DSC09681Thunder 125 memang motor yang sebenarnya diciptakan untuk bisa ekonomis dan irit, tetapi tetap berpenampilan maskulin. Sayang, desain yang tanggung dan mesin yang terlalu kecil membuat doi jadi objek bulan-bulanan. Ya, begitulah dunia, motor buat ngirit-ngirit dibandingkan dengan motor lain yang secara kapasitas saja jauh lebih besar.

Sebenarnya Thunder 125 tidak lemot-lemot amat, hanya saja karakternya yang bertorsi kecil dan lebih bertenaga di putaran atas, membuat orang-orang yang baru sebentar mencobanya langsung ilfeel. Yup, belum explorasi dalam, keburu ilfeel. Maklum lah, tenaga puncaknya kan baru diatas 9000 rpm, sedangkan banyak motor SOHC lainnya sudah mencapai puncak di 8000 rpm-an, belum lagi torsi yang kecil karena memang kapasitas mesinnya yang kecil.

Alkisah adik saya mengganti karburator standardnya dengan Keihin PE 28 yang biasanya menyuplai NSR 150 SP. Alasan dia ganti sih sebenarnya bukan semata mengejar power lebih besar, tetapi demi kenyamanan. Ya, jadi karburator vakum bawaan motornya memang sudah eror. Payah juga ya, motor belum tua kok sudah eror karbunya. Tapi, dengar-dengar, ya begitulah kelemahan karburator vakum. Selain kurang galak di tarikan awal, kalau karet vakum sobek atau ada yang eror, wah, dijamin riding terasa menyiksa, maklum, ngempos, atau sering sekali mati/malah menggerung di kemacetan.

Singkatnya, karbu yang extra irit dan selevel iritnya di bawah injeksi ini pun lengser. Karbu Keihin PE 28 ini rasanya KW, maklum, cuma 200 ribuan lebih..lupa berapa pasnya. Untuk instal PE 28 ke Thunder 125 tak perlu penyesuaian apa-apa, tinggal pasang, maka PE 28 duduk manis menggantikan karbu ori Thunder 125. Yang perlu dibeli mungkin throttel gas baru…ya, seratus ribuan sudah dapat lah yang sederhana.

Tanpa setting main jet ataupun pilot jet, PE 28 (yang sepertinya KW ini), ternyata Thunder 125 kata adik saya fine-fine aja, tidak banjir… PAdahal logikanya banjir kebanyakan bensin ya…Doi sendiri puas..motor jadi handal dan penyakit mati-mati atau ngegerung gara-gara karbu vakum eror pun tuntas. Akselerasi awal terasa jelas meningkat, hanya saja, menurut dia, secara top speed rasanya sama-sana saja dengan yang sebelumnya. Ketika dijajal, setara lah tarikannya dengan Yamaha Vixion dari gigi1 ke gigi 4 (tapi Vixionnya boncengan wkwkwkwk), Nah, memasuki gigi 5..Wuzzzzzzzzz……….

Vixion ngacir tak terkejar lagi wkwkwk… Ya, lumayan lah peningkatannya, yang penting motor mati-mati jadi bukan masalah lagi. Namun, konsumsi bensin meningkat. Katanya sih kira-kira 2 kali lebih boros… ampun deh… Mungkin dengan setting main jet dan pilot jet yang sesuai, harusnya Thunder 125 bisa sedikit lebih irit dari yang sekarang. Pesan dari artikel ini: Kalau mau kencang pakailah motor dengan kapasitas yang lebih besar.. Biarkan Thunder 125 tetap jalani kodratnya sebagai motor laki buat irit-iritan…

a