IMG_20150618_213353

Banyak orang yang belajar bahasa asing ataupun ilmu hubungan internasional dengan cita-cita menjadi ambassador. Ada juga yang rajin merawat kecantikan atau olahraga giat dan ikut casting untuk menjadi brand ambassador. Yang tak sanggup melakukan itu ya cukup menghabiskan waktu di Mall Ambassador hihi..

Sebenarnya kita akan menjadi ambassador alias duta di manapun. Kalau situ terkenal sebagai orang dari suatu daerah, maka kita akan dianggap merepresentasikan orang-orang asal daerah kita. Terlebih lagi kalau kita ada di luar negeri. Orang-orang asal negara lain yang bertemu kita di luar negeri akan menganggap, karakter orang Indonesia seperti karakter kita. Ya, begitulah kerja otak yang otomatis akan menyederhanakan semua info yang masuk, dan dari situlah muncul yang namanya stereotip.

Namun, tak harus negara, kita juga bisa menjadi ambassador agama kita. Dari sebuah ceramah di suatu mesjid yang paling sering saya kunjungi, si penceramah bercerita bahwa dia membuat penelitian. Ia mempertanyakan, alasan apa yang membuat seorang mualaf masuk Islam. Jawaban yang paling banyak adalah: saya kenal seorang muslim dan mengagumi karakternya. Ya kira-kira intinya begitulah… Mayoritas mualaf masuk Islam bukan karena baca buku, bukan karena tontonan tentang Islam, tetapi dari pribadi Muslim yang dikenalnya.

Oke, sekarang kita beralih ke lain konteks. Alhamdulillah di bulan Ramadan ini saya bisa hampir tiap hari solat tarawih di mesjid. Alhamdulillah juga, karena kerajinan saya dan tim saya, saya selalu hampir ada di front row hehe.. Lama-lama, ada satu bagian front row favorit saya, dan saya lihat, orang-orang lainnya juga punya tempat favorit masing-masing. Seiring waktu, mulai kenal-kenal tampang lah…

Nah, ada seorang bapak tua bercelana kutung dan berbaju muslim yang suka hadir di front row juga. Beliau biasanya hadir menjelang azan isya dan membawa tas kecil. Janggutnya panjang, berpeci dan sudah lumayan berumur. Dari posisi kaki saat hendak sujud bisa dilihat, beliau mulai termakan usia. Dalam hati, wah saya ingin kalau setua beliau masih bisa solat dan tak malu dengan fisik yang sudah kewalahan untuk solat berjamaah.

Kemarin, beliau membawa air minum kemasan gelas yang diminumnya di antara solat isya-tarawih… Setelah tarawih usai, saat yang lain masih duduk, seperti biasa, beliau bergegas pergi… kali ini saya lihat gelas plastik ditinggal begitu saja… haduuuh.. kenapa jadi kepikiran ya, saya sebal dengan orang yang hobinya buang sampah sembarangan. Nah, yang ini kok main tinggalin sampah di mesjid? Dan dia bukan satu-satunya yang begitu…