You are currently browsing the monthly archive for November 2013.

DSC00641Mobil-mobil buatan Jerman memang bukan mobil-mobil yang punya image supercar. Supercar lebih didominasi merk-merk Italia macam Ferarri, Lamborghini dan Bugatti. Meskipun begitu, Jerman sebenarnya tidak kalah. Nama besar Porsche tentu tak perlu diragukan.

Tidak terlalu populernya supercar Jerman memang lebih dikarenakan karakter orang-orangnya yang lebih logis. Membuat mobil dengan power tak terkontrol dan bahan bakar extra boros itu bukan Jerman banget. Orang Jerman lebih suka logis, tak terlalu emosional seperti orang Italia hehehe… Karena itu, bukannya menggali power, Jerman lebih senang menggali teknologi yang menuju ke arah handling dan sisi safety yang lebih baik plus efisiensi bahan bakar yang mumpuni. Pasar otomotif Jerman tak semata menjual power besar, mereka selalu menampilkan klaim konsumsi bensin dan emisi yang dihasilkan. Jadi mobil bermesin bagus itu yang bertenaga besar, irit dan emisi rendah.

Meskipun tak dikenal dengan mobil supercar bertenaga gila, jangan lupa, mereka punya juga lho… Tau kan Bugatti Veyron yang bertenaga 1000 PS lebih itu? Memang merknya Italia, tapi di belakangnya banyak orang Jermannya. Jangan lupa, VW sebagai produsen mobil (kayanya terbesar saat ini) pasti tak ingin sebatas joss jualan, mereka juga punya idealisme sendiri. Nah, muncul deh tuh mobil paling ga logis powernya..paling sia-sia deh ditaro di jalan umum.. mobil pemenuh napsuuuuuuu! Yup, Bugatti Veyron kabarnya hadir atas titah VW. Jangan lupa, VW membawahi produsen-produsen otomotif macam Audi, Porsche, Bugatti, Lamborghini, MAN, Seat, Skoda, Ducati dan sebagainya…

Kembali ke judul! Orang-orang yang tau otomotif, terutama roda 4 pasti tak asing dengan istilah Autobahn. Orang bilang sih jalan tolnya Jerman. Bedanya, ini jalan bukan macam tol di kita yang dipungut bayaran, ini gratis… Jalan penghubung antar kota ini begitu terkenalnya, karena di lokasi-lokasi tertentu memang tak ada batasan kecepatan. Tidak heran kan, mobil Jerman cepat-cepat? Namun, karena ada aturan, mobil supercar mereka biasa dipasangi limiter sehingga top speednya cukup 250 Km/jam saja.

DSC00627

Dengan konsep Uni Eropa yang bebas keluar masuk negara sesama anggota UE, banyak juga WN UE lainnya yang mencoba “wisata Autobahn”. Yup, Jerman jadi kebanjiran pengebut roda empat. Rekan kerja ane bahkan cerita, jadi banyak orang-orang wajah Asia yang juga ngebut di Autobahn. Nah, berhubung di bagian tertentu tak ada batas kecepatan, tancap gas di sini bisa pol dan legal. Namun, bukan dalam artian boleh balap dan ugal-ugalan di jalan lho… Jarak antar kendaraan harus diperhatikan. Zig-zag juga tak diperkenankan. Kalau ada yang membandel, wah kalau kena Polisi bisa dikandangin mobilnya, dan ga ada cerita wani piro???? Barang bukti biasanya rekaman video yang ada di mobil polisi yang patroli biasa dan berpenampilan mobil sipil. Di sana juga tak hanya denda, tapi ada sistem poin yang bisa membuat SIM dicabut. Kapan ya Indonesia bisa seperti itu??? Selama masih wani piro, ya lupakan sajalah….

Iklan

DSC00668

Setelah penantian dan pencarian panjang, akhirnya ane ketemu juga sama si glue stick. Sebenarnya sudah pernah lihat sih glue stick yang biasa dipakai industri rumahan untuk merekatkan produk-produk mereka, tetapi baru kali ini ketemu. Bukannya susah didapat, tetapi saya yang malas mencari. Nah, beberapa waktu lalu kebetulan ketemu di Car*******(promo bayar-red). Sayang juga, kenapa baru ketemu sekarang sama si barang berguna ini, terutama bagi saya yang hobinya ngotak-ngatik, suka bakar-bakar, dan ga suka buang-buang barang.

DSC00667

Cara penggunaan glue stick sangat mudah, dan menurut saya praktis. Tinggal dipanaskan dengan api, nanti bagian yang meleleh tinggal ditempelkan ke bagian yang ingin direkatkan. Dari membakar hingga menempel dan kering sangat cepat, hanya 2 menit, beres tuh…bedakan dengan lem besi yang butuh waktu merekat yang agak lama dan harus lumayan lama ditunggu hingga kering. Dengan glue stick, selain rapih, lem tidak akan terbuang. Selain itu, bebas dari ancaman lem mengering. Dari segi harga, untung banget, hanya 18.500 dapat satu pack itu. Satu batang saja dijamin bisa nempelin lampu sen Tiger yang rawan kesenggol sampai 5 pasang!

Enaknya lagi, warnanya yang bening dan mudah dioperasionalkan membuat leman sen terlihat rapih… nyaruh deh… Selain itu, lebih elastis dibandingkan lem besi, jadi lebih awet. Memang ada lem macam Aibon yang lebih elastis, tetapi soal kekuatan, kepraktisan, harga dan kerapihan plus waktu hingga kering, glue stick juara kemana-mana. Enaknya lagi, kalau pakai glue stick, tak perlu bersih-bersih amat membersihkan permukaan yang ditempel.

Pokoknya cuma butuh glue stick, lilin babi ngepet, korek, thats all…..

Syukur-syukur bisa buat nempel teralis juga di motor, jadi kaya gini nih:

(*Achtung! Blog Sesat tidak bertanggung jawab untuk penggunaan glue stick untuk foto di bawah ini!)

DSC00666

Perang dingin di antara beberapa pembalap MotoGP memang bukan barang baru. Persaingan extraketat plus provokasi fans dan orang sekitar juga bisa menyulut perang dingin antar pembalap. Bahkan tak sebatas pembalap antar negara macam Rossi Vs. Stoner, bisa juga satu negara ada perang dingin. Ya, lihat saja Pedrosa, Lorenzo dan Marquez, di antara ketiganya terlihat ada perang dingin yang tentu berusaha disembunyikan, terutama kalau ketiganya naik podium.

Berhubung perang dingin ketiganya bisa ente amati sendiri dan baca di berbagai sumber, Blog Sesat mencoba melihat perang dingin yang pernah terjadi antara dua legenda sezaman dan senegara, yakni antara Kevin Schwantz dan Wayne Rainey.

030_Kevin Schwantz .jpg.2646676

Keduanya sama-sama pembalap asal Amerika Serikat. Wayne yang family man dan cool asal California, sedangkan Schwantz yang “liar” dan menggebu-gebu asal Texas, yup, satu kampung halaman sama Edwards dan Spies. Persaingan keduanya tak kalah panasnya, bahkan lebih panas dibandingkan pertarungan Rossi Vs. Stoner maupun Rossi Vs. Lorenzo. Selain banyak senggolan dan manuver gila, persaingan mereka terjadi cukup panjang, di GP 500 sampai 4 tahunan! Beda dengan zaman sekarang yang panasnya maksimal 2 tahun saja.

120_Kevin Schwantz .jpg.2646766

Wayne bisa dibilang seperti Lorenzo saat ini, gaya balapnya rapiiiiiiii… kaya robot. apalagi didukung Yamaha YZR 500 yang di eranya memang tak terkalahkan. Tak heran, Rainey jadi juara dunia 3 kali berturut-turut di atas Yamaha, apalagi saat itu ada Kenny Roberts yang jadi mentornya. Bisa dibilang, Rainey dan YZR 500 plus Roberts adalah perpaduan sempurna! Sedangkan Schwantz yang di awal tahun 1993 itu belum pernah sekalipun jadi juara dunia.

Meskipun begitu, Schwantz juga legendaris. Persaingan dengan Rainey sudah terjadi sebelum mereka main di GP. Schwantz juga sering menang atas Rainey, jumlah juara seri juga begitu, tapi ujung-ujungnya yang jadi juara dunia selalu Rainey hahaha…. nasib…nasib…

020_Kevin Schwantz .jpg.2646666

Schwantz bisa jadi legenda meskipun dia jadi juara dunia hanya tahun 1993 saja, karena dia adalah pembalap yang hobby menembus batas. Manuver gila dan aksi rodeo ala Schwantz benar-benar membuat doi dicintai fans balap motor. Apalagi, pria yang masih melajang ini sering mengalahkan Rainey dan YZR 500 yang terbilang sempurna dengan RGV 500 yang kalah duel lawan motor 500 cc Yamaha itu.

130_Kevin Schwantz .jpg.2646776 Banyak cerita menarik antar ex-pembalap Suzuki yang identik dengan nomor 34 itu dengan Rainey. Kedua rival berat itu kini sudah menjadi teman baik. Kecelakaan Rainey di seri-seri terakhir membuat Schwantz merasa tak juara dunia sepenuhnya. Yup, jadi juara dunia tanpa bertempur dengan kandidat juara dunia plus juara dunia bertahan di dua seri terakhir, membuat Schwantz merasa ada yang kurang. Ia tak merasa jadi juara sejati.

Rainey yang kariernya berakhir karena kecelakaan tragis di Italia, 3 seri terakhir GP 500 1993 mengakui, Schwantzlah yang layak jadi juara dunia tahun itu. Ia tak membuat Schwantz merasa bukan juara dunia sejati.

Kisah detailnya kita lanjutkan kapan-kapan ya……..

DSC00609Kalau lihat bentuk spidometernya, bisa kita bilang bentuknya klassik. Artinya, sudah sejak zaman dulu bentuk spidometer ya seperti itu. Dulu tahun 90an awal, sempat bentuk spidometer berubah sok canggih, ya mirip dengan rpm di Kawasaki ZX-10R terbaru atau mirip dengan yang di mobil KITTnya Knight Rider.

Namun, secara visual, tampaknya bentuk spidometer klassik lebih diminati. Misalnya di mobil BMW ini. Sepintas terlihat tidak seperti mobil hi-tech, padahal, kalau sampeyan tau ini dashboard BMW seri 7 terbaru, siapa yang berani bilang ini mobil jadul????????

Yup, mobil seharga lebih dari 1,9 Milliar ini memilih desain klassik untuk spidometernya. Yang namanya klassik, sampai kapanpun ya akan tetap diterima selera zaman, sedangkan yang tidak klassik, suatu saat akan terlihat kuno dan tampak seperti maenan bocah!

MEskipun desainnya klassik, instrumen ini full digital lho… hanya seakan-akan ada jarumnya saja, padahal semuanya digital… canggih… tapi ngeri juga kalau kelistrikannya error ya..makanya, main mobil dan motor tua saja hehehe…

tersesat muter-muter

  • 1,852,414 x 1000 rpm

Waspadalah! Mungkin saya menyesatkan Anda....

Telah Menyesatkan

hmmm

Follow Motorklassikku on WordPress.com