DSC09901Berbagai belahan dunia dijamin tergenang air kalau curah hujannya gila-gilaan, apalagi di Jakarta yang memang banyak sekali faktor yang bisa menyebabkan banjir.

Salah satu faktor yang gampang diamati tentunya masalah sampah! Banyak sekali masyarakat yang tidak peduli soal yang satu ini, buang sampah bisa dimana saja, di kali, di got,  di jalan tol, jalan umum. kampus, bahkan di tanah orang. Bahkan sekarang, sepertinya dengan banyaknya pembangunan rumah sistem cluster yang tak memperhatikan proses pembuangan dan pengolahan sampah, banyak orang yang bawa sampah sebuntelan plastik besar untuk dibuang di pinggir jalan atau sungai dengan sengaja. Penegakan hukum yang tegas diperlukan untuk menanggulangi masalah ini (ya, tapi situ tahu kan….)

Cara apalagi yang bisa digunakan untuk mengurangi sampah penyebab banjir? Sebenarnya ada satu cara untuk mengurangi jumlah sampah, yakni daur ulang. Tapi sistem yang belum memadai pasti membuat usaha ini jadi tak terasa di banyak daerah. 

Salah satu jenis sampah yang sangar tentunya sampah plastik. Kemasan botol air mineral dan plastik belanjaan memang terbukti joss untuk bikin saluran air mampet, apalagi plastik sangat sulit terurai secara alami dalam waktu singkat.

Untuk menguranginya, apakah harus menunggu kesadaran masyarakat?????? Preeeeettttttt……. Kapan???????

Sebenarnya bisa dimulai dengan peraturan yang mewajibkan para produsen hanya memproduksi air mineral di kemasan botol besar. Di Jerman misalnya, tidak akan ada tuh air mineral dalam kemasan gelas! Yang ada kemasan 1,5 liter dan 5 liter. Itupun botolnya bisa kita uangkan kembali. Jadi, misalnya kita beli air mineral sebanyak 6 botol ukuran 1,5 liter. Kita harus membayar sebesar 3 Euro. Nah, kalau sudah habis dan keenam botolnya kita kembalikan ke swalayan penjualnya, mereka akan memberikan kita voucher belanja seharga 1 Euro misalnya, ya seharga botol-botol itu!

Hal lain di swalayan yang bisa ditiru adalah penggunaan kantong plastik. Jadi, di Jerman, konsumen harus beli kantong plastik dan membungkus belanjaannya sendiri, beda dengan di Indonesia yang gratis, bahkan dibungkusin kasirnya! Nah, kalau plastik diwajibkan diberi harga, kan orang-orang lebih memilih membawa tas kain sendiri untuk berbelanja. Atau mereka bisa juga beli tas kain yang bisa digunakan berulang-ulang, bahkan bertahun-tahun! Andaikan kedua aturan ini diwajibkan pemerintah, Blog Sesat memprediksi, jumlah sampah dan permasalahannya akan turun dalam jumlah yang cukup signifikan.

Namun, ya, tergantung, apakah semua produsen air minum kemasan dan swalayan bersedia mengikuti. Demi kebaikan bersama, ya seharusnya semua mengikuti, jangan sampai ada yang mengikuti dan ada yang tidak!

Iklan