Honda-VTR1000_SP-1_jpg_1970462

Sampeyan yang doyan motor balap pastinya familiar dengan tampang superbike Honda yang satu ini. Pertama kali saya ketemu motor ini adalah saat saya tersesat di kota ADAM Amsterdam. Saya ingat sekali tanggalnya, maklum, pas dengan tsunami 2004. Yup, 26 Desember 2004. Alkisah dengan modal 18 Euro, saya bisa menyesatkan diri ke kota 1000 museum itu. Tersesat pula sampai ke red district wkwkwk (asli tersesat, tak ada niat). Di salah satu gang nyempil doi di kegelapan gang (padahal waktu itu masih sore). Wow… saya mau salto gitu lihatnya, sexy banget… Bohay dan knalpot twin kanan kiri menjulang memberikan impuls tersendiri di otak.

VTR-SP1 bisa dibilang motor yang menyenangkan. Tapi cemoohan-cemoohan miring membuat orang agak segan memilikinya. VTR-SP1 yang muncul tahun 2000 bisa dibilang buah rasa frustasi Honda yang gagal maning mempecundangi Ducati dengan mesin Twin 1000 ccnya. Honda dengan RC45nya hanya sekali saja berbuah manis di tangan John Kocinski, sisanya Aaron Slight, bahkan Carl Fogarty sendiri gagal maning menaklukkan RC 45 untuk menundukkan kubu Ducati. Akhirnya keluarlah motor dengan konfigurasi mesin yang selevel, sama-sama V-twin, sama-sama 1000 cc. SP1 pun sukses di tangan Texas Tornado dan menjadi juara dunia WSBK.

Honda_VTR_1000_SP-2_jpg_1876630Di kalangan bikers, sialnya motor ini sedikit fansnya. Bisa jadi karena harganya mahal. Apalagi Honda sendiri juga punya CBR 1000RR  yang jelas-jelas lebih powerfull dan harganya ekonomis. Berhubung waktu itu di WSBK mesin 4 silinder maksimum 750 cc, CBR pun hanya jadi raja jalanan. Namun, sebagai bikers, buat apa beli motor sport yang lebih mahal tetapi lebih lemot???? Nyungseplah penjualan SP1 di pasaran.

SP1 yang berkapasitas 999 cc bertenaga 132 PS@ 9500 rpm pun dilengserkan oleh SP2 yang bertenaga lebih besar, yakni 135 PS@ 10.000 rpm. Torsinya SP2 memang sama, yakni 102 Nm, hanya saja, diraih lebih rendah 500 rpm dibandingkan pendulunya yang bertorsi maksimal di kitiran 8500 rpm. Top speed SP2 pun meningkat, dari 269 menjadi 278 Km/jam. Bobotnya pun menyusut, dari 221 Kg menjadi 217 Kg (fulltank), menjadi semakin lebih ringan sebenarnya dibandingkan CBR 1000 RR.

Honda_VTR_1000_SP-1_Sp-2_jpg_1998155

Kalau kita perhatikan, SP1 dan SP 2 tergolong motor yang mudah dikenali, bahkan ketika ditelanjangi sekalipun. Yang menonjol adalah kedua knalpotnya yang puanjaang dan beszaaar… Tampaknya Honda berusaha meraihpower  putaran atas lebih maksimal. Konsekuensinya, tentu bobot yang bertambah dan distribusi berat yang jadi tidak fokus di tengah. Belum lagi kalau kena tangan pas puanas… dijamin jossss… Faktor yang paling mudah mengenali SP1 dan 2 tentunya radiator yang letaknya malah di samping…

Bagi bikers yang ingin tampil prima di jalanan, sebenarnya SP1 dan 2 bisa jadi pilihan tepat. Ketika motor-motor balap baru semakin kencang, doi santai-santai saja, toh, selama bukan di sirkuit, SP 1 dan 2 menawarkan akselerasi bawah yang mumpuni. Belum lagi bobotnya masih setara superbike-superbike keluaran gress. Soal akselerasi 0-100 Km/jam, doi masih punya catatan waktu 3,1 detik saja, ya artinya setara dengan supernike-superbike terbaru saat ini. Permasalahan suspensi depan yang dinilai agak liar pun bukan masalah, toh di jalanan umum tak perlu rebah parah toh… Dengan sedikit setting dan modifikasi garpu USDnya, bahkan SP 1 dan 2 sudah punya handling top.

Namun, karena selentingan-selentingan miring yang mengatakan, SP 1 dan SP 2 sebagai Ducatinya orang kere, banyak yang enggan meminangnya… Maklum, bukan harga barunya yang beda jauh dengan Ducati, tapi SP 1 dan SP 2 tahan banting, beda dengan Ducati sejamannya yang doyan jajan. Kerewelan Ducati ini tentu menuntut pemiliknya untuk siap dengan dompet yang tidak boleh tipis. Yup, aneh, lebih handal malah lebih dihina-hina wkwkwk…… Doi memang tak bisa lepas sebagai predikat motor yang khusus diciptakan untuk mematahkan dominasi Ducati di WSBK.. Hina-hinaan motor itu ternyata universal ya wkwkwk… Mau sekeren apa, sehandal apa, ada saja alasan untuk menjatuhkannya..

Iklan