Foto ini saya ambil di sekitar Kraton Kanoman Cirebon beberapa bulan lalu. Lho, kok ngebatik malem-malem? Sebenarnya sih tak sampai malam, tetapi karena yang mau lihat (termasuk saya hihihi)  telat datang, para pengrajin batik disuruh lembur hihihi..

Sebelumnya, kita harus pahami dulu, kalau teknik batik itu banyak dan bisa dijumpai di berbagai penjuru dunia, yup..batik bukan hanya monopoli Indonesia! Yang dipatenkan itu adalah motif-motif batiknya, bukan tekniknya. Indonesia memang kaya akan batik, berbagai penjuru daerah ada lho…bahkan katanya sih ada batik Papua! Selain itu, batik pun mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Tak heran, ada beberapa pengrajin batik tulis yang menuangkan tokoh-tokoh kartun di karyanya. Ya, tentunya yang tradisional juga tetap ada.

Proses membatik tulis itu lama, tergantung motif juga sih, dan tingkat ketelitian. Tak jarang juga harganya bisa nebus sebuah motor matic second! Itu mahal sih, tapi masih kategori biasa lho..bukan yang kelas atas banget, apalagi yang lawasan dan bersejarah! Seorang pembatik benar-benar membutuhkan kesabaran extra tinggi kalau mau menghasilkan karya yang rapih dan berkelas. Kalau kita merasakan cara membuatnya, bahkan dari merancang, mencanting, mencelup, dan kalau perlu dicanting lagi, dicelup lagi, dicanting lagi, dicelup lagi (bisa berkali-kali, ya sesuai kebutuhan) bisa jadi kita memandang lain sebuah batik yang berharga 1 juta misalnya. Selembar kain biasa senilai 1 juta tentu sangat mahal, tetapi kalau kita lihat, bagaimana perjuangan dan proses pembuatan batik tulis itu, saya yakin banyak yang bilang: Muraaaaaaahhhhhh bangeeeeeeett…gw ga mau deh dibayar sejuta doang kalo gw yang bikin!

Oke, fokus ke judul. Nah, lagi-lagi negara tetangga kita melakukan langkah yang sampai ke telinga Blog Sesat. Kabarnya, mereka menarik beberapa seniman batik tulis kita. Di negaranya itu, para seniman batik ini dikarantina untuk menghasilkan karya-karya terbaik mereka! Setahu saya, ini sebuah gebrakan baru, sebab selama ini negara tetangga itu baru punya batik printing dan cap saja, yang tentunya nilainya jauuuh di bawah batik tulis!

Mendengar ini dari seseorang yang berkecimpung di bidang batik dan juga ahli kebudayaan, saya cuma bisa geleng2 (nggak pake musik dangdut koplo-red). Saya langsung teringat kisah sebelumnya yang pernah doi ceritakan, ketika Jepang yang di PDII begitu berkuasa membajak seniman-seniman Korea untuk menghasilkan karya-karya yahud yang nantinya dilabeli sebagai hasil kebudayaan Jepang!

Mirip-mirip kan dengan kasus batik sekarang….

Jangan heran nantinya batik yang mahal-mahal juga jadi milik negara tetangga kita itu. Ya, ingat kasus reog Ponorogo yang diakui mereka? Ya memang itu orang-orang Indonesia juga yang tinggal di kampung Bugis di negara itu. Mereka mempraktikkan kebudayaan yang dibawa dari tanah air mereka, Indonesia. Karena mereka kini tinggal di negara tetangga itu, ya jadilah kebudayaan ini bisa dijumpai di sana. Jadi, kalau mau klaim reog Ponorogo asli Indonesia, kita tak salah. Tapi kalau melarang reog Ponorogo bisa dilihat di negara tetangga itu, ya salah lah….

Kompleks juga yah… Ketika saya tanya ke rekan saya itu, ini salah siapa????? Doi bilang: Pemerintah!

Hmmm… Ada benarnya… tapi pemerintah saja tak cukup, apalagi kalau rakyat Indonesia sendiri cuma bisa bicara saja cinta budaya dalam negri, tetapi pada praktiknya nyaris tak terlihat..

JAdi, kalau keadaannya begini-begini saja, jangan heran suatu hari batik Malaysia lebih baik daripada batik Indonesia..