140_Kevin Schwantz .jpg.2646786Lanjut ke pertempuran legendaris Rainey Vs. Schwantz. Kedua pembalap yang masuk ke Arena GP sejak 1988 ini melanjutkan rivalitas mereka tak lagi di tingkat Amerika Serikat, tetapi ke tingkat dunia. Singkatnya, hingga masuk ke tahun 1993, Rainey sudah 3 kali berturut-turut menjadi juara dunia. Schwantz hanya bisa berujar: gagal maning gagal maning son!!!!!

Namun, di tahun 1993 itu, Rainey berurusan dengan Schwantz yang “lain”. Yup, di GP Australia, GP pertama tahun 1993, Rainey menyadari, tahun itu akan sulit menaklukkan Schwantz. Setelah Keok dari RGV 500 Lucky Strike Suzuki, Rainey dan tim Marlboro Team Roberts membalas kekalahan di kedua seri selanjutnya.

Sulitnya Rainey menaklukkan Schwantz tak lepas dari perubahan gagal di Yamaha YZR 500. Yamaha membuat sasis yang terlalu kaku…TERLALU! Semua power tersalur langsung ke aspal…(disinyalir terlalu makan ban-red). Permasalahan ini baru teratasi, ketika Kenny Roberts beli sasi ROC di Swiss (wah, lagi-lagi di Swiss, negaranya Om Eskil Suter). Namun, setengah musim terlanjur berlalu dan poin Schwantz sudah lumayan meninggalkan Rainey.

100_Kevin Schwantz .jpg.2646746

Tak hanya Schwantz yang jadi lebih jago dan YZR 500 yang menjadi kurang sempurna, Suzuki berhasil menyempurnakan RGV 500. Kehadiran Stuart Shenton sebagai Crew Chief yang pindah dari Honda membawa angin segar bagi Schwantz. Motor yang enteng di tekuk, tetapi di pertengahan tikungan mintanya lurus (????????-red) alias ogah mengikuti line diperbaiki. Karakter nurut di awal tikungan saja ini dikarenakan titik berat RGV yang terlalu rendah. Penggeseran mesin lebih naik, ke depan, dan pembenahan poros swing arm membuat handling RGV 500 tak bisa dipandang sebelah mata oleh Yamaha.

020_Kevin Schwantz .jpg.2646666

Setelah pertengahan musim, terjadi perubahan kekuatan. Rainey yang kembali kompetitif dengan Yamaha berusaha mengejar Schwantz. Unggul 22 poin tentu lumayan aman… Namun, di seri Donington, Ooom Doohan mengubah peta kekuatan. Bahkan Schwantz bilang: “Tu Bocah tidur kali yee…”

Wajar saja pria yang sampai saat ini masih melajang begitu berkomentar. Maklum, Schwantz yang baru saja menyalip Barros dan sedang berburu Rainey sedang merasa pede… Sebab di putaran pertama itu hanya ada Rainey di depannya, dan doi bisa mengalahkan Rainey di free practice. Eh, tau-tau Doohan dan NSRnya menghajar Barros dan kemudian Schwantz. Schwantz hanya bisa berteriak “TIDAAAAAAAAKKKK” saat RGV 500nya berputar-putar salto di atas dirinya…

Dan akhirnya, dengan tersisa 4 race ke depan,  Schwantz jadi unggul 3 angka saja di depan  Rainey. Di seri berikutnya di Brno, Rainey kembali Numero Uno, sedangkan Schwantz malah garuk-garuk aspal karena finish ke-5. Rainey pun kembali teratas.

Di salah satu dari 3 balapan tersisa setelah itu, race akan diselenggarakan di Laguna Seca, tempat favorit Rainey. Schwantz tentunya semakin ketar-ketir…Namun, sebelumnya, race diselenggarakan di Misano, Italia.

Di Race ini pun, Rainey juara di Qualifying dan memimpin jalannya race…

Nah, bagaimana kisah selanjutnya… Tunggu saja, atau kalau tak sabar, baca sumber lain hihihi….

 

Iklan