DSC00302

Salah satu yang membedakan motor zaman dulu dan motor zaman sekarang adalah bisa tidaknya motor itu membawa sespan.

Motor-motor keluaran baru hampir seleuruhnya tak ada yang dirancang untuk membawa sespan. Wajar sih, sebab keadaan lalu lintas juga tidak mendukung untuk membawa sespan. Sisi mobilitas dan kelincahan motor langsung nyaris hilang dan tak ada bedanya dengan mobil, ketika motor itu menggandeng sespan.

DSC00300

Namun, itu kan sisi fungsionalitas. Kalau bicara gaya ya beda lagi… Pasang sespan di motor jelas mendongkrak tampilan. Kalau bagus ya syukur, kalau jelek pun tetap punya daya tarik, minimal memancing perhatian orang.

Untuk motor-motor klassik BMW, sespan menjadi aksesoris yang lebih dari sekedar aksesoris, maklum, ukurannya lebih besar dari motornya sendiri. Melengkapi motor dengan sespan dijamin mendongkrak penampilan, dan bisa jadi mendongkrak harga jual. Untuk sespan yang original dari Bavaria atau dari Jerman, harganya dijamin membuat orang awam geleng-galeng. Maklum, kalau original dan kondisinya mulus, harganya tak jauh dari harga Kawasaki Ninja 250 baru hihihi… Mahal ya.. tapi ini juga harganya ikutan arus inflasi kok, bisa naik terus dan bisa dijual terpisah dengan motor.

Bagaimana sespan lokal? Ternyata untuk motor sekelas BMW tidak murah juga, dengar-dengar tak kurang dari belasan juta rupiah. Hmmm.. ane tergoda juga… Btw, persoalan sespan dipasang di kiri atau di kanan sebenarnya soal mudah. Pertama, tentu sesuaikan dengan motor dulu. Bawaan motornya bagaimana? Apakah dudukan di kanan/di kiri? Sebab merombak-rombak berarti sudah merusak hitungan dari pabriknya sana, belum lagi berisiko merusak dan mengurangi nilai keoriginalan motor.

Untuk lalu lintas di Indonesia, ya enaknya sespan ada di sebelah kiri (kan turun di kiri dan nyalip dari kanan). Ayo ada yang mau pasang sespan??? (buat bawa anak-istri, barang dagangan, narkoba xixixixi…)

DSC00301

//

Iklan