Salah satu kelemahan motor jadul yang diperbaiki di masa kini adalah pergesekan komponennya. Motor-motor baru berupaya memperoleh tenaga lebih besar dengan meminimalisir sesedikit mungkin pergesekan antar komponen. Akhirnya, penggunaan material, desain komponen dan peningkatan teknologi pelumas menjadi jalan keluarnya.

Sebagai pengguna dan penggemar motor, saya pernah sempat memodifikasi kem GL100 saya. GL100 memiliki kem yang belum dilengkapi dengan bearing. Nah, dengan modifikasi pemasangan bearing di kem, diharapkan kem bisa berputar lebih ringan yang ujung-ujungnya bisa meningkatkan tenaga mesin. Hasilnya bagaimana? Ya tak tau juga sih ahahah..maklum, kan saya tidak membandingkan rasanya si motor berkem tanpa bearing bagaimana. Jadi, begitu GL100 selesai dibangun, mesinnya sudah mengadopsi kem berbearing.Puas deh..hingga suatu hari di fly over Pasar Minggu terdengar letupan dari mesin dan mesin menjadi bersuara sangat kasar. Namun, motor masih mau hidup dan bisa sampai ke tujuan di Tanjung Barat. Setelah ada urusan ini-itu, motor malamnya masih bisa digeber ke Depok. Ya, tentunya dengan hati-hati dan dengan kecepatan rendah.

Besok paginya, motor sudah tak mau hidup sama sekali ketika mau dibawa ke bengkel. Singkat kata, kemnya yang jebol. Jadi, daging yang dibubut dan tersisa untuk pemasangan bearing menjadi terlalu tipis. Di situ saya baru tahu, di dalam kem ternyata kopong haha.. jadi seperti pipa! Nah, karena dipasang bearing dan ketipisan, akhirnya merotorl deh bagian yang terpasang bearing itu.

Akhirnya, GL100 kembali pakai kem standar tanpa bearing. Tarikan terasa lebih berat, yup, power mesin berkurang signifikan, putaran enggan bergasing tinggi. Jadi, sebenarnya baik-baik saja sih kalau mau pasang bearing di kem, tetapi pastikan badan kemnya masih cukup tebal.