DSC00082

Suatu hari ada rekan Jerman ane yang nanya-nanya, apakah di Indonesia motor-motor yang jarang dipakai suratnya pada dicabut berkasnya? Soalnya di Jerman memang begitu, kendaraan-kendaraan tua atau sangat-sangat jarang digunakan akan mereka cabut berkasnya, dengan begitu mereka tak perlu bayar pajak, toh motornya juga cuma nongkrong di garasi saja. Kalau memang mau sering dipakai lagi, mereka tinggal mendaftarkan lagi.

Wah, praktis juga, daripada suratnya dibiarkan mati dan kena denda atau pemutihan, kan mending diurus begitu ya. Sebab di Indonesia, banyak sekali motor tua yang memang pajaknya tidak dibayarkan. Alasannya banyak, bisa karena tak ada biaya, bisa dianggap buang-buang uang, sebab motor hanya ngejogrok dan tidak hidup, atau sering juga karena untuk membayar pajak repot akibat beda daerah!

Kalau memang repot, kan mending cabut berkas tuh… Tapi secara logis, banyaknya motor yang dibiarkan mati pajaknya jadi tanda tanya. Mengapa dibiarkan pajaknya mati dan tak dibayarkan? Apakah cabut berkas di Indonesia risikonya besar? Apakah takut untuk kesulitan yang akan dialami kalau nantinya mau didaftarkan lagi?  Sedangkan, ane pernah baca adanya aturan baru yang menyebutkan, kalau motor tidak diperpanjang stnknya dalam jangka waktu tertentu, berkasnya akan dimusnahkan juga… ih ngeri….

Kalau dipikir-pikir, kalau cabut berkas itu memang syah-syah saja, memang untuk motor-motor tua sebaiknya cabut berkas saja kalau sudah layaknya barang koleksi dan hampir tak pernah turun ke jalan. Tapi, kata teman saya, di Indonesia riskan kalau cabut berkas. Takutnya kalau surat di kita kenapa-kenapa (hilang atau kebanjiran/ kebakaran), nanti kalau berkasnya sudah dicabut, tidak akan ada back upnya dan tidak bisa didaftarkan lagi. Logis juga sih…

Barangkali Bro ada yang mau berbagi pengalaman, silahkan…

DSC00083