.. Pa kabar Meneer Babe? Toyyibuuun???

Babe: Walaikumsalam.. eh, dek Arie..kemana saja je? Kok lama nggak mampir kerumah? Anda nanyain je terus tuh…

Arie: Wah, maaf Om, lagi banyak yang harus dikerjakan nih… maklum lah, lagi ngumpulin modal..

Babe: Modal apa? Modal kawin? Je nggak usah pusingin itu lah.. Duitnya Anda dari sinetron lebih dari cukup kok.. Dah, de Arie pastikan saja tanggalnya, diomongin sama sama Anda ya.. Ijk en mevrouw, Anda punya Mami, percayakan ke kalian berdua saja..BTW, Anda salam, katnya ijk hou van je..

Omongan kami pun terputus karena Adzan berkumandang

Β Sorry Bro, kok jadi ngelantur gini nih.. Oke, singkat saja, pertemuan dengan si Babe Meneer membuat ane teringat sama motor Jamathi, motor asli mantan penjajah kita. BTW, Jamathi ternyata punya hubungan dengan juara-juara MotoGP macam Valentino Rossi, Lorenzo dan Capirossi lho..bahkan tidak langsung dengan Stoner. Simak ya…

Bagaimana? Keren juga kan motor-motor diatas? Yup, itulah motor-motor produksi Jamathi, ringkas, kecil dan manis menjadi daya jual tersendiri dan cocok banget untuk ukuran orang Indonesia kebanyakan.

Jamathi dikawali kariernya tahun 1962. Nama Jamathi sendiri merupakan singkatan nama para pendirinya, yakni Jan Thiel dan Martin Mijwaart. Awalnya, duo Belanda ini menggunakan mesin motor pabrikan lain, yakni Adler, Kreidler, NSU dan Royal Nord. Motor yang komplet produksi Jamathi sendiri baru ada tahun 1964.

Jamathi sepertinya hanya memproduksi motor-motor berkapasitas kecil. Mereka lumayan punya nama di tahun 60 hingga awal 70an karena punya taring untuk ikut GP 50. Tahun 1968, Paul Lodewijkx berhasil menjuarai TT Assen, dan di tahun 1970, pembalap Jamathi, Aalt Toersen mempecundangi Angel Nieto di GP Belgia.

Lihat tuh foto di atas, zaman dulu pun sudah test pake Dynojet hihihi…

Oke, lanjut ke Jamathie. Saya sendiri tidak paham, mengapa Jamathi sepertinya tidak eksis lagi (Wikipedia Belanda Bro..ane cuma bisa nebak-nebak aja hihihi). Yang jelas, di tahun 70an, Jan Thiel ciao ke Italia dan bekerja membangun mesin motor di sana. Selanjutnya, je extrimist extrimist sesat baca text ijk kutip van Wikipedia:

In de jaren 90 ging Thiel naar Aprilia om daar de 125 en 250cc racemachines te ontwerpen. Mede dankzij het werk van Jan Thiel hebber grote namen zoals Valtentino Rossi, Max Biaggi, Loris Capirossi, en Jorge Lorenzo vele overwinningen en kampioenschappen behaald met Aprilia.

Eind 2007 is Jan Thiel gestopt met zijn werk bij Aprilia en hij woont nu samen met zijn vrouw in Thailand.

Gimana Bro? Kira-kira di situ dibilang: Tahun 1990, Thiel pergi ke Italia dan bergabung bersama Aprilia. Dia mengembangkan mesin balap berkapasitas 125 dan 250 cc. Makanya, jangan heran kalau nama besar seperti Valentino Rossi, Capirossi, Max Biaggi dan Jorge Lorenzo punya hubungan tidak langsung dengan Jan Thiel! Jan Thiel sendiri dikabarkan berhenti bekerjasama dengan Aprilia pada tahun 2007, doi pindah bersama istrinya ke Thailand!

Wah, Jangan-jangan doi yang bikin Kawasaki Ninja di Thailand nih?

Omong-omong soal berakhirnya Jamathi, mungkin karena mereka tidak mau membuat motor besar, baik dari kapasitas mesin, maupun ukuran, silahkan Ente lihat bule Belanda di bawah ini:

Sumber Foto:

http://www.jamathi.nl/

http://www.elsberg-tuning.dk/jamathi.html

*Soal Dialog, you know me so well laaahh….

Iklan