DSC00155

Yang namanya produsen memang sudah hukumnya mengikuti selera pasar. Yang namanya selera pasar ya tentu selera pasar yang terbanyak alias main stream…

Di Luar negeri, selera pasarnya sudah semakin majemuk. Saking mapannya, mereka mulai bosan dengan motor yang serba cepat, serba hi-tech, serba ringan dan sebagainya yang identik dengan teknologi yang dianggap berlebihan. Ada paradigma yang menghendaki motor yang simple! Motor yang dikatakan memiliki desain yang timeless!

Apalagi yang tak termakan zaman kalau bukan motor-motor yang berdesain klassik. Produsen asal Inggris macam Norton, Triumph dan Vincent benar-benar memahami ini. Mereka pun menerbitkan motor-motor legendarisnya kembali. Dan itu tentu serba kebetulan juga bagi mereka, sebab dengan menghindari zona berdarah-darah kalau harus duel dengan pabrikan Jepang, mereka bisa hidup berkecukupan. Maksudnya, secara omset sukar untuk menyamai mereka-mereka yang jualan produk main stream.

Bagaimana dengan pabrikan di Indonesia? Hmm… bingung mau jawab apa. Namun, desain Scoopy dan gebrakan terlambat Fino sudah memperlihatkan, segmen pencinta klassik di Indonesia cukup luas. Kawasaki yang di luar negeri sana memperhatikan kebutuhan bikers pencinta motor klassik dengan mengeluarkan Kawasaki W800 pun sebenarnya bisa mengincar segmen ini. Ingat kan awal kesuksesan Ninja 250? Ninja 250 juga pada awalnya mengincar segmen yang tak disentuh-sentuh pabrikan lain, yakni kelas 250 cc yang dianggap sepi calon konsumen.

Kita tunggu saja, siapa yang mau duluan… Kawasaki lagi? Atau TVS yang akan mengikuti jejak Royal Enfield?

DSC00157

Iklan