Melihat Thunder 125 yang baru, ada yang perlu disayangkan di sana. Apalagi kalau bukan modelnya yang laksana tak berubah, gaya yang diusung belum bisa dibilang klassik, tetapi masih berada di zona jadul!

Sebenarnya bisa dimengerti, agak sulitnya membuat desain motor batangan yang cuma dibekali mesin 125 cc teknologi lama. Kapasitas kecil, tenaga kecil, di pasar Indonesia bisa jadi bahan cela-celaan kalau tampangnya kelewat sporty.

Thunder 125 baru sebenarnya secara desain baik-baik saja, tetapi yang namanya karakter manusia “pembosan” harus juga diperhatikan. Teknologi berkembang sayang sekali kalau tidak diikuti perubahan tampang yang signifikan.

Sebagai penggemar motor klassik, tentu saya menantikan keberanian Suzuki untuk sekalian saja mengeluarkan versi klassik Thunder 125. Tentunya lumayan banyak yang perlu ubahan, mulai tanki, jok, knalpot, speedometer, lampu sen, spatbor depan-belakang dan velg. Yup, sayang nih motor tidak keluar yang versi jari-jari!

Kenapa gaya klassik? Ya sesuai lah dengan mesinnya yang bertenaga kecil. Gaya klassik kan asiknya jalan santai, hemat bensin, ga brutal main rem dan gas, ya eco riding lah.. Apalagi ini motor memegang predikat motor batangan dengan konsumsi bahan bakar paling irit bukan?