Picture (3)

Jika sebelumnya kita sudah mengupas tentang Suzuki GT250, kini awak Blog Sesat akan melaporkan, bagaimana sensasi mengendarai motor 2 tak twin pararel 250 cc ini. Berikut testimoni test ride yang terjadi sekitar pertengahan tahun 2014 lalu.

Begitu naik ke motor ini, hmm, motor ini terasa besar dan lumayan berat. Jika GT 185 lumayan mencengangkan dengan ukurannya yang seperti Tiger (sebelumnya saya kira hanya sebesar CB200), nah GT 250 tidak mencengangkan. Ya tidak kaget lah, kan logikanya, yang 250 pasti lebih besar daripada yang 185. Jadi, untuk ukuran mirip lah, sama-sama berasa naik motor semi trail, hanya saja lebih berat dan lebih lebar dibandingkan yang 185. Beratnya ini jelas terasa harus menstandar tengah si GT 250, pake tarik napas dulu dan diiringi ngeden Bro.. terasa beratnya dibandingkan saat harus standar tengah Tiger.

Menghidupkan motor ini agak berbeda dibandingkan motor Jepang mayoritas, sebab selahnya ada di sebelah kiri. Untuk menyelahnya pun agak repot, sebab rider dipaksa turun dari sadel. Nah, bunyinya mesin 2 tak kapasitas besar mungkin bagi kebanyakan bikers terdengar aneh, salah-salah agak seperti bemo haha.. lumayan berisik dan kurang beraturan, ya namanya juga mesin jebolan tahun 76, tentu butuh rekondisi, apalagi ini mesin karburatornya masih original, tak heran mesinnya bunyinya sudah agak berantakan dan asap lumayan banyak. Motor ini sendiri masih dilengkapi tabung oli samping terpisah, jadi ridernya tak perlu jadi bartender hehe..


20150208_144732 Test ride pun dimulai. Kesan pertama, Hmmm langsung berasa jadi bintang film zamannya Rano Karno, Roy Marten dan Chris Salam masih muda dulu… Feeling semi trail terasa karena posisi tubuh kita yang tegak dan suspensi yang mantabs… Perpindahan gigi juga halus, sama lah dengan yang versi 185.

Bagaimana akselerasinya? Jelas lebih kencang dibandingkan yang 185. Kalau yang 185 akselerasinya halus, tapi tau-tau kencang, sedangkan akselerasi GT 250 terasa lebih mantab, masih bejaban dengan motor 150-200 cc keluaran terkini. Teman saya sudah membuktikan saat berboncengan dengan abangnya. Mereka bisa bejaban dengan Vixion yang riding sendirian. Ya, menurut saya akselerasi motor yang kalau fit powernya 30 PS ini tak terlalu ganas, ya karena sudah uzur juga dan butuh peremajaan sih. Kalau di jalan, ya bunyinya cukup intimidating sih, jadi yang nyalip juga sopan-sopan.

Berapa top speednya? Entahlah. Spidometernya mati… Namun, saya pernah mengikuti GT 250 ini dengan Excel Rose. Nguber akselerasinya, Excel Rose yang kapasitas mesinnya sudah sekitar 160ccan tak mampu menyalip, tapi ketinggalan juga tak jauh. Saat tengah malam di daerah Pangeran Antasari, spidometer Excel Rose sempat menunjukkan 120 Km/jam, tetapi GT250 masih anteng di depan. Berhubung urat takut masih ada, ane tak mau juga terlalu nempel. Maklim, GT remnya asoy, sedangkan rem Excel Rose amsyoooong….

Yang spesial dari GT 250 adalah pengeremannya yang tergolong yahud. Cakram dan kaliper bawaannya masih berfungsi sangat baik, sedangkan rem tromol di belakang tak perlu diperdebatkan, silahkan lihat di foto, ukurannya besar, setara motor-motor balap di zamannya lah…Tuasnya juga bukan ditarik tungkai, tetapi ditarik kabel.

Yang hebat banget dari motor ini adalah handlingnya! Asli Bro, mau Ente yang bawa motor, atau Ente jadi boncenger, ini motor benar-benar memberikan feedback yang yahuuuuuuud. Sampeyan ga bakal ngeri kepleset karena motor kehilangan grip! Motor benar-benar memberikan perasaan nyaman dalam menikung dan merasakan daya cengkram ban ke  lintasan! Asli, Ane juga bingung kenapa, mungkin karena rangkanya yang khas motor balap di zamannya. Rangka ini beda lho dengan GT 185 dan GT 380nya.