020_Kevin Schwantz .jpg.2646666

Mari kita lanjutkan kisah dua pembalap legendaris GP 500 yang bisa dibilang seteru abadi, yakni Wayne Rainey Vs. Kevin Schwantz. Yang lupa cerita terakhir, monggo baca lagi:

https://motorklassikku.wordpress.com/2013/11/12/schwantz-vs-rainey-return/

Singkat kata, Schwantz yang tadinye memimpin klasemen dengan aman ketiban durian runtuh, masalahnya durian runtuh di kepalanya, dan Schwantz tak pakai helm (apa coba???). Akibat jatuh diseruduk Doohan dan kalah di seri sebelumnya, kini Rainey yang ambil alih pimpinan dengan sisa 3 race. Salah satu racenya adalah di Laguna Seca, tempat favorit Rainey. Ya, mungkin ibarat Stoner di Philipp Island yang tak terkalahkan. Sialnya, Schwantz termasuk pembalap yang ga doyan Laguna Seca.  Jadi, bagi Schwantz, peluang untuk jadi juara dunia semakin tipis jika tak menang di dua seri lainnya.

Nah, seri ketiga terakhir ini diselenggarakan di Misano. Di Qualifying, Rainey sudah membuat Schwantz tekuk lutut.

Saat race, Rainey memimpin di depan. Namun, doi tak bisa meninggalkan dan melepaskan diri dari ancaman pembalap-pembalap di belakangnya. Di lap ke-10, Rainey merasa dirinya begitu lelah seakan-akan dia sudah membalap di lap terakhir, tetapi dia bertekad untuk mengalahkan rivalnya, terutama Schwantz. Tiba di sebuah tikungan, motor Rainey tergelincir. Rainey mengatakan, itu bukan highsider. Rainey tergelincir dan jatuh di depan motornya. Mereka meluncur cepat, jadi Rainey meluncur di depan motornya dan orang-orang memprediksi, Rainey terhantam YZR  500nya sendiri.

050_Kevin Schwantz .jpg.2646696

Saat Rainey terjatuh dan terluka parah, Schwantz tak mengetahui, bahwa dengan kondisi Rainey seperti itu, otomatis Schwantz bisa dengan mudah jadi juara dunia. Yang ada di pikiran Schwantz saat itu, ia bisa meraih point sebanyak-banyaknya.

Kilas balik sedikit saat race di Donington dimana Doohan menabrak Rainey dan membuatnya kehilangan pimpinan klasemen, Doohan datang ke Schwantz di malam harinya dan meminta maaf. Doohan pun menjanjikan, akan membantu Schwantz untuk kembali ambil alih pimpinan klasemen.

Kembali ke race…. Nah, tau-tau Doohan nyalip Schwantz (wakakaka…). Schwantz cuma bisa mengumpat saat Doohan menyalipnya. Padahal saat itu Schwantz sedang berusaha dapat point sebanyak mungkin. Di akhir race, Schwantz hanya bisa juara 3 di Misano.

Saat turun dari motor dan melihat ambulance membawa Rainey, Schwantz sadar, dirinya kembali menjadi pimpinan klasemen dengan 2 race tersisa. Seri berikutnya di Laguna Seca, dan Schwantz berusaha berkonsentrasi untuk mengalahkan Rainey di sana.

Ketika tau, Rainey lumpuh akibat kecelakaan itu, Schwantz turut terpukul. Musuh beratnya yang mengalami kecelakaan jauh lebih sedikit dibanding dia kini lumpuh. Schwantz mendadak sadar, dirinya bukan iron man, bukan superman yang tahan banting dan tak bisa mati.

Di Laguna Seca, Schwantz pun bisa menjadi juara dunia–dengan cara/situasi yang sangat tak enak baginya. Schwantz berusaha untuk senang, tapi tak bisa, bayang-bayang Rainey begitu menghantuinya. Ia merasa jadi juara dunia yang tak sempurna. Kenny Roberts, mentor Rainey pun masuk ke ruangan tim Lucky Strike Suzuki yang merayakan juara dunia Schwantz dengan seadanya karena spontan. King Kenny bahkan memprovokasi dan mengatakan, tim Suzuki happy diatas cedera Rainey.

Di race terakhir, saat juara dunia sudah ditentukan di Laguna Seca, Schwantz kembali merayakan, kali ini di pesta besar yang sudah direncanakan. Namun, bayang-bayang Rainey begitu jelas sehingga Schwantz mengaku berusaha untuk senang di pesta itu.

Schwantz merasa menjadi juara dunia dengan kurang layak. Hebatnya, Rainey di kemudian hari mengatakan, bahwa Schwantz memang layak menjadi juara dunia. Pernyataan ini menenangkan Schwantz.

040_Kevin Schwantz .jpg.2646686

Di berbagai media, Schwantz dikenal membalap hingga pertengahan tahun 1995. Namun, sebenarnya, Karier Schwantz juga sudah berakhir ketika kecelakaan Rainey 5 September 1993 terjadi.

Tahun 1994, Schwantz membalap karena memenuhi kontrak dengan Suzuki, meskipun dia merasa tidak yakin. Tiga minggu sebelum start race 1 1994, Schwantz patah tangan akibat olah raga mountain bike. Saat itulah Schwantz kembali banyak bercermin dan membenahi mentalnya. Di race ke-3 1994, Schwantz berhasil menjadi juara 1. Dia mendapat keyakinan, bahwa dirinya sudah kembali menjadi Schwantz yang dulu, yang pemberani dan tak takut celaka. Namun, keadaan saat itu sudah berubah. Honda NSR 500 bersama Doohan begitu kencang, sehingga Schwantz harus ambil risiko gila-gilaan untuk tetap bisa menguntit NSR dan Doohan. Dan saat race di Assen, Schwantz kembali mengalami kecelakaan dan patah pergelangan tangannya.

Akhir karier Schwantz adalah tahun 1995 saat sedang mengetes  motor di Philipp Island. Di sebuah tikungan cepat ke kiri, Schwantz terpental, salto dan keluar trek. Dia pun tertelungkup, kemudian dia berguling dan membalikkan badan. AkHAAAAAYYYYYYY…. eh JEBREEETTTT ….

RGV 500 terjatuh kurang dari setengah meter di sampingnya dari ketinggian yang lumayan. Apa jadinya kalau dia berguling ke arah sebaliknya? Saat itu Schwantz bertanya pada dirinya sendiri: “Ngapain lo di sini idiot??!!! ” Pada intinya, Schwantz mengakui, butuh waktu sejak September 1993 hingga awal 1995 untuk menyadari, saatnya untuk berhenti dari dunia balap.

Nah, begitulah ceritanya Bro… utang ane lunas ya…

Iklan