Kemunculan Tiger picek yang berani tampil beda sempat menjadi ruang tembak bagi mereka yang ingin menyerang AHM dengan menjatuhkan minat terhadap desain head lamp si Tiger picek. Padahal, secara desain mengingatkan betul pada moge-moge BMW yang memang sejak kemunculan K1 di 80an akhir doyan tampil radikal.

Yang namanya berani tampil keluar pakem, ya siap-siap juga kuping panas dengan cibiran-cibiran sana-sini. Namun, BMW tentu berhasil menepis itu dengan kualitas produk mereka yang memang tetap mengedepankan teknologi canggih yang tahan banting dan extra nyaman. Terlebih lagi, merk BMW punya nama tak kalah dengan mobilnya yang sporty, elegant dan tahan banting (asal tidak kena bensin oplosan dan bensin kualitas jelek-red).

Bagaimana dengan Honda Tiger picek? Sulit tuh… Apalagi cuma ganti casing saja, tak heran jadi bahan cela-celaan oknum komentator dan komentator yang bukan oknum sekalipun. Sekarang pertanyaannya, apakah desain asimetris di Tiger baru muncul sekarang? Tidak tuh….

 Tuh lihat saja desain spidometer Tiger lama yang asimetris! Pertama kali melihat desain spidometer si Tiger Hitam, saya merasa kesal dan risih. Spidometernya dulu bagi saya terlihat aneh!

Namun, sekarang, justru spidometer menjadi bagian favorit saya di Tiger lama. Bentuknya plus warna dan tulisan yang klassik tak usang dimakan zaman. Belum lagi spidometer ini jelas lebih jujur dibandingkan Tiger baru yang sampai-sampai tega berbohong menampilkan angka 200 Km/h! Tembus 150 Km/h aja sudah butuh sentuhan lumayan banyak!

Btw, spidometer ini mantebs juga bahannya, sebab tidak ngembun selesai hujan maupun dicuci (kecuali hujan deras dan lama atau nyemprot ke spidometer berlebihan ya…). Kacanya juga masih kuat dan terlihat tetap bening tanpa retakan-retakan kecil yang doyan muncul di motor bebek misalnya.

Desain spidometer asimetris Tiger memang klassik, dan terbukti, masih dipakai lagi untuk motor baru Honda yang lumayan berkelas. Silahkan lihat saja spidometer Honda VTR 250! Sama kan dengan spidometer Tiger jadul….

Iklan