Dulu kita pernah membahas, kenapa R 27 begitu digemari pencinta motor klassik yang doyan touring. Yang belum sempat ngikut menyimak atau mau ingat-ingat lagi, silahkan balik ke sini:

https://motorklassikku.wordpress.com/2011/07/21/bmw-r-27-the-best-sport-touring-single-cylinder-motorcycle-versi-blog-sesat/

 

DSC00768

BMW R 27 yang brojol di Muenchen dari tahun 1960-166 merupakan motor klassik singel silinder terakhir yang diproduksi BMW. Sebelum kita membahas kenapa BMW memutuskan mengakhiri produksi motor yang laris manis ini, ada baiknya kita sedikit mundur ke belakang.

Hingga tahun 1956, BMW sukses memproduksi R 25 series ( R25, R 25/2 alias unyil alias kuaci, dan R 25/3) sebanyak 109 551 unit, sebuah jumlah produksi motor yang luar biasa untuk ukuran masa itu. Motor satu silinder bertenaga sekita 12 PS ini diproduksi 3 kali lebih banyak dibandingkan keseluruhan model BMW bermesin boxer! Memasuki pertengahan tahun 1950an, mulai sulit untuk membuat sepeda motor laku. Di satu sisi karena pasar yang berkembang sangat lambat, di sisi lain, pasar beralih memilih mobil!
DSC00767Kesulitan lain yang diderita BMW saat itu adalah persaingan dengan produsen motor 4 tak lainnya, yakni NSU. Pesaing asal negeri sendiri ini lebih sukses dengan NSU Max-nya. Maklum, selevel dengan R 25 secara desain dan harga, tetapi pasar Jerman menganggap NSU MAx lebih baik, sebab tenaga jelas jauh lebih besar, yakni 17 PS!  Perbedaan 5 PS ini membuat konsumen yang rata-rata masih muda lebih melirik produk NSU.

BMW tentu tak tinggal diam. Konstruksi full swing arm (jadi depan-belakang memiliki lengan ayun) yang ada di motor bermesin boxer sejak 1955 pun diadopsikan ke BMW R 26 di tahun 1956. Tenaga pun dinaikkan menjadi 15 PS. Dengan tenaga mendekati NSU Max tetapi kenyamanan dan stabilitas yang melampaui Max, R 26 pun laris manis di pasaran. BMW R 26 yang diproduksi sebanyak 30. 236 unit menjadi motor terlaris di Republik Federal Jerman (Jerman Barat) di masanya.

DSC00766

NSU MAX KO! Namun, Jepang datang dan siap perang!

Tahun 1960, Jerman dilanda krisis permotoran. Maksudnya, susah deh bagi produsen motor di saat itu untuk menjual motor. Menghadapi masa ini, BMW menghadirkan BMW R 27. Dengan perbaikan rangka dan engine mounting 5 titik membuat mesin R 27 seakan-akan “melayang”. Getaran mesin sangat diminimalisir tertular ke rangka, hasilnya, keluhan-keluhan di R 26 yang diakibatkan getran-getaran mesin tereliminasi. Jadi, yang pernah naik R 25/3 terus coba R 27 pasti tahu bedanya.. jauuuh lebih nyaman naik BMW R 27. Mesin pun dinaikkan peak powernya menjadi 18 PS. Dengan segala kelebihannya ini, R 27 pun dapat predikat the best single cylinder motorcycle dan tak perlu takut lagi sama NSU Max.

 

DSC00765

Di tahun terakhir produksinya, yakni tahun 1966, R 27 dibanderol 2670 Mark. Saingannya kali ini justru datang dari negara matahari terbit. Honda menjual CB 250 hanya 5 mark lebih mahal! Kalau di Indonesia jelas orang pada beli BMW kan hehehe… tetapi ini di Jerman Bro, mereka lebih percaya hitung-hitungan dan logika! CB 250 yang hanya 5 PS Mark lebih mahal itu sudah dibekali dengan 2 silinder dan bertenaga jauh lebih besar, yakni 22 PS.

Karena kalah di pasaran, BMW R 27 pun tak diteruskan produksinya setelah menyentuh motor ke 15. 364. Yup, setelah 27 tahun BMW memproduksi BMW singel cylinder, BMW mengakhirinya dengan motor yang sama dengan jumlah tahun produksi motor bersilinder jomblonya: 27.

Setelah berhenti diproduksi, BMW R 27 masih jadi kendaraan favorit anak muda di Jerman. Selain nyaman, tentu di sini pengaruh dari faktor harga yang terjangkau! Di tahun 70-an hingga tahun 80an, R 27 jadi motor yang banyak dipakai anak sekolah dan mahasiswa di Jerman, sebelum status ini diambil alih oleh Yamaha dengan SR 500-nya. Ketika para pelajar dan mahasiswa Jerman hijrah menggemari SR 500, motor-motor single silinder macam R 25/3, R 26 dan R 27 banyaaaaak yang ngejogrok di sudut-sudut negara bagian Bayern dan bisa diperoleh dengan beberapa ratus Mark saja. Namun, itu kan dulu, sekarang sudah beda… R 25 dengan kondisi top saja di Jerman sudah mulai masuk 8000 Euro! Padahal 3 tahun lalu masih di 7000 Euroan lho… Wah, nyesel tuh yang dulu pernah punya dan menyia-nyiakannya…

 

Iklan