Jika Blogger motor tanah air testride matic 150cc Yamaha terbaru, maka Blog Sesat seperti biasa tak pernah diundang untuk urusan beginian, maklum, sepinya layak kuburan di luar hari Lebaran hehe… Meskipun begitu, Blog Sesat lumayan terhibur karena mendapatkan kesempatan menjajal motor berkapasitas sama-sama 150cc. Salah seorang anggota geng Vespa Musiman chapter Lebak Bulus mengundang Blog Sesat untuk testride mainan barunya, sebuah Lambretta LD 150 yang warnanya mengingatkan crew Blog Sesat pada kapal perang haha…

Picture (4)

Bagaimana impresi naik motor Italia kelahiran kota Milan ini? Kesan pertama, tentu dibandingkan dengan rivalnya, Vespa, Lambretta LD 150 menyambut ridernya dengan riding position yang sedikit lebih sporty. Mungkin ini karena letak setangnya yang pendek. Naik scooter ini saya mendapatkan kesan: cepat akrab. Mungkin karena ergonominya yang memang rileks. Saya merasa lebih rileks naik Lambretta dibandingkan naik Vespa. Untuk boncenger, lebih enak juga naik Lambretta, sebab posisi kaki tidak ngangkang seperti di Vespa. Kaki boncenger bisa dengan mudah diletakkan di samping body Lambretta yang memang ramping karena mesinnya tegak, tidak di samping seperti Vespa.

Picture (3)

Lambretta LD 150 pun dinyalakan, sama lah dengan Vespa, distandar tengah dulu. Suara mesinnya pun langsung membahana. Terdengar lebih besar dibandingkan Excel Rose dan bunyinya lebih Bajaj 2 tak hahaha… dari jarak lebih dari 50 meter pun, bunyi Lambretta masih bisa disimak.

Picture

Tak perlu menunggu lama, crew Blog Sesat pun langsung nyemplak di jok motor produksi Innocenti yang bentuknya familiar, mirip punya R25 dan R27 lah, model sadel. Riding position dengan setang pendek bawaannya jadi ingin geber gas ala pembalap. Namun, tenaga mesinnya ternyata kecil, sirnalah minat geber pol scooter dengan 3 tingkat percepatan ini. Pengoperasian gigi sama dengan Vespa, di tangan kiri, rem depan di tangan kanan, rem belakang di kaki kanan.

Gigi satu terasa sangat pendek, sedangkan kurang enaknya, gigi 2 jaraknya jauh dari gigi 1. Jadi, kalau rpm gigi 1 terlalu rendah, motor terasa berat. Jika Vespa biasa saja macet-macetan dan stop n go dengan gigi 2, maka dengan Lambretta sangaaaat berat, jadi harus start dari gigi 1.

Bedanya dengan Vespa yang biasa saya pakai, Lambretta lebih mirip BMW..maklum, pakai gardan haha.. Pantas saja, pas dibawa jalan ada dengungan guuuung..nguuung.. Saya duga ini bunyi gardan. Kelemahan utama Lambretta ini dibandingkan Vespa adalah ground clearancenya yang super pendek. Kena jalan gelombang saja kalau boncengan kadang mentok.. Jadi, kalau lewat polisi tidur, ya harus super hati-hati. Saat saya bawa dengan membonceng teman saya, kami selalu berdiri saat lewat polisi tidur haha..lucu juga nih scooter.

Meskpun scooter ini menggunakan velg ring 8, jangan ragukan kenyamannya dibandingkan Vespa. Kalau saya bandingkan Excel Rose dengan Lambretta LD 150 ini, kenyamannya ibarat kenyamanan Xenia-Avanza/Livina Vs. mercy kebo wkwkwk.. Sayangnya ya karena kecil saja tenaganya.

Oh ya, Lambretta klassik sayangnya sudah tutup produksi di tahun 1971 akibat krisis tahun 60an. Aset mereka dibeli India. Sebelumnya, Lambretta juga menjual lisensinya ke berbagai negara seperti Jerman, India, Inggris, Spanyol, Argentina dan Brasil. Di Jerman, NSU yang memproduksi Lambretta. Ini nih penjelmaan Lambretta LD 150 di Jerman:

800px-ZweiRadMuseumNSU_NSU_Prima

Namanya NSU Prima D yang diproduksi sejak tahun 1956-1960 sebanyak 76.911 unit, banyak juga ya. Motor berkapasitas 146 cc 2tak ini top speednya termasuk rendah, hanya 80 Km/jam. Mungkin ini karena bobotnya juga yang mencapai 123 Kg. Menurut saya sih termasuk ringan kalau melihat material scooter ini yang memang kokoh. Bedanya dengan LD 150, bisa terlihat paling jelas di setang. Kalau LD 150 setangnya telanjang, sedangkan Prima D lebih rapih dengan setang yang dibuat dari plat baja yang dipress. Prima D juga lebih sempurna dengan spidometer, jam dan banyak ornamen-ornamen chrome yang menghiasinya.

Dengan kapasitas bensin 7,3 liter, scooter Jerman berdarah Italia ini bisa jalan-jalan cukup jauh, sebab untuk menempuh 100 Km, Prima D yang berkapasitas 146 cc dan bertenaga 6,2 PS ini hanya minta jatah 2,7 liter bensin. Sangat irit mengingat motor ini adalah motor 2 tak. Berbeda dengan Lambretta yang disupply oleh Dell Orto, karburator yang menyuapi mesin NSU Prima D adalah Bing, supplier karburator Jerman yang juga dipercayai BMW sebagai produsen karburator untuk motor-motor BMW.