Ducati Superquadrata Skizze Verkleidung transparent

Banyak pihak yang berusaha memprediksi, bagaimana teknologi rangka dan mesin Ducati Superquadrata nantinya. Menjadi hal yang menarik, sebab data boleh dibilang masih simpang siur dan penuh prediksi.

kita mulai dengan rangkanya. Menurut para pengamat, rangka akan menggunakan turunannya Desmosedici yang menganut model monocoque. Secara garis besar, rangka terbagi dua, yakni yang menyatukan suspensi depan dan mesin  dan bagian buritan. Mesin L-Twin nantinya akan digeser lebih mendongak, jadi kalau dari samping kanan tidak lagi “L”, melainkan jadi “V”, maksudnya mendongak ke atas. Ini dimaksudkan untuk memungkinkan pemakaian lengan ayun yang lebih panjang yang menjamin motor memiliki titik berat yang lebih mendekati titik tengah keseimbangannya. Kalau mesin masih ditaruh “L”, lengan ayun lebih panjang bisa saja dipakai, hanya saja jarak sumbu rodanya melar Bro! Motor bisa keteran menjaga racing line di tikungan tajam. Ducati juga tidak bisa main pasang mesin Testastretta Evoluzione yang ada saat ini kalau mereka mau menggunakan rangka monocoque yang populer mulai Desmosedici 2008 ini, sebab getaran dan tekanan yang diterima mesin sebagai bagian integral rangka motor sangat besar, bisa pecah tuh rumah mesin yang sekarang!

Apakah material monocoque ini nantinya juga karbon, banyak yang skeptis! Wajar, mengingat biaya yang dipastikan sangat membengkak. Homoglasi kini bukan lagi 500 motor, melainkan sudah 3000 motor. Nah, apakah Ducati sanggup menjual 3000 meter berspek racing dengan harga yang tentunya racing juga???

Beralih ke mesin!

Sejak zamannya Ducati 851 hingga 999R–kecuali 916–Ducati selalu membuat model terbarunya semakin pendek strokenya! Ya wajarlah, dengan traksi di atas yang lain, Ducati tentu harus mengejar ketinggalan di peak power untuk mengejar motor-motor 4 silinder di trek panjang. Baru ketika terbit 1098 dan 1198 mereka menaikkan kapasitas dengan memperpanjang stroke, soalnya bisa mentok tuh kedua piston kalau borenya yang diperbesar!

Alan Catchcart, seorang jurnalis roda dua Inggris menuliskan, Ducati akan memakai konstruksi mesin dengan bore yang lebih besar sehingga kapasitas 1194cc didapatkan dari 112mm x 60,6mm, dimana saat ini Ducati menggunakan 106 mm x 67, 9 mm. Hmm.. semakin edan aja nih putaran atasnya. Pihak Motorrad pun mencek dan ricek dengan berdiskusi pada berbagai pakar spesialis piston berdiameter besar dari BMW, KTM dan berbagai tuner.

Menurut kesimpulan, untuk saat ini resep untuk bore 112 mm belum ada! Nah lo… Maksudnya, kalau dipaksain bisa sih, tetapi mesin harian kompetitif beda karakter dengan mesin full racing kan… Mau tuh  orang beli mesin yang umurnya cuma 2000 Km???

Tantangan menggunakan piston berdiameter besar adalah daya tahan piston terhadap panas di ruang bakar. Apalagi kalau di silinder itu menggunakan 2-3 busi. Permukaan piston yang luas membuat permukaan yang dihantam ledakan semakin besar. Risiko piston jebol bin bolong pun lebih besar. Piston berdiameter besar pun butuh bahan yang lebih banyak, akibatnya bobot piston pun meningkat! Bobot berat ini membebani pen plus setang piston dan juga kruk as. Putaran mesin yang lebih tinggi dengan penggunaan stroke pendek pun terbebani oleh bobot piston! Akibatnya power dan putaran mesin malah berkurang.

Jalan keluarnya diakatakan konsep motornya akan seperti mesin diesel modern yang tahan panas extra tinggi. Selain itu, bisa juga dicarikan material yang lebih baik untuk pistonnya. Material yang digunakan kabarnya baja! Firma produsen piston asal Italia, yakni Pistal yang akan memproduksi piston bermaterial baja ini untuk menggantikan bahan alumunium. Konstruksi piston dikabarkan masih belum matang untk diproduksi dan dipasang di motor massal, tetapi rasanya di masa depan memang arah pengembangan pistonnya ke arah sana…

Manfaat piston berdiameter besar sepertinya sudah umum diketahui:

1. Bukan sebatas memperbesar kapasitas mesin, sebab itu bisa diperoleh melalui stroke up/memperbesar stroke. Dengan Bore lebih besar, mesin berputar lebih tinggi, sebab kecepatan piston sendiri lebih rendah dibandingkan mesin berkapasitas sama dengan stroke yang lebih panjang. Dengan rendahnya kecepatan piston, otomatis tingkat keausan berkurang dan kerugian akibat pergesekan piston dan liner lebih minimal. Mesin pun disinyalir lebih panjang umur.

2. Besarnya Bore memungkinkan penggunaan klep yang lebih lebar. Dengan klep lebih lebar, otomatis debit gas masuk bisa lebih banyak, ya lebih besar deh powernya…

dah ah, cape ngetiknya hihihi…keyboardnya keras euy, kudu ganti yang racing dari karbon nih biar enak ngetiknya…

Iklan