Bernostagila sejenak ke zaman saya SD, dimana yang namanya Tamiya memang sedang booming dan diperlombakan dimana-mana. Trend Tamiya saat itupun diperkuat dengan hadirnya film kartun Dash Yonkuro yang dikemas menarik, lumayan logis di dalam ketidaklogisannya dan begitu melibatkan unsur emosional dan semangat, terutama untuk anak-anak kecil.

Serunya bermain Tamiya membuat banyak kalangan terjun mengikuti lombanya atau sebatas mengetst saja racikan mobilnya di lintasan yang banyak disediakan saat itu di berbagai pusat perbelanjaan. Dari modal dan otak pesertanya, sudah bisa diduga siapa yang akan memenangkan lomba-lomba Tamiya: Mas-mas dan om-om yang duitnya memang banyak! Maklum, untuk anak-anak, peranti ini itu dan parts racing Tamiya bisa dibilang mahal, jauh lebih mahal dibandingkan mobilnya sendiri, benar-benar seperti dunia balap sesungguhnya.

Serunya lagi, sebatas dana tak terbatas bukan jaminan untuk menang, teknik setting dan mengenal karakter lintasan jadi jaminan kemenangan penting di sini. Misalnya, dalam satu race saya sempat juara, dikarenakan kemampuan saya menganalisis track. Kemampuan saya membuat mobil F1 Renault saya finish tak tersentuh! Jadi karena bokek, saya tidak mampu lagi beli baterai baru Alkaline yang saat itu 2000 rupiah (baca:20 tusuk sate ayam). Kedua peserta lainnya loncat keluar lintasan karena mobil mereka terlalu kencang, mobil saya yang bertenaga sisa-sisa pun finish sendirian hihihi….

Oke serius… Dari Tamiya inilah saya belajar mengenal pentingnya power mesin, belajar gulung dinamo, belajar nabung buat beli parts dan sebagainya. Tidak sebatas membuat mesin kencang, rasio gir pun dipelajari di sini, selain itu juga sudah terbukti peranan pelumas yang sangat krusial. Saya ingat betul ketika menjalankan mobil standard tanpa saya olesi grease di gir dan bearingnya dan kemudian membandingkan dengan mobil yang terlumasi baik.

Tamiya juga mengajarkan pentingnya rangka dan cengkraman ban ke lintasan, apakah harus ngegrip atau tidak, apakah bobot harus seenteng mungkin atau tidak, apakah harus menambahkan “rem” atau tidak. Selain itu, teknik memanaskan mesin juga dipelajari di sini. Jadi, dinamo baru berputar maksimal dalam suhu tertentu. Jadi, mobil memang harus dipanaskan dulu dinamonya beberapa saat untuk meraih suhu optimum, kemudian disemprotkan cairan pendingin. Nah, baru ready to race deh.. Kalau dari dingin langsung dipakai race, putaran dinamo tidak akan maksimal. Nah, biar ngirit duit, untuk memanaskan mesin pakai baterai second saja..

Banyak juga yah yang bisa dipelajari secara tidak sadar…