010_Hertrampf_Ducati_Desmosedici.jpg.3923888

Tahun 2008 lalu, Ducati mengejutkan fans motor balap dunia dengan menjual barang “ga kebeli” secara umum. Supaya barang eksotis ini bisa kebeli (sama agan-agan-red), tentu beberapa material tidak sama plek dengan yang digeber Casey Stoner di lintasan MotoGP. Yup, Ducati menjual tunggangan Casey Stoner ini seharga 61.500 Euro saja dan dibatasi 1500 unit saja. Secara jumlah, 1500 unit itu banyak jendral… Secara harga, 61.500 Euro itu juga murah gan… Bandingkan dengan satu unit motor yang siap diterjunkan di WSBK, ya minimal sampeyan kudu sedia kocek 80000 Euro kalau mau kompetitif.

Di Indonesia, motor ini tentu super exotis, kalau tak salah hanya ada 3 unit. Dari pantauan gaib, saking mahalnya, pemiliknya tentu sayang memakainya untuk happy-happy.. Beda dengan di Jerman sana, 61.500 Euro tak terlalu besar bagi mereka (yang berduit-red). Jadi, ada saja yang menggebernya di sirkuit lumayan pol-polan. Beberapa bahkan terpantau sudah terjatuh di lintasan. Harganya juga tak terlalu naik, masih stabil di kisaran harga barunya, jadi minimal tak jatuh lah. Beberapa sih turun, tetapi masih di 55.000 Euroan.

Salah satu yang mengotak-atik Desmosedici adalah si Om Hertrampf. Motor yang aslinya 61.500 Euro itu kini harganya jadi  130.000 Euro wkwkw.. Kapok ga tuh, sudah bisa beli Ferrari Bro.. Biaya modifikasi motor level dewa ya tentu juga selangit. Nah, apakah tenaganya melonjak tinggi? Tidak tuh wkwkw..

Namun, aura ini motor tentu jauh beda dengan superbike lainnya. Bunyinya membangunkan gairah para pembalap hobi, hingga yang mendengar motor yang digeber di Hockenheim ini pada berkumpul untuk menyaksikan tariannya di atas aspal sirkuit. Sebenarnya nekad juga ya si pemilik mempercayakan Om Hertrampf mengotak-atik Desmosedicinya ini. Namun, karena satu visi bahwa segala sesuatunya bisa dibuat lebih baik, bahkan motor sekelas MotoGP, doi mempercayakan kemampuan si tunner.

Apa saja sih yang dilakukan Denis Herttrampf? Ia mengoprek mesin V4, kepala silindernya kena sentuh dan aliran gas bakar diukur dengan flow bench. Timing pengapian motor yang kemnya gear driven ini juga diubah. Mesin motor pun kini memiliki kompresi lebih tinggi dibandingkan versi standarnya. Doi juga mengubah airbox dan mengganti knalpot sang kuda liar dengan produk Termignoni. Ubahan ini membuat motor lebih enak dipakai harian. Yup, Desmosedici kan motor sirkuit tulen, tentu kurang nyaman dan cocok karakternya dengan jalan raya. Tenaga Desmosedici pun lebih keluar di putaran yang lebih rendah.

Mengendarai Desmosedici sama sekali tak mudah, bahkan bagi pengendara superbike sekalipun. Saat pindah gigi dengan rpm terjaga dan gas dibuka, ban depan langsung lepas landas. Pengendara Desmosedici tak lagi disebut rider/biker, mereka mulai disebut “Pilot” di dalam teks asli majalah online Motorrad ini. Istilah ini setara lah dengan “pembalap”. JAdi, kalau naik Desmosedici, feeling balapnya benar-benar maksimal. Tak hanya bunyinya, akselerasinya, balancenya, dan karakternya menuntut rider lebih banyak meletakkan bobot di tangannya untuk menekan bagian depan motor yang sangat mudah “take off”.

 Sebenarnya feeling ini bukan didapatkan dari power mesin saja, ingat, powernya masih disunat di bawah 190 PS, jadi ya bahkan masih di bawah S1000RR atau ZX-10R. Feeling ini lebih didapat dari penggunaan sasis asli MotoGP Ducati tahun 2006. Pengendara benar-benar dipaksa merunduk karena setang letaknya sangat rendah. Untuk menaklukkan tikungan, pengendara tidak cukup pakai tangan dan kaki saja, tetapi benar-benar dituntut “main badan”. Kalau tidak begitu, motor akan keluar jalur… jadi sama-sekali tidak rider friendly… tak heran, butuh talenta besar untuk menjinakkannya. Ya, begitulah kata sang tester…

017_Hertrampf_Ducati_Desmosedici.jpg.3924014

Hertrampf-Ducati Desmosedici D16RR Stoner_Daten.jpg.4001452

Kalau soal mesin saja sih, sudah pasti ganas. Rem juga tak perlu diprotes, maklum, kualitas numero uno Brembo bisa dinikmati di Desmosedici. Namun, untuk mengendalikan motor berbobot 183 Kg bertenaga 187 PS ini sama sekali tidak mudah. Si tester bahkan mengatakan, memang potensi motor untuk lebih cepat di sirkuit sangat banyak, tetapi ridernya yang tidak sanggup. Dengan Yamaha R6 yang ready to race dengan settingan sempurna, doi merasa dirinya bisa lebih cepat di sirkuit dibandingkan jika harus mencari laptime yang lebih cepat menggunakan Desmosedici D16RR Stoner ini.

Hmmm, barangkali dia takut terjatuh….

http://www.motorradonline.de/einzeltest/hertrampf-ducati-desmosedici-d16rr-stoner-im-test-technische-daten-hertrampf-ducati/629760?seite=2