Picture (3)-2

Hari gini jumlah motor 250 cc yang siap untuk dijadikan pacuan balap seperempat liter sudah lumayan banyak. Honda new cbr 250 R semakin menjanjikan. Kawasaki pun kini punya dua pilihan, mau mengandalkan yang mono atau yang stereo. Yamaha pun sekarang sudah di atas angin dengan hadirnya R25. Yamaha kini bebas dari bullying seputar motor 250 cc dan teknologi dohc.

Dari komparasi motor 250 cc yang disebutkan, dalam kondisi standar, R25 jauh mengasapi Ninja 250 fi di Sentul, bahkan dengan konfgurasi mesin sama-sama250 cc, ninja dibuat terlihat kuno secara performa mesin dan handling. New cbr standar sesuai prediksi juga blm cukup kuat. RR mono yg superior dalam akselerasi dibuat jadi urutan terbuncit dlm hal menaklukkan Sentul.

Namun, itu kan standar. Belum dalam urusan kelas bebas alias free for all. Masih banyak faktor lain yang bakal ambil peran di sini. Yang sudah-sudah memang ada regulasi, tetapi karena yang menang cbr, tentu banyak isu negatif yang malah menyerang Honda.

Untuk menghindari hal macam ini, aturan harusnya tak mekbatasi peserta. Biarkan motor yang paling kompetitiflah yang jadi pilihan peserta balap. Ini ya kalau tujuan utamanya untuk mencari bibit pembalap terbaik. Ujung-ujungnya bisa saja nantinya ffa menjadi seperti one make race. Di Jerman dan banyak negars Eropa, Kelas pemula banyak diisi pembalap yg mengandalkan Aprilia RS 125. Wajar.. kan memang yang paling kompetitif dengan budget terjangkau ya motor ini. Di kelas pemula yang konsen mencari bibit, tentu butuh aturan agar kekuatan finansial tak banyak berkutik. Di Jerman misalnya, batasan simpel saja: motor dan pembalap minimal 135 kg dan power maksimal 35 PS. (Kalau ane tak salah ingat). Ban dan suspensi pun harus bawaan pabrik.

Dengan regulasi macam ini, pembalap yg terbaik dgn team dan setting terbaik yang akan menonjol, bukan team kaya… Aprilia cuma ambil untung saja dari sini…

Namun itu dulu sih, semenjak era 4 tak 250cc, yang  panen Ktm…