Erste Scheibenbremse: Eine der ersten Scheibenbremsen zierte 1968 Hondas CB 750 Four. Allerdings noch als sehr simple Schwenksattelbremse mit nur einem wirksamen Kolben und einer am Gabelholm drehbar gelagerten Bremszange mit bescheidener Wirkung.

Setelah sebelumnya kita membahas secara singkat tentang rem tromol, kini kita lanjutkan. Perkembangan setelah tromol tentunya rem cakram. Layaknya rem tromol, rem cakram pun terus berkembang hingga kini.

Rem cakram di motor massal pertama kali muncul di salah satu motor terbaik sepanjang sejarah yang sering dijuluki the first Superbike, yakni Honda CB 750. Motor 4 silinder yang menjadi dasar konstruksi mesin superbike hingga hari ini tentunya membutuhkan rem yang asoy, maklum, performa doi saat itu memang motor massal terbaik, sudah layaknya mesin balap deh… Rem cakram yang hadir di gen awal CB 750 tentunya masih sederhana dan belum sedahsyat sekarang. Rem cakram hidrolik ini hanya punya satu piston dan juga belum dobel cakram Bro… Kebayang kan motor berbobot lebih dari 220 Kg berkecepatan nyaris 200 Km/jam dikawal rem yang tidak jauh beda dengan yang nyantol di Honda GL 100 hihihi….

Zweikolben-Bremszange: Oftmals für Doppelscheiben ausgelegt (im Bild Moto Guzzi Le Mans I), verbesserten die Bremswirkung und Standfestigkeit deutlich. Um Gewicht zu sparen, wurden sie im Rennsport aus leichtem Magnesium gefertigt.

Seiring waktu dan kebutuhan untuk memperbaiki performa rem dan semakin kencangnya motor, muncullah rem cakram, dimulai dengan cakram dobel piston dan munculnya penggunaan dobel cakram untuk menghentikan laju roda depan. Dengan hadirnya teknologi ini, pengereman jelas semakin pakem! Untuk mengejar bobot ringan, terutama untuk motor balap, kaliper pun diproduksi dari bahan magnesium.

Vierkolben-Bremszange: Brachte Mitte der 80er Jahre den Durchbruch, weil sie mit großen Belagflächen wenig Handkraft erfordert, fein dosierbar und hitzeresistent ist. Zeitgleich kamen die schwimmend gelagerten Bremsscheiben in Mode.

Di pertengahan tahun 80an, jumlah piston per kaliper pun berkembang menjadi 4 buah. Dengan begitu, luas penampang sepatu rem yang menekan cakram pun semakin meluas, tentu saja rem menjadi lebih pakem dan lebih tahan panas, performanya pun jadi lebih stabil dan lebih tahan lama menghadapi suhu tinggi. Besarnya penampang kanvas rem ini pun membuat rem lebih ringan ditekan dan dosisnya lebih oke. Jadi, rider lebih mudah mengontrol, sekuat apa cakram harus digigit sepatu remnya. Di periode yang sama, cakram pun tidak lagi tercangkok mati, tetapi pemasangan cakram secara “floating” pun mulai “in”.

Iklan