Kiprah Yamaha YZF-R1 tahun ini masih tergolong lumayan, tetapi jauh di bawah performanya ketika dipegang oleh the Elbow, Ben Spies. Banyak yang beranggapan, tanpa Ben Spies, Yamaha hari ini tidak punya gelar WSBK satu pun juga. Memang sih Ben Spies sangat fenomenal, tetapi itupun tak lepas dari peta persaingan WSBK yang saat itu dan akhir-akhir ini sedang tidak banyak bintang. Kehebatan Ben SPies saat itu pun tidak bisa dilepaskan dari R1 anyar saat itu dengan teknologi konstruksi mesin dengan pengapian semi Bigbangnya. Teknologi macam ini membuat motor lebih menyatu dengan rider, sebab power lebih halus teralir ke roda, sehingga rider dijamin berani buka gas lebih awal dan tak perlu benar-benar menunggu motor hingga tegak. Selain itu, tentunya teknologi ini membuat ban lebih irit, sebab risiko ban slide terminimalisir. Hanya saja, negatifnya, dengan crossplanecrankshaft itu motor berbobot lebih berat. Namun, Ben SPies dengan kelebihannya bisa menjadikan R1 yang tampil terdepan. Di tahun itupun, R1 disebut menjadi Superbike terbaik, terutama dalam hal handling dan power delivery.

Di tahun 2011 ini, R1 sebenarnya tetap oke dan masih kompetitif. Hanya saja, Yamaha perlu memikirkan, R1 harus dijadikan seperti apa agar Yamaha bisa tampil semakin di dpan di WSBK. R1 baru harus bisa mengasapi status S1000RR sebagai Superbike terbaik saat ini. Ingat, ini bukan masalah hasil di WSBK dimana ada faktor team, pembalap dan nasib baik yang bermain, tetapi motornya itu sendiri.

Berikut ini yang perlu diperbaiki Yamaha:

1. Teknologi elektronik! Yamaha harus mulai meikirkan peranti ini, minimal traction control dan ABS sudah bisa ditawarkan optional.

2. Bobot! R1 saat ini memang yang paling tambun. Teknologi semi Bigbangnya memang punya andil besar dan membuat R1 lebih memberikan ketenangan bagi pembalap dalam berakslerasi keluar tikungan, tetapi rasanya tanpa tawar menawar, bobot harus turun!

3. Desain! Yang ini gampang-gampang susah. Pastinya Yamaha harus berpikir keras, masih mau menjadi 916 Jepang, atau mau rombakan radikal layaknya dari Honda CBR 1000 RR SC57 ke SC 59.

Rasa-rasanya sih tidak… Japanese 916 sudah menjadi trademark dan terbukti masih ampuh hingga saat ini. Masih banyak sekali bikers berpendapat, tampang R1 yang paling ganteng..Bang Mandor aja kalah ganteng! Lampu dipastikan tetap model terpisah dua. Kanlpot pun rasanya masih akan tetap nongol di buritan di bawah jok. Bukan cuma gaya sih… Meskipun model knalpot begini lebih berat, tetapi daya pikatnya membuat R1 laris manis… Tak sebatas itu, karakter R1 yang punya torsi bagus di putaran bawah butuh knalpot yang bisa mensupport motor ini di putaran atas, dan jawabannya tentunya knalpot panjang.

Knalpot panjang di bawah jok tentu lebih panjang dibandingkan jika diletakkan di samping layaknya pada Gixxer 1000. Knalpot panjang ini kemungkinan besar dipertahankan, sebab, kalau dipakai balap superbike, motor memang boleh ganti knalpot, tetapi silhouette motor tak boleh berubah. Jadi, kalau R1 pakai knalpot pendek macam CBR 1000 RR, panitia dijamin cemberut dan berkata: Oh TIDAK BISA!!!! Begitu juga sebaliknya di CBR 1000 RR, tidak boleh bentuk knalpotnya seperti Gixxer 1000 di kanan-kiri, apalagi kalau mau kaya R1 yang undertail itu.. Saat ini ada sih gambar rancangan the next R1, tetapi knalpotnya pendek layaknya R6. Namun, itu kan rancangan pribadi, bukan dari Yamaha. Dan Blog Sesat menerawang Gaib: Knalpotnya tetap undertail! Kecuali mesinnya dirombak radikal!

Iklan