Suzuki GSX 250 R auf der EICMA 2016.

Jujur saja, ketika tahu bahwa mesin GSX-250R adalah mesin Inazuma tanpa ubahan dan bobot motor ini versi ABSnya 181 Kg, Blog Sesat menentang keras motor ini dijual di Indonesia. So ekstrem ya, ya biarlah hehe… Ga rela banget nama GSX-R dibuat jadi hancur demi memasarkan motor yang jelas-jelas hanya akan jadi bulan-bulanan di sisi performa.

Bayangkan saja, bobotnya belasan Kg lebih berat dibandingkan motor kompetitor, tenaganya pun belasan PS lebih loyo jika dibandingkan R25 dan CBR 250R di atas kertas. Mau dikasih knalpot racing, piggy back pun tenaganya masih belum nguber!

Suzuki GSX 250 R auf der EICMA 2016.

Tapi itu dulu, setelah masuk klinik tong punk, saya berubah pikiran!

Maksud saya, setelah melihat wujud aslinya, meskipun via foto, wah sayang banget kalau ini motor tidak bisa diperoleh di Indonesia dengan harga yang wajar. Apalagi kalau dijual setara produk 250cc single silinder, GSX-250R masih punya masa depan! Toh kita tak bisa tutup mata, motor ini punya keunggulan katanya dalam kenyamanan, konsumsi bensin 3 liter untuk menempuh 100 Km hingga total jarak tempuh diklaim bisa 480 Km dengan tanki 15 liternya.

Tunggu, saya belum selesai..

Saya akui, kedua paragraf teratas itu terlalu egois. Saya terlalu menilai dengan kacamata indonesiasentris! Dan itu sebenarnya sebuah keterbelakangan! Banyak dari kita tak cukup dewasa di sini dengan melihat segala sesuatunya secara sepihak saja. Toh yang buat Suzuki, bukan kita… Dan mereka tak (atau belum) menjual motor ini di Indonesia! Kalaupun mungkin, ya alhamdulillah!

Penjualan Inazuma yang tak memuaskan tentu jadi pertimbangan, belum lagi persaingan mulai berdarah-darah di 250cc. Plus pasar kita yang belum dewasa, termasuk saya hehe..

Nah, kalau kita pikir lagi, di sini salahnya: Buat negara-negara yang moge itu bisa didapat dengan pajak yang wajar, mereka hanya akan membandingkan motor supersport dan superbike buat performa balap! Di situ gengsi dipertaruhkan! Mereka tidak akan banyak menuntut sebatas performa mesin saja di kelas di luar dua kelas itu.

Di Indonesia, 250cc twin adalah “superbike”nya. Makanya, yang kalah ujung tombaknya, rasanya yang di bawah-bawahnya berisiko dianggap ikutan “kalah”. Karena itulah, fans motor di tanah air, terutama fans Suzuki rasanya gak terima kalau flagshipnya loyo! Bebek super paling kencang, sport 150cc paling kencang, masa 250ccnya impoten??!

Kalau di Jerman misalnya, mereka ga ambil pusing bahwa GSX-250R loyo, toh memang buat pemula, bukan buat balap! Sekencang-kencangnya motor 250cc, tetap bukan siapa-siapa di hadapan motor supersport 600 cc terlemot sekalipun! Mereka tak pernah mengganggap ini motor balap, sama saja dengan R3 dan Ninja 300. Mereka lebih melihat motor secara utuh, bukan sebatas power dan top speed. Toh GSX-250R sudah ditujukan untuk pemula, untuk yang sudah lama tidak naik motor, untuk yang mau irit dan naik motor santai! Bahkan dikatakan enaknya di kecepatan 20-90 Km/jam.

Ya begitulah kira-kira, kenapa Suzuki kesannya santai-santai saja seakan tak niat membuat GSX-R 250 sebagai motor kencang.

Sumber info dan foto:

http://www.motorradonline.de/motorraeder/suzuki-gsx-250-r-auf-der-eicma-2016/794978?skip=2#1-794894

Iklan