Ben Spies fuhr mit Reifen, die er nicht mochte und kam dennoch auf eine anständige Zeit

Perang MotoGP yang sudah di depan mata benar-benar membuat banyak bahan perbincangan di kalangan penggemar GP. Yang menarik salah satunya justru bukan balapan, tetapi yang terjadi sebelum balapan, dan lebih seru lagi menebak berjalannya balapan sesungguhnya.

Kita bisa menebak jalannya balapan berdasarkan hasil kualifikasi. Hasil perebutan posisi start ini bisa memberikan gambaran paling dekat, bagaimana lomba nantinya akan berlangsung. Tentu bukan jaminan pasti, sebab setting masih bisa diubah-ubah.

Berbeda dengan kualifikasi, sesi latihan justru hasilnya tidak bisa jadi patokan. Sebab, di sesi ini, banyak pembalap punya metode sendiri-sendiri. Ada yang kelihatan sangat cepat karena memang pakai ban soft dan setting bensin boros untuk mengejar power, tetapi ada juga yang terlihat pelan karena mencoba simulasi balap, atau memang sebatas mengetst suatu komponen saja.

Saat ini, Ducati sudah mulai menampakkan taringnya. Valentino Rossi sudah semakin dekat, sudah tembus 5 besar dengan jarak kurang dari satu detik. Apakah peluangnya cukup untuk jadi numero uno? Sulit tuh, apalagi kalau mendengar klaim Stoner yang baru 80% mensetting motornya. Namun, Rossi sendiri juga memang belum tuntas dengan perbaikan Ducatinya kan… Soal bahu, katanya sih sudah oke, hanya di saat terakhir saja terasa tidak enak.

Sekarang kita lihat kubu Yamaha! Wah, pastinya Lorenzo cukup panik dengan hasil posisi ke-7 di latihan bebas kali ini, terlebih lagi Rossi sudah ada di atas posisinya. Padahal Lorenzo sudah berkomentar, Chassis M1 tahun ini benar-benar yahud dan memuaskan, sebab kecepatannya di tikungan jelas eningkat! Wadow, kalau sudah merasa oke, tapi posisi masih ke-7, tentunya gejala panik mulai mengganggu tuh!

Yang lebih berat lagi bagi Lorenzo adalah, Spies sudah berada di atasnya! Yup, Spies di posisi ke-6! Doi sudah menjadi rider terbaik Yamaha di Qatar kali ini dalam sesi latihan. Yang lebih menusuk Lorenzo, adalah fakta, bahwa Spies menggunakan ban, yang dia anggap paling jelek, tidak dia sukai dan tidak cocok untuk sirkuit Losail ini! Dengan cara begitu, ia berharap, nantinya akan memangkas waktu lagi, begitu ia menggunakan ban yang sesuai dan ia sukai karakternya. Cara ini sebenarnya mengingatkan kita pada film-film Kungfu, dimana para pendekar berlatih dengan membawa beban di lengan dan kaki mereka. Cara ini mengingatkan pula pada onfirenya Sete Gibernau selepas pindah dari Suzuki ke Movistar Honda tahun 2003 lalu. Selepas menggeber GSV-R yang kurang kompetitif, Gibernau laksana mengamuk dalam menggeber RC211V yang memang motor 990 cc terbaik kala itu….

Wah, apa jadinya kalau Spies memang sukses dengan rencananya nanti? Apa jadinya kalau doi menggunakan ban yang tepat dan dia sukai, sebab hingga saat ini ia sengaja memakai ban yang dianggapnya membawa hasil paling buruk! Wah, Stoner dan Pedrosa bisa-bisa cenat-cenut saat race nanti!

Iklan